Eduteater

Pikiran-pikiran Tentang Pemeranan Part-2

Oleh : Eko Santosa

a. Pemahaman

Kerja pemeranan sesungguhnya adalah kerja pemahaman. Seorang aktor harus mampu memahami dengan baik watak tokoh yang akan ia perankan. Untuk itu ia harus melakukan analisis lakon dan karakter. Ia tidak bisa serta merta memerankan karakter tersebut tanpa menganalisis elemennya dengan pelan-pelan dan bersungguh-sungguh. Pemahaman ini kemudian ia cobakan atau latihkan sehingga kemudian benar-benar terinternalisasi dalam dirinya. Tidak semua aktor bisa bersabar dalam proses pemahaman ini. Bahkan para profesional mengatakan bahwa proses ini merupakan tahapan terberat bagi seorang aktor.

Ketelitian dalam pemahaman sangat dibutuhkan sehingga detil karakter bisa diwujudkan secara natural. Guna memahami watak tokoh, Stanislavsky mengemukakan tentang tujuan utama tokoh yang disebut sebagai super objective. Tujuan utama ini dapat ditelisik dari lakon secara menyeluruh. Kemudian tujuan tokoh itu diuraikan ke dalam tujuan per babak, per adegan hingga sampai unit terkecil yang disebut sebagai bit atau sering pula ditulis dengan beat (lihat Stanislavsky, 2014). Dimulai dari super objective, pemeran harus mendapatkan gambaran tokoh yang akan diperankan secara utuh. Secara umum sering dibagi ke dalam 3 dimensi yaitu fisik, kejiwaan, dan sosial. Bahkan Uta Hagen menguraikan dimensi-dimensi tokoh ini menjadi sekitar 9 pertanyaan. Kesembilan pertanyaan ini akan memberikan jawaban dasar atas penampilan fisik tokoh, watak dasar, posisi sosial, kondisi yang diberikan penulis, watu kejadian, tujuan utamanya dan siapa saja yang menghalangi ia meraih tujuan tersebut, dan bagaimana ia mengatasi rintangan itu untuk mencapai tujuan (lihat Hagen, 2008). Jika tidak hati-hati dalam menelaah lakon, aktor tidak akan mendapatkan gambaran yang detil dan akibatnya ia akan memperkirakan aksi sang tokoh. Perkiraan yang dilakukan bukan sebagai bagian dari proses interpretasi melainkan karena ketidaktelitian sehingga tidak tahu gambaran tepat aksi yang mesti dilakukan.

Lebih jauh, pemahaman aktor akan tokoh yang diperankan digunakan sebagai modal untuk interpretasi. Proses ini jelas mengkait diri pribadi aktor dengan diri tokoh peran. Oleh karena itu pemahaman komprehensif sangat diperlukan. Dalam interpretasi ini Stanislavsky mengemukakan apa yang disebut dengan “if magic” atau keajaiban pengandaian. Di dalam penalaran ini, aktor harus mengandaikan jika tokoh yang diperankan tersebut adalah dirinya sendiri. Apa yang mesti ia lakukan jika berada dalam situasi dan kondisi tokoh? Jadi bukan bagaimana tokoh yang diperankan itu masuk ke dalam diri melainkan aktorlah yang selalu berusaha menjangkau tokoh. Dengan demikian, aktor selalu menjaga jarak dengan tokoh. Dari proses interpretasi ini didapatkan gambaran bahwa tokoh lakon pasti akan berbeda penampilan, laku, dan aksinya jika diperankan oleh aktor yang berbeda.

baca juga : Pikiran-pikiran Tentang Pemeranan Part-1

Pemahaman menjadi sangat penting karena aktor diharuskan menampilkan sisi psikologis peran yang dimainkan. Bagaimana sisi psikologis ini bisa muncul jika aktor tidak benar-benar mempelajari tokoh secara mendalam? Banyak upaya dilakukan para pelaku teater untuk menggali keadaan psikologis tokoh ini. Stanislavsky hampir sepanjang karirnya berusaha menyingkap sisi psikologis ini agar bisa ditampilkan oleh aktor ketika berperan. Ia merumuskan metode pelatihan peran yang dimulai pertama kali dari laku fisik. Emosi seseorang dapat dilihat pertama kali dari laku fisik atau ciri-ciri fisiknya. Orang yang bersedih berbeda ciri kerut wajahnya dengan orang yang sedang bergembira. Cara berjalan orang yang sedang marah dengan orang yang sedang tertimpa masalah berat pastilah berbeda.

Ciri fisik ini sudah sejak lama menjadi formula gaya berperan dalam teater konvensional. Laku aksi seorang raja jelas akan berbeda dengan rakyat jelata. Bahkan ciri ini sering diperlihatkan atau dieksplorasi secara berlebihan atau ditegaskan untuk memberi gambaran yang jelas sosok sang tokoh. Lebih jauh, setiap ekspresi tokoh memiliki gambaran fisiknya melalui gestur dan gestikulasi. Pada akhirnya metode ini tergeneralisasi dalam pola gestur dan gestikulasi untuk menyatakan emosi atau ekspresi tertentu. Setiap orang berpikir pasti akan mengarahkan telunjuknya ke pelipis. Setiap orang yang berasa lapar selalu menyentuhkan tangannya ke perut.  Pola ini kemudian menjadi baku sehingga laku atau ciri fisik benar-benar menandakan bahwa memang itu fisik. Di sinilah titik tolak Stanislavsky untuk mengubah pandangan tentang laku fisik tersebut. Karena emosi yang ingin disampaikan, maka laku fisik hanyalah pintu masuk. Karena hanya pintu masuk maka penonton akan dituntun untuk melihat ruang yang sesungguhnya yaitu emosi. Dengan konsep ini, maka pemahaman akan emosi karakter menjadi sangat penting. Pemahaman ini akan mengarahkan pemain kepada ruang berpintu di mana ruang adalah emosi dan pintunya laku fisik. Pemahaman ini juga akan mengarahkan pemeran untuk tidak berlaku fisik secara berlebih karena intinya adalah emosi karakter.

Untuk mengusung pemahaman ini secara mendalam banyak langkah dalam metode Stanislavksy tersebut terutama dalam soal emosi. Satu yang menjadi perdebatan lumayan panjang adalah “memori afektif”. Satu cara memasuki emosi peran dengan me-recall emosi yang pernah dialami secara pribadi oleh pemeran dalam kehidupan nyata yang mirip dengan emosi peran yang aka dimainkan. Dalam perkembangannya cara ini efektif untuk orang tertentu namun kurang bisa berlaku bagi orang lain. Untuk mengantisipasi hal ini, Stanislavsky mengemukakan cara lain yaitu imajinasi yang dapat didukung dengan kegiatan observasi. Banyak hal yang dikemukakan Stanislavsky di dalam metode pemeranannya sebagai usaha untuk memahami peran.

Apa yang dilakukan Stanislvasky dalam upaya mendekati peran ini memberikan gambaran betapa pentingnya memahami “perasaan dalam” tokoh yang akan diperankan. Upaya analisis karakter dalam lakon seperti yang disarankan oleh Hagen akan memberikan gambaran detil secara fisik dan kondisi perasaan tokoh dalam mencapai tujuannya. Dari semua gambaran tertulis ini kemudian aktor mencobakannya dalam latihan seperti yang disarankan oleh Stanislavsky. Semakin detil uraian mengenai tokoh dalam analisis karakter ini semakin detil pula kondisi emosi karakter dalam setiap peristiwa yang ia lalui sepanjang lakon. Artinya, pemahaman akan tokoh (karakter) yang akan diperankan ini sangatlah penting artinya bagi aktor. Ia tidak boleh mengerjakan analisis karakter sambil lalu. Meskipun  teater tidak hanya dihadirkan dengan basis drama namun apa yang dilakukan Stanislavsky memberikan modal kuat bagi aktor dalam memahami peran secara psikologis.

=== bersambung =====

One thought on “Pikiran-pikiran Tentang Pemeranan Part-2”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.