Teatrika

Perihal Olah Tubuh (VII) : Olah Tubuh Kepekaan

Jurnal Seni Peran Whani Darmawan

Sebagaimana yang pernah saya tulis dalam artikel-artikel terdahulu. Satu jenis olah tubuh bisa dipakai untuk beberap fokus, tergantung fokus apa yang diinginkan. Apa contohnya? Dalam melakukan salah satu asana Yoga, Tadasana, misalnya, salah satu tujuannya bisa saja melatih fokus hamstring. Adakah fokus lain yang bisa dijadikan contoh dalam hal ini? Dalam melakukan asana Yoga supaya konsentrasi bisa terbangun dengan baik pernapasan harus dijaga kesinambungannya. Untuk melakukan kesinambungan itu ada yang disebut ujay breathing. Ujay breathing adalah cara menarik napas melalui hidung dan dikeluarkan melalui/ antara mulut dengan hidung seolah dijepit oleh tenggorokan yang menghasilkan bunyi yang mendesah ……………..eehhhhhhhh. Apa  kepentingannya? Supaya konsentrasi kita terbantu dengan mendengar napas sendiri tersebut.

Satu contoh lagi. Dalam latihan PGB Bangau Putih ada yang disebut Pahong atau Pukulan Angin (kosong). Dalam melaksanakan pahong biasanya kaki melakukan posisi kuda-kuda depan belakang. Secara umum kuda-kuda model seperti ini juga dimiliki oleh banyak perguruan silat. Posisi ini sama persis dengan asana-asana dalam Yoga. Misalnya, Warior I, Warrior II, sebenarnya sinergi untuk melatih cakra dasar. Ketika pahong dilakukan yang berefek pada kerasnya otot lengan, terolahnya jantung dan paru-paru, otomatis juga melatih cakra dasar.

baca juga : Perihal Olah Tubuh (VI) : Olah Tubuh Ketrampilan

Bagaimana dengan Olah Tubuh Kepekaan (OTK)? OTK adalah olah tubuh yang ditujukan untuk membangun kepekaan permainan. Kepekaan yang dimaksudkan tentu saja bisa bersifat verbal maupun dalam rangsang tubuh. Verbal artinya melalui langsung kata-kata. Pada keduanya pemicu awalnya sama, yakni tergeraknya emosi atas rangsang dan peristiwa.

OTK ini sangatlah penting setelah calon pemeran mengenal pelatihan-pelatihan olah tubuh dasar sebelumnya, sebab OTK akan lebih riil mengenalkan lebih dekat sejengkal dari pelatihan dasar tubuh pada aplikasi emosi, dan selanjutnya adalah peristiwa dengan struktur sebab akibatnya.

Pembelajaran OTK dimulai dari tubuh aktor secara personal. Aktor menyadari pembelajaraan kepekaan ini melalui siluence meditation, moving meditation. Bergerak secara lambat itu akan lebih menyadari pergerakan dalam diri. Perasaan, pikiran, aliran darah, degup jantung, atau tiba-tiba kepekaan terhadap unsur luar pun terbuka ; suara motor, cicit burung, desir angin, dsb. Dalam tahap ini baik juga kita misalnya mengambil referensi dasar dari olah tubuh beladiri Systema dari Rusia. Memahami gerak persendian, geliat otot dengan gerak yang gemulai meditatif. Hal ini sama dengan yang dilakukan oleh ‘anak produk’ PGB Bangau Putih, yaitu Sam Poo Kun, dengan melatih kesadaran persendian ; bahwa setiap jengkal persendian dan otot memiliki kinerja sendiri.

Baru kemudian pada tahap ke dua adalah latihan berpasangan. Latihan berpasangan ini mengambil bentuk yang paling dasar adalah menyadari hadirnya ether/ energi dari telapak tangan. Caranya, kedua telapak tangan saling digosokkan kemudian didekatkan pada tubuh pasangan. Dalam jarak 2-5 cm pasangan merasakan hawa hangat yang keluar dari telapak tangan  tersebut. Jika hal itu sudah bisa dikembangkan dengan cara menyentuhnya secara perlahan. Mulai dari organ yang lebih bersifat sosial yaitu tangan hingga hal-hal yang sensitif vital personal (tentu dengan kesepakatan bersama).

OTK  berlanjut dalam pengembangan yang jauh lagi. Dalam banyak cabang beladiri sebenarnya memiliki metode seperti ini. Kalau dalam referensi PGB Bangau Putih ada metoe dasar tui cu (bertarung) yaitu dengan Gerak Feeling. Hal ini juga setara dengan pelatihan permainan Madi-Syahbandar dalam Cikalong, atau Atari-Awase-Musubi dalam Aikido. Gerak berpasangan ini dalam kenyataan latihan di grup-grup teater profesional, tari maupun beladiri banyak dikembangkan. Kalau di teater atau tari misalnya sering dikembangkan menjadi gerakan mirorring (bercermin), atau gerak berpasangan searah di mana pasangan satu bergerak dan pasangan yang lain mengikuti, atau gerak kontradiktif di mana pasangan satu bergerak ke kanan dan pasangan ke dua melawan dengan gerak sebaliknya.

Manfaat yang dibangun dari gerak berpasangan ini akan menimbulkan progresi emosi. Dari sini sebenarnya pemahaman teks akan muncul seperti point yang nantinya akan dijelaskan lebih lanjut alam artikel berkelanjutan berjudul ‘Dari Tubuh ke Bunyi/ Suara.’ Tetapi dalam konteks tulisan ini bunyi/ suara tak boleh mendahului tubuh. Biarkan progresi emosi ini muncul dalam pelatihan olah tubuh kepekaan ini.

Pilihan lain dalam bentuk latihan berpasangan ini dengan motif permainan ‘unjuk motif.’ Unjuk motif adalah istilah yang saya gunakan sendiri untuk menunjukkan suatu aktifitas di mana seseorang diam dengan mata berpejam (boleh duduk, boleh berdiri). Pasangan yang lain akan menunjukkan motif tertentu dengan anggota tubuhnya di depan mukanya. Pada saat aba-aba membuka mata berlangsung person yang menutup mata akan diperlihatkan suatu organ tubuh tertentu ; misalnya tungkai persis di depan mukanya, telapak tangan menggegam membuat suatu kepalan pukulan, pantat, dsb. Sebaiknya jika hal ini akan ditempuh diakhiri dengan diskusi ; konfirmasi bagaimanakah perasaan yang berkembang atas latihan tersebut.

Pelatihan olah tubuh kepekaan ini bisa dikembangkan lebih lanjut dengan cara mengeksplorasi gestur dalam komunikasi diam dalam peristiwa kehidupan sehari-hari. Patokannya dengan mengingat suatu statement dalam ilmu komunikasi bahwa kata-kata sesungguhnya hanya sekitar empatpuluh persen dalam berperan mengungkap kejujuran. Peran lain tujuhpuluh persen yang disembunyikan adalah apa yang tak terkatakan. Yang tak terkatakan ini akan menuntun seseorang dalam gestur yang sangat indikatif. Kata-kata bisa saja bilang ya, tetapi mata dan gestur sangat berperan untuk mengungkapkan makna tidak. Pemahaman atas pelatihan seperti inilah yang akan menuntun para pelakon kepada kesadaran non verbal dan tiak bombastis bahwa akting hanyalah kata-kata sebagaimana yang disengajakembangkan oleh industri sinetron kita.

Sampai ketemu di tema berikutnya. ****

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.