Monolog

Pembunuh Tanpa Bayaran – Monolog Whani Darmawan

Tahukah kalian, mengapa saya menjadi Pembunuh Tanpa Bayaran? Karena saya mencintai setiap manusia. Mungkin kedengaran mustahil tetapi masuk akal. Hanya mereka yang tidak memiliki akal tak mungkin akan bisa mengerti apa yang saya maksudkan.
Sodara-sodara, aku harus bercerita untuk menjelaskan semua ini. Apakah sodara-sodara tahu perihal kehalusan budi? Seorang kaisar pernah bercerita kepada saya bahwa dunia tak ramah. Orang baik dituntun untuk menjadi jahat karena keadilan yang sebenarnya tak pernah ada. Yang ada hanyalah kekuasaan. Hukum rimba. Berat buat saya mengambil keputusan seperti ini, tetapi saya sadar ini adalah tuntunan kepada hidup saya. ini adalah sebuah pencerahan. Mutlak.
Tahukah anda, salah satu kesalahan yang dilakukan oleh orangtua saya kepada saya adalah bahwa mereka percaya pada budi baik. Kedua orangtua saya adalah seniman tradisional. Ia mempercayai bahwa segala sesuatu bisa berawal dari kesenian. Karena katanya kesenian mengajarkan kehalusan budi. (MENGERANG) Ooooohh……tahukah anda, saya sangat menghormati pandangan itu! Kedua orangtua saya sangat fasih melafalkan soal kehalusan budi dengan teori-teori dakik yang ia percayai. Sekarang saya ingin mengatakan bahwa hal itu benar, tetapi kehalusan budi bukan filsafat kekalahan. Hampir sepanjang hidup saya tubuh dan jiwa saya mempercayai itu. Jika sedikit saja pikiran saya bergolak membantah, tubuh saya tak dapat menerima. (MENGUTUK DIRI SENDIRI) Oooh siapa yang menyuruh memisahkan cara kerja tubuh, pikiran dan perasaan. Mengapa mereka senantiasa bertengkar dalam diri saya. mungkin karena saya dikarunai kecerdasan yang berlebih hingga darah saya tak dapat tunduk begitu saja oleh pendidikan kebudayaan yang diajarkan oleh kedua orangtua saya. kata para pandai, bukankah kebudayaan itu sesuatu yang dinamis dan terus tumbuh? Mengapa saya harus percaya pada soal budi baik yang katanya terus akan merajaai kedamaian hidup sepanjang peradaban!? Mengapa!? Pikiran saya tak ingin percaya, sayagnya darah saya sepanjang separuh hidup saya telah dialirkan dan dipompa dengan doktrin kehalusan budi itu! Bukankah setiap orang berhak atas hidupnya sendiri, pikirannya sendiri, perasaannya sendiri, keputusannya sendiri!? Mengapa saya harus merasa berdoasa telah melakukan semua ini!? Bangsaatt!! Bangsaattt!! (TERCEKAT) maaf, saya tidak sedang mengutuk kedua orangtua saya, saya mengutuk pengkhianatan akal terhadap perasaan, perasaan terhadap tubuhnya! Mengapa saya menjadi orang yang terbelah seperti sekarang ini!? Sungguh sesuatu yang memusingkan! (TERDIAM. TOKOH KITA SEPERTI TENGAH MERENUNGKAN SESUATU)
Ternyata, dalam perjalanan hidup saya, bersamaan dengan tumbuhnya teknologi, gadis-gadis berbikini pergi dini hari ke rumah-rumah minum, ditingkah suara musik menggelegar yang kuping belum tentu membutuhkan pendengaran, saya tidak mempercayai bahwa budi baik akan berjaya. (BERGETAR) suatu hari, saya mengalami guncangan dalam hidup saya ketika seorang yang dengan kategori sahabat mengajak saya untuk menyisihkan uang masyarakat untuk masuk ke kantongnya. Saya terhennyak. Saya tidak mempercayai hal itu dan saya tak dapat menerima hal itu. Saya memilih untuk menjadi merdeka. Sahabt itu meledek saya….,
“Merdeka? Merdeka dari apa? Tahukah kamu bahwa di abad sekarang ini upaya merdeka itu adalah konyol! Ini bukan zaman ideologi bung! Bukan zaman Sokrates, Plato! Ini abad materialis, di mana segala sesuatu bersandar pada akal! Hidup ini tergantung pada kuasa akal. Siapa yang tak memilikinya, ia akan binasa dimangsa zaman! Dan kauu, adala orang feodal yang idiot! Orang mustahil di abad yang serba riuh ini! Bunuh perasaanmu, supaya kau mengerti abad terkini! Itu syaratnya! Bunuh perasaanmu!”
Sodara-sodara, saya tak mengerti. Saya meninggalkan persahabatan itu dengan berat hati, tanpa saya mengerti bahwa berat hati pun sesuatu yang salah di abad kini.
Saya pergi mencari budi. Tetapi budi di abad kini entah bersembunyi di mana. Di balik gelundungan bumi, barangkali. Di luaran hidup saya, saya senantiasa kepergok dengan orang-orang yang bersikap seperti sahabat saya itu. Dari mereka yang hipokrit dengan sikap malu-malu asu, orang yang diam-diam memuja hipokritas, sampai dengan orang yang terang-terangan mendatangi seseorang dengan tenang, kemudian dengan tatapan lembut yang aneh mengatakan, “Mas, minta uangnya, mas. Daripada saya membunuh situ, lebih baik situ sserahkan dompet situ.”
Bajingan! Ini tak bisa dibiarkan! Saya ingin membiarkan, tetapi itu akan mengganggu hidup saya! (JEDA) Bertahun-tahun kemudian, saya mengembara. Pergi dari satu gua ke gua lainnya, dari satu keramaian ke keramaian berikutnya, dari obrolan satu ke obrolan berikutnya,………satu hal penegasan yang saya temukan ; orangtua saya telah membohongi saya! omongkosong! Tak ada kebaikan di muka bumi ini! Tak ada budi baik di muka bumi ini! Dunia ini diciptakan dengan kaidah yang bertentangan! Omongkosong! Harmoni itu omong kosong! Kekuasaanlah yang menentukan, sebagaimana Tuhan mengacarkan kepada kita dengan kemutlakanNya! (MENANGIS. JEDA)
Sodara-sodara, saya tak mau hipokrit untuk mengatakannya. Jelas tak mudah, tetapi saya tak ingin susah. Keputusan itu telah mengendap begitu lama, berpuluh tahun, untuk saya menyatakan pendapat saya ke dalam laku eksekusi. Dan masa itu pun datang pula. Dalam kalut pikir saya keputusan itu sesungguhnya tak layak disebut keputusan. Tetapi, …..aaah, kenapa saya jadi cengeng! Kenapa saya tak bilang ini sebuah keputusan bulat? Kenapa saya hipokrit! Anjing! Apa salahnya dengan sebuah keputusan? (JEDA) Maaf ibu, maaf bapak, saya sudah dewasa dan saya membuat keputusan saya sendiri. Saya ingin berangkat menjadi penegak keadilan dengan cara saya. Sebab orang tak benar mustahil menjadi sadar jika ia tak dikembalikan nyawanya kepada penciptanya. Maka,…..ya……… saya kemudian menghabisi siapapun yang menurut budi saya itu bukan kebenaran.
Saya tak tahu, sudah berapa orang yang tewas di tangan saya. Baik dengan tangan kosong maupun dengan senjata, baik pertarungan gentleman maupun keputusan sepihak dari saya. saya tak peduli. Ada yang patah lehernya, ada yang bekas pukulan membelesak di jantungnya, ada pula yang seolah tanpa bekas —- padahal kepala bagian belakangnya saya sikat dengan pukulan jenggung saya di bagian belakang kepala dan baru tewas satu bulan kemudian setelah mengalami gegar otak. Saya meyakini, saya tak perlu merasa bersalah.
Setelah puluhan korban jatuh di tangan saya, semalam saya menerima undangan perkelahian tertutup dengan target sampai mati dari seseorang yang menamakan dirinya ‘penyelamat kehidupan. Berbeda dengan undangan serupa lainnya yang tanpa alasan, kali ini saya agak tergetar. Itu karena ia menamakan diri sebagai penyelamat kehidupan. (JEDA) kenapa saya gundah? Oh, rasa-rasanya tiba-tiba saja saya menjadi kembali ke masa kecil saya ketika saya masih berada di ketiak kedua orangtua saya. kesenian, budi baik, pikiran baik-perasaan baik-ucapan baik-tindakan baik. Kenapa? Kenapa? (BERTERIAK SANGAT KERAS) Keeenaaapaa sayaaa risaaauuuuuuu!!!???
TOKOH KITA TERKULAI DI SATU SUDUT. BEBERAPA SAAT LAMANYA KEMUDIAN IA BANGKIT. BERKATA LIRIH,…..
Pengundang itu memberikan nomor whatssap-nya. Ketika saya tanya kepadanya apa alasan ia menantang ingin membunuh saya, ia menjawab dalam whatssap-nya pendek, “Saya pembunuh tanpa bayaran. Saya membunuh berdasarkan rasa tak suka dan ingin mengurangi polusi kehidupan di dunia!”
(TOKOH KITA TERSENGAL-SENGAL)
Baiiklaaah, haiii siapapun yang di sana. Kita buktikan, siapa yang layak disebut polusi dunia.
(TOKOH KITA MENYIAPKAN PIRANTINYA YANG BERUPA PISAU, PEDANG, RANTAI GIR, DAN SEMACAMNYA DALAM SATU TAS. TETAPI BEBERAPA SAAT KEMUDIAN IA MELETAKKAN KEMBALI)
Tidak, saudara-saudara. Ini pertarungan terhormat untuk memperebutkan juara siapakah yang paling berbudi di antara kami. Tak pada tempatnya saya mencabut nyawa seseorang dengan senjata. Saya ingin melakukannya dengan tangan kosong. Karena sama dengan saya, saya menghargai tantangan ini karena ia bukan pembunuh dengan bayaran! Selamat malam. (BERLALU BEBERAPA LANGKAH, BERHENTI DAN BALIK KEMBALI) maaf, saya tak butuh doa anda. Nyawa itu Cuma tai yang lewat setelah ia keluar dari dubur kemudian diguyur. Saya pergi. (OUT STAGE).
LAMPU PADAM
Omahkebon, dini hari 02.27.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.