Eduteater

Pikiran-pikiran Tentang Pemeranan Part-3

Oleh : Eko Santosa

b. Kemauan dan Kesanggupan

Kerja aktor memerlukan kemauan dan kesanggupan. Menjadi aktor tidak hanya bisa dibayangkan. Inilah perihal keliru yang sering menggelayuti diri seseorang yang hendak memasuki dunia akting. Bayangan akan nama besar aktor idola sering menjadi pemacu namun berujung pada mimpi hari-hari tak kunjung usai. Banyak kisah terdapati mengenai perkara ini. Seorang calon aktor terjebak pada pola hidup bukan tokoh idola namun pada peran yang dengan baik dimainkan tokoh idolanya. Persis seperti penggemar bintang rock yang meniru gaya busana, ucapan, pesta dan segala tetek-bengek idolanya dari berita panggung pertunjukan dan berita media sensasional lainnya. Mereka tak memliki kacamata tembus pandang yang mampu melihat kehidupan sang pujaan dalam keseharian. Bagaimana jadwal padat mereka, tuntutan untuk melahirkan karya, jam-jam latihan setiap hari, kebugaran yang harus diperhatikan sehingga stamina pemanggungan terjaga. Belum lagi soal rasa frustasi sang bintang yang bisa dikatakan hampir tak punya kehidupan privasi nan adem-ayem karena segalanya penuh aturan dan tekanan dalam konteks bisnis. Para penggemar tak mampu membedakan yang mana citra dan yang mana nyata.

Aktor, apapun dan bagaimanapun adalah nyata. Citra aktor  – jika ternampak –  hanyalah sebagai akibat. Karena ia nyata maka kemauan dan kesanggupan yang diperlukan pun nyata adanya. Aktor di dalam hidupnya harus senantiasa belajar tentang apa pun yang dapat mendukung pekerjaannya. Ia haruslah menjadi seorang literat dalam konteks nan multi. Karena tugas utamanya memainkan beragam watak manusia, maka tidak dimungkinkan baginya memiliki ukuran dan formula baku tentang proses menginternalisasi watak. Pencarian senantiasa dilakukan. Ketika lakon-lakon baru yang menghadirkan watak-watak baru muncul, aktor tidak bisa memakai ukuran dan formula terdahulu secara persis. Perkembangan dan penyesuaian itu selalu ada dan untuk itulah aktor wajib selalu belajar.

baca juga : Pikiran-pikiran Tentang Pemeranan part-2

Seni akting, sebagai sebuah produk budaya manusia menghendaki penyesuaian terkait dengan bidang budaya lain. Pertumbuhan teater, ragam bentuk dan gayanya, beriringan dengan pertumbuhan pemikiran dan hasil pikiran manusia. Apa yang dahulu belum pernah terpikirkan atau masih merupakan gagasan – seperti produk pengetahuan terapan misalnya – sekarang bisa diwujudkan dalam jumlah yang banyak dan menjadi bagian integral kehidupan sehari-hari. Konsekuensi logisnya menyangkut langsung pada pola hubungan, tuntutan, gesekan, eksistensi dan psikologi sosial yang dengan sendirinya mengalami penyesuaian. Aktor tidak bisa tidak harus beradaptasi dengan hal-hal ini.

Proses adaptasi meniscayakan kemauan dan kesanggupan. Proses adaptasi menerangkan bahwa akting bukanlah status quo. Aktor yang dulu hebat karena suaranya lembut mendayu, mungkin akan terburamkan pancaran sinar kharismanya dengan aktor laga di tengah budaya super hero yang sedang bergerak naik. Aktor yang dahulu terkenal dengan gerakan lincah silatnya, mungkin akan terbenamkan namanya dengan aktor yang lincah menggunakan senjata api dalam setiap duel dan perkelahiannya. Hal semacam itulah yang terjadi. Pun demikian sebaliknya. Fakta perjalanan karir baik itu aktor panggung maupun film menjadi bukti akan hal ini. Orang mungkin hanya bisa bilang bahwa, “tidak ada sesuatu yang abadi di dunia ini selain perubahan”. Namun bagi aktor kalimat tersebut tidak hanya untuk diucapkan melainkan dilakukan. Di sinilah letak soal dasarnya. Mau dan sanggupkan seorang calon aktor senantiasa melakukan perubahan?

Di dalam dunia seni peran dikenal istilah totalitas untuk menggambarkan kemauan dan kesanggupan seorang aktor dalam bermain peran. Segala daya dan upaya ia tempuh untuk mewujudkan peran itu. Semua ia lakukan agar penonton terpuaskan dengan penampilan tokoh yang diperankan di atas panggung atau layar lebar. Diri aktor lesap ke dalam peran. Diri aktor terbuka penuh barau setelah pertunjukan selesai. Persoalan yang selintas mudah namun membutuhkan keikhlasan maha dahsyat untuk melesapkan diri (eksistensi) ke dalam tokoh yang diperankan. Jadi, usaha-usaha aktor untuk mencapai peran itu menyangkut pikiran, fisik, dan kejiwaan. Ketiga hal tersebut hanya bisa dioptimalkan dengan keikhlasan.

Mengikhlaskan diri untuk senantiasa berusaha inilah faktor tersulit ketika hendak mendalami seni peran. Karena seperti yang dijelaskan di atas bahwa keikhlasan ini dintuntut tanpa henti. Keikhlasan ini lah yang mendorong kemauan dan kesanggupan seorang aktor untuk terus berusaha menjadi yang terbaik dalam setiap produksi yang didikutinya. Kemauan dan kesanggupan untuk terus belajar dan berlatih bahkan ketika di hari-hari tiada jadwal produksi. Kemauan dan kesanggupan untuk selalu mengasah kepekaan panca indera dan rasa meski tidak sedang memerankan tokoh tertentu. Kemauan dan kesanggupan untuk senantiasa melakukan observasi dan mencatat pengalaman hidup atas diri dan yang diamati dalam lemari pikiran meski tidak terkait dengan proses peran yang sedang dijalani. Kemauan dan kesanggupan ini wajib dimiliki oleh seseorang yang ingin menjadi aktor. Tidak mudah memang namun itulah yang senyatanya diperlukan.

Dalam kenyaaan hidupnya, aktor mengemban beban tidak ringan untuk mempertahankan karirnya. Ia tidak bisa menggantungkan diri bahkan dengan nama besar yang telah dimiliki. Ia tidak bisa merasa selesai dengan semuanya dan cukup tinggal diam menunggu job datang. Aktor harus senantiasa hidup dan berada dalam kekinian. Untuk itu diperlukan konsentrasi, energi, dan intensi. Atas dasar fakta inilah, maka belum tentu semua orang bisa menjadi dan memilih karir sebagai aktor. Atas dasar ini pulalah aktor tidak bisa dipandang hanya citraannya saja. Jika dorongan menjadi aktor hanyalah karena citraan peran yang dimainkan aktor idola dalam produksi tertentu yang begitu mengharu-biru perasaan dan pikiran hingga membayang terus menerus dalam ingatan bahkan laku hidup, maka lupakanlah. Aktor bukanlah zombie.

One thought on “Pikiran-pikiran Tentang Pemeranan Part-3”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.