Teatrika

Perihal Olah Tubuh (III) ; Pengetahuan Anatomi

Jurnal Seni Peran Whani Darmawan

Mungkin sebagaimana anak kebanyakan (atau jangan-jangan cuma saya?) segala pengetahuan yang pernah diajarkan di sekolah sebenarnya otentik untuk dibawa bekal kehidupan mendatang, tak ketinggalan untuk bidang studi pemeranan. Bagi saya penting untuk menandaskan bahwa ilmu pemeranan adalah ilmu yang komprehensif-holistik meliputi berbagai macam pengetahuan ‘dari ujung kembali ke ujung.’ Saya dan juga Anda, Pembaca, pasti ingat bagaimana pengetahuan dasar tentang ilmu pemeranan merujuk berbadai bidang ilmu sebagai dasar pokok pengetahuan umum aktor. Bahkan seingat saya dalam catatan legendaris pengajar Teater di Indonesia di mana banyak terangkum berbagai pengetahuan pemeranan yang ada, dalam formula analisis karakter seorang aktor wajib mengetahui kondisi sosiologis, psikologis, ekonomi, kultural, edukasi, dan fisiologi tokoh. Hal itu semua dibutuhkan untuk menentukan titik pijak seorang aktor memasuki peran/karakter. Pengetahuan dasar maisntream tersebut kemudian terbawa dalam ‘penelitian serampangan’ saya dalam memainkan karakter. Hal itu juga memicu ‘othak-athik-gathuk’ holistifikasi keilmuan dalam studi seni peran.

Dalam menyoal tubuh, perjalanan pembelajaran saya dimulai dari SMKI Negeri Yogyakarta jurusan Tari, baru kemudian beralih ke teater. Sewaktu saya mempelajari seni tari Jawa Mataraman Ngayogyakarta sama sekali tak terpikir bahwa kelak hal itu punya investasi besar dalam studi pemeranan di teater. Semakin banyak belajar dari pengalaman dilatih oleh para senior, dipertemukan dengan beragam keilmuan gerak semakin muncul pertanyaan-pertanyaan otentik yang barangkali bahkan hingga diturunkannya tulisan ini belum lagi terjawab. Rasanya babagan pembelajaran keilmuan selalu mengenal peribahasa ‘semakin dalam semakin tak diketahui dasarnya.’ Jika kesadaran ini benar – bukan berarti dalam kehampaan ketika kita menempuh segala sesuatu – tetapi kesadaran untuk aktif di setiap pos ‘pemberhentiannya.’ Jika tak disikapi demikian, ilmu tak pernah menciptakan laku. Pada kesadaran inilah saya berani menuliskan kembali pengalaman yang memang belum seberapa.

baca juga : Perihal Olah Tubuh (II) : Ragam Olah Tubuh

Terbetik dalam pikiran untuk menulis perihal pentingnya pengetahuan anatomi tubuh. Banyak perilaku eksperimentatif yang dilakukan aktor selama ini terhadap tubuh yang secara analitik sebenarnya perlu dipertanyakan karena dicurigai hal itu menabrak tatanan metabolisme dan cara kerja kosmologi tubuh. Tentu saja itu bisa membahayakan kesehatan. Salah satu contoh konkret adalah latihan yang pernah saya alami tigapuluh satu (31) tahun yang lalu dalam suatu lakon yang kala itu disutradari oleh seorang teman. Kami menempuh latihan dari pukul 19.00 wib hingga pukul 06.00 wib dengan agenda repetisi per bagian dan full play. Kala itu memang berasa bombastik apa yang kami lakukan tanpa memperhitungkan bahwa sesungguhnya model latihan semacam itu ‘tidak normal’ dan membahayakan kesehatan. Tapi itulah perilaku umum yang kemudian ternyata banyak saya temui di kalangan teaterawan. Di luar yang kami lakukan, banyak grup teater yang ternyata juga berperilaku sama. Bahkan lebih “gila”.

 

Mengalami, memperhatikan, menyimak perilaku tersebut terbetik pertanyaan, apakah yang dilakukan itu seturut kehendak alam? Apakah alam tidak pernah mengisyaratkan cara kerja mikrokosmos yang setara dengan alam makrokosmos? Siang dan malam memiliki cara kerjanya yang masing-masing spesifik, bahwa malam adalah waktu istirahat dan siang adalah waktu tubuh bekerja. Membalik cara kerja alam sepengetahuan saya bukankah beresikio pada kesehatan? Konon cara kerja tubuh manusia (mikrokosmos) setara dengan cara kerja semesta raya (makrokosmos). Mengapa siang menjadi waktu kerja dan malam menjadi waktu istirahat? Mengapa seorang ahli kesehatan tubuh mengatakan bahwa waktu bagus untuk mengembalikan metabolisme sel tubuh adalah pukul 21.00 sampai dengan pukul 00.00?

Mengapa seorang Tadashi Suzuki yang demikian disiplin dengan latihan keras di siang hari, tetapi juga menginstruksikan kepada aktornya secara ketat untuk tidur pukul 21.00 waktu setempat? Penghargaan kepada tubuh, penghormatan terhadap kreativitas perlu berpadu secara harmoni, kecuali hasrat eksperimental terperhitungkan dengan sengaja ingin uji coba paradigma kuasa kosmologis tersebut terhadap cara kerja tubuh, atau soal lain misalnya; peran sugesti.

Sementara, pintu masuk pemahaman anatomis bisa bermula dari olah tubuh bentuk apa saja. Misalnya, dalam Yin Yoga. Dalam Banana pose atau posisi pisang; tubuh telentang, tangan lurus ke belakang kepala, dan tubuh dilengkungkan ke kanan/kiri bergantian mengaktifkan meredian empedu. Setubandha Konasana (tiduran dengan telapak kaki menyatu lutut terbuka), dengan stretching pangkal paha dan paha bagian dalam mengaktifkan meredian limpa, hati dan ginjal. Leg stretching with strap, stretching hamstring mengaktifkan meredian kandung kemih.[1] Tersurat hanya sekedar contoh. Jika informasi Yoga yang oleh sementara orang dianggap sebagai pseudoscience dan bukan science — (kok bisa hidup beribu tahun ya) – tak cukup valid, maka ilmu anatomi dalam disiplin kedokteran boleh menemani untuk membuktikan.

 

Menyimak kasus tersebut, kemudian terpikir oleh saya bahwa pembelajaran seni peran adalah sesuatu yang subtil. Sayangnya dalam sistem pendidikan seni kita (Sekolah Menengah Kejuruan Seni atau Institut Seni) kurang menyediakan hal ini. Tak ada maksud menyalahkan. Mungkin tak mudah merumuskannya dalam kepentingan praktis kurikulum.  Jika saya merasa penting hadirnya pelajaran anatomi sebenarnya memang ingin menyumbang pada pemikiran struktur materi pendidikan. Pengetahuan anatomi akan mendekatkan kita pada logika cara kerja tubuh, sehingga metodenya dilahirkan berdasar perhitungan cara kerja tubuh. Sayang, di masa lalu – (atau bahkan di masa kini), para kreator/seniman sering memanjakan libido kreativitasnya dan seolah-olah sugesti itu hal yang luar biasa, mengatasi ketentuan cara kerja tubuh itu sendiri. Pikiran, perasaan, dan tubuh memang terhubung. Sugesti berperan penting dalam melawan justifikasi negatif atas tubuh. Tetapi dalam takaran tertentu itu tidak otentik. Tubuh memang paling sangat berperan menyangga pekerjaan. Pelajaran anatomi adalah strata dasar penting yang perlu dipelajari bagi pengetahuan seni peran, sub bagian olah tubuh, supaya kita terjauhkan dari kebutaan logika. Untuk menjadi aktor memang tak perlu mengantongi ijasah kedokteran, tetapi upaya belajar untuk mengetahui segala sesuatu terkait adalah hak setiap orang. Apalagi aktor. (bersambung) ****

[1] Paparan Dilla, Pengajar Yin Yoga di Omahkebon Nitiprayan.

One thought on “Perihal Olah Tubuh (III) ; Pengetahuan Anatomi”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.