Eduteater

Pikiran-pikiran Tentang Pemeranan Part-4

Oleh : Eko Santosa

c. Kebugaran dan Transformasi Tubuh

Seorang aktor wajib menjaga kebugarannya. Aktor bukanlah pekerjaan yang ringan. Proses produksi teater ataupun film seringkali memakan waktu panjang. Serangkaian laithan harus dilalui dan hal ini membutuhkan kesiagaan tubuh dan pikiran. Tidak jarang pula dalam produksi tertentu aktor harus melakukan adegan laga, akrobat, menari atau hal lain yang memerlukan stamina. Karena tuntutan seperti itulah banyak aktor profesional yang memberikan saran dalam hal menjaga kebugaran. Kondisi tubuh yang prima akan membantu aktor dalam menghadapi pekerjaannya. Kesiapan tubuh membawa pengaruh besar pada pikiran dan fokus. Kesiagaan tubuh ini tidak bisa dilatihkan aktor hanya ketika hendak atau pada saat terlibat dalam produksi saja. Kesiagaan tubuh harus dibudayakan.

Kebugaran atau kesiagaan tubuh tidak bisa dilakukan serta merta. Tidak ada seorang pun yang berlari pagi setiap hari hanya selama seminggu kemudian menjadi sehat seterusnya. Tidak mungkin pula seseorang yang sudah lama tidak melakukan kegiatan lari jauh kemudian tiba-tiba sanggup melakukannya dengan hanya persiapan sehari saja. Tidak ada kebugaran tubuh yang didapatkan secara tiba-tiba. Logika sederhana tersebut menjadikan kebugaran tubuh sebagai bagian dari budaya hidup aktor.

baca juga : Pikiran-Pikiran Tentang Pemeranan Part-3

Kesiagaan tubuh ini dapat digambarkan secara sederhana dalam satu rangkaian latihan olah tubuh yang selalu diawali dengan pemanasan. Artinya, sebelum melakukan latihan inti dengan memanfaatkan tubuh secara optimal, otot-otot perlu dipersiapkan, diregangkan, dan dikendurkan. Rangkaian latihan ini memberikan gambaran bahwa penggunaan tubuh secara tiba-tiba dengan beban yang berat tidak akan membawa hasil yang baik. Otot yang tidak dalam keadaan sipa namun dipaksa bisa mengakibatkan cidera. Pola rangkaian latihan tubuh ini dapat dijadikan aktor untuk membudayakan kebugaran tubuhnya. Artinya, latihan tubuh dapat dilakukan rutin atau terjadwal di dalam dan luar produksi. Dengan kebiasaan melatih kebugaran, aktor akan berada dalam kondisi siap menerima peran yang akan dimainkan.

Perkara tubuh ini tidak hanya sekedar kebugaran, namun juga transformasi. Tubuh sebagai alat ungkap estetik pemeran dalam kerjanya tidak bisa hanya dijaga kebugarannya. Tubuh seacara artistik harus enak dipandang dalam artian proporsional dengan peran. Proses transformasi tubuh tidak hanya soal kegunaan atau plastisitas namun juga soal bentuk. Seorang pemeran yang dalam casting-nya mendapatkan peran pedansa atau penari meski melatih tubuhnya secara khusus agar bisa bertransformasi sebagai tubuh penari. Usaha transformasi ini tentu saja tidak ringan. Latihan-latihan dan pola hidup tertentu mesti dijalani untuk menubuhkan peran itu. Bahkan dalam sejarah layar lebar, banyak aktor yang mentransformasi ukuran tubuhnya melalui pola makan, olah raga dan kegiatan lain yang mendukung. Agar tidak terjadi satu masalah terkait perubahan bentuk ini, dokter pun dihadirkan. Beberapa aktor layar lebar yang mengubah ukuran tubuhnya menyesuaikan proporsi peran yang dimainkan antara lain; Sylvester Stallone harus berlatih dan menjaga pola makan ketat untuk mengubah tubuhnya menjadi seorang petinju dalam Rocky (1976), Robert De Niro memperbesar ukuran tubuhnya agar cocok dengan peran Al Capone dalam The Untouchables (1987), Christian Bale dalam The Machinist (2005) dengan ukuran tubuh sangat kurus dan berubah menjadi kekar berotot di tahun yang sama pada film Batman Begins lalu menjadi sosok gembrot dalam American Hustle (2014), dan Jared Leto dengan sosok trans woman serta Matthew McConaughey sebagai pengidap AIDS bertubuh super kurus dalam Dallas Buyers Club (2013). Apa yang dilakukan para aktor ini membutuhkan komitmen. Sebuah tanggung jawab profesi yang mesti diemban ketika bersedia menerima peran yang akan dimainkan.

Penuh alasan dan logika kiranya ketika Michael Caine menyebutkan bahwa tanggung jawab aktor itu sangat berat dalam pekerjaannya. Tubuh dan pikiran harus terbiasa dengan jadwal padat yang berafiliasi dengan jarak tempuh, kebiasaan sehari-hari yang dihadapkan dengan tuntutan profesi serta proses pengambilan gambar (latihan) yang berulang-ulang. Bahkan, makan pun terkadang harus sedikit diabaikan ketika semua set dalam keadaan siap meski syuting belum juga dimulai (periksa Caine, 1990; 2000). Menjadi aktor bukanlah sebuah impian yang mudah diraih, demikian kira-kira penjelasan Caine. Kebugaran atau kesiagaan tubuh adalah faktor utama. Tubuh yang lelah akan mempengaruhi konsentrasi. Tubuh yang lelah akan kehilangan nilai artistiknya. Tubuh yang lelah tidak akan mampu mengekspresikan tubuh peran secara proporsional. Aktor, untuk itu, perlu membudayakan kebugaran tubuhnya. Ia mesti tahu kapan ketika terjadi ketegangan otot dan bagaimana cara mengendurkannya. Ia mesti tahu kapan mesti beristirahat dan dalam waktu berapa lama. Ia juga mesti mengerti capaian apa yang mungkin diraih oleh tubuhnya dalam berperan serta bagaimana cara meraih capaian tersebut. Kenyataan bahwa tubuh harus selalu berada dalam kondisi siaga dalam menjalankan pekerjaannya ini mensyaratkan seorang aktor untuk membudayakan kebugaran tubuhnya melalui latihan rutin.

==== bersambung====

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.