Teatrika

Perihal Olah Tubuh (V) : Olah Tubuh Kelenturan

Jurnal Seni Peran Whani Darmawan

Kelenturan menjadi materi penting untuk seorang aktor dengan alasan supaya otot memiliki fleksibilitas terhadap gerak dan menjauhkan pemeran dari kecelakaan. Sub kegiatan olah tubuh yang penting dilakukan dalam hal ini adalah Yoga (senam, stretching) ‘Gerak Pembebasan’ dengan irama musik dan pantomime. Gerak Pembebasan adalah istilah saya. Suatu istilah untuk menamakan suatu aktifitas tubuh yang bergerak murni tanpa ada pretensi bentuk mainstream dari suatu kecenderungan format gerak tertentu. Ragam tari, misalnya. Hal ini bertujuan untuk mencapai suatu keruhanian gerak yang ‘murni’ dan membebaskan tubuh dari penjara norma.

Ada suatu link video menarik di Youtube bagaimana menggambarkan perbedaan kebiasaan berolatubuh berefek pada fokus pembentukan hal tertentu, yakni dihadirkannya para body builder dalam kelas Yoga. Body building dan Yoga memiliki fokus yang berbeda dan nyaris bertolak belakang. Body building cenderung pada perkuatan dan pembesaran otot. Bahkan seorang instruktur di mana saya pernah nge-gym mengatakan, pencapaian tubuh bagus (dalam versi gym) adalah dengan cara melatih otot, bahkan secara sarkas merusaknya (pembesaran sisi tertentu dalam tubuh yang dimaksudkan dengan mengorbankan otot dipecah). Menjadi masuk akal para atlit gym harus mengkonsumsi makanan tertentu (protein) untuk memberi nutrisi pada otot supaya bentuk tubuh bisa maksimal tanpa sungguh-sungguh membiarkan otot menjadi rusak. Bagi mereka yang bekerja keras dalam gym tanpa mengimbangi nutrisi sangat berbahaya terjadi efek-efek yang tak diinginkan, semisal otot-otot kecil bertonjolan keluar sebagaimana dalam penyakit farises.

baca juga : Perihal Olah Tubuh (IV) : Olah Tubuh Ketahanan

Kembali ke ilustrasi, para body builder yang masuk kelas Yoga itu sangat kepayahan dalam menjalankan ‘jurus-jurus’ Yoga. Tak bisa melakukan cium lutut (Pascimotasana), lebih-lebih rerakan sulit lainnya. Hal ini membuktikan bahwa fokus yang dijalani setiap sub kegiatan tubuh memang berbeda.

Kelenturan yang dibangun oleh tradisi Yoga, tentu saja bukan untuk dimaksudkan gaya-gayaan pencapaian seseorang bisa melakukan gerakan sulit dengan melipat-lipat tubuh semacam Garbha Pindassana atau Supta Kurmassana, tetapi targetnya adalah pelenturan otot dan tubuh itu sendiri. Hal ini modal penting untuk membawa aktor ke dalam olah tubuh sub pantomime atau moodie dance berikut ini, atau bahkan sub olah tubuh ketrampilan yang akan dibicarakan sesudah sub kelenturan ini.

Untuk itulah pantomime menjadi sangat penting untuk mengaplikasikan kelenturan tubuh dalam komunikasi non verbal melalui media tubuh, bagaimana menggagas dalam pikiran kemudian dialihkan ke dalam bentuk hingga penonton mengerti yang dimaksudkan. Sementara ‘Gerak Pembebasan’ untuk melatih penyatuan rasa dengan raga itu sendiri, memberikan sumbangsih untuk merombak struktur mainstream gerak yang dimiliki oleh seorang aktor. Seorang aktor secara personal manusiawi pasti memiliki kecenderungan. Kecenderungan ini bisa melahirkan narcisme yang tak penting jika aktor menyadari kekuatan kecenderungan itu dalam permainan. Karena hal ini akan membuat aktor enggan beranjak dari kekuatan – yang sesungguhnya bisa menjadi salah satu sumber kelemahannya. Gerak Pembebasan hadir untuk melawan kecenderungan ini.

One thought on “Perihal Olah Tubuh (V) : Olah Tubuh Kelenturan”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.