Eduteater

Pikiran-pikiran Tentang Pemeranan Part-5

Oleh : Eko Santosa

d. Gaya-gaya dan Pengaruhnya

Sejarah pementasan teater telah terbentang lama. Bentangan ini memberikan catatan mengenai rupa-rupa pementasan dalam berbagai konsep dan budaya. Ada yang mengalir seiring budaya masyarakat dan ada pula yang mencoba menawarkan budaya baru. Ada yang bertahan seiring budaya masyarakat, ada yang mesti berontak sebagai akibat dari kejenuhan atas hegemoni budaya, dan ada pula yang hidup tumbuh di antaranya. Pementasan teater memberikan banyak pilihan pada para seniman untuk mengungkapkan konsep artistik yang dimilikinya. Tentu saja konsep tersebut ada yang dapat diterima dan ada yang tidak, ada yang bertahan dan ada yang terlupakan. Sejarah film pun kurang lebih sama kiranya.

Konsep-konsep yang telah mewujud dalam bentuk karya pementasan ini disikapi sebagai sebuah gaya. Di dalam proses kelahiran, persebaran, dan kebertahanan gaya ini, pemeran memiliki andil yang besar. Tanpanya, gaya itu tidak akan bisa ditawarkan kepada khalayak. Dari sisi ini, kepiawaian aktor dalam mempresentasikan gaya menjadi tolok ukur. Dari sisi ini pula dapat ditelisik tingkat adaptasi aktor terhadap berbagai gaya. Berkaitan dengan industri dan daya penerimaan masyarakat, aktor-aktor mendapat label tertentu sesuai gaya yang dipersembahkan. Dalam seni panggung, ada aktor yang piawai berolah peran dalam teater tradisional, ada aktor yang sesuai dengan mazhab realisme, ada yang handal dalam olah tubuh namun kurang dalam retorika dan sebaliknya, dan ada pula aktor yang bisa mungkin beradaptasi  dalam beragam gaya yang biasa disebut sebagai aktor serba bisa. Di film pun juga sama, ada aktor komedi, aktor drama, aktor laga, dan pemeran watak. Label ini bahkan diberikan untuk wilayah yang lebih sempit semacam aktor antagonis, hero (role), dagelan, atau label lain yang terkait dengan karakter yang diperankan dan mendapatkan sanjungan dalam penampilannya. Penerimaan masyarakat sering mempengaruhi industri sehingga membuat mereka mempekerjakan aktor sesuai label yang telah umum diberikan. Namun juga sering melecutkan tantangan produksi untuk menampilkan aktor dalam peran dan konsep lain di luar label yang telah diberikan.

baca juga : Pikiran-pikiran Tentang Pemeranan Part-4

Tantangan baru ini menyebabkan lahir dan berkembangnya pola baru latihan peran sesuai dengan tuntutan konsep pementasan. Sebagai upaya menyadarkan penonton misalnya, Brecht terlebih dulu memberi kesadaran dan pendekatan latihan baru kepada para aktor. Untuk membongkar ketundukan terhadap pola latihan realisme sekaligus menuju konsep teater epik, Brecht mengetengahkan pendekatan latihan yang membuat aktor mengalami efek pengisolasian diri (keterasingan). Efek ini hanya bisa diciptakan jika aktor mampu menerabas dinding keempat sehingga penonton bukanlah orang yang tak terlihat dalam gedung pertunjukan. Aktor dapat berbicara langsung atau bahkan bersentuhan dengan penonton. Untuk membangkitkan kesadaran penonton agar mengobervasi pertunjukan, aktor dalam berperan harus senantiasa mengobservasi dirinya. Untuk mencapai pengisolasian diri (keterasingan) ini, aktor harus berjarak dengan dirinya sendiri dan karakter yang dimainkan. Dalam salah satu usahanya, Brecht melakukan latihan dengan melakukan pergantian peran di tengah proses. Aktor dengan demikian tidak hanya menghayati satu peran saja meski pada akhrinya ia memainkan satu peran dalam pementasan. Latihan dengan mengganti-ganti peran ini dimaksudkan agar aktor benar-benar berjarak baik dengan dirinya sendiri maupun dengan peran yang akhirnya dimainkan. Meski sampai saat ini apa yang dikemukakan oleh Brecht masih menjadi kontroversi, namun pola latihan yang ia terapkan menjadi tantangan sekaligus pengalaman estetik lain bagi aktor[1].

Berikutnya, Meyerhold mengemukakan model latihan yang disebut dengan biomechanics di tengah jayanya realisme sosial di Rusia. Model ini lebih mengedepankan gerak (motion) daripada penggunaan bahasa atau ilusi artistik. Tujuan utama dari model ini adalah terciptanya aktor yang hadir secara kuat dan berisi meski tanpa embel-embel dukungan artistik di atas panggung. Biomechanics memperluas potensi emosional teater dalam mengungkapkan gagasan dan ekspresinya yang tidak mungkin secara mudah dituangkan dalam teater naturalis pada saat itu. Model ini juga merupakan sanggahan atas pola latihan Stanislavsky yang bagi Meyerhold terlalu terkungkung oleh penjiwaan dan segala hal tentang psikologi peran. Oleh karena itulah, biomechanics menyodorkan teknik eksternal (ekspresi fisik) kepada aktor. Sebagai wujud nyata dari model latihan ini, Meyerhold menciptakan konsep teater konstruktivisme. Di dalam teater ini, ekspresi dan gerak fisik aktor sangat diandalkan. Tata panggung berupa konstruksi harus diadaptasi oleh aktor dalam penampilanya. Tata busana dibuat sederhana dan menjadi bagian integral teknik sehingga penerapan bimechanics dapat berjalan tanpa kendala. Latihan berupa rangkaian-rangkaian gerak berseri sebagai ekspresi fisik dalam biomechanics ini menghantarkan sukses bagi Meyerhold sehingga model ini diterapkan dalam latihan fisik aktor di sekolah-sekolah seni peran di Rusia[2].

Konsepsi baru pertunjukan teater secara otomatis mempengaruhi pola latihan dan gaya permainan aktor di atas pentas. Apa yang dikerjakan oleh Brecht maupun Meyerhold tidak akan pernah bisa dihentikan. Konsepsi baru akan senantiasa muncul dan aktor niscaya mengadaptasinya. Growtowsky misalnya, ia melakukan riset yang begitu menggelora hingga menusuk jantung filosofi peran. Tujuan utamanya adalah total act, di mana pertunjukan teater (hanya terdiri dari) adalah aktor dan penonton dan komunikasi di antara mereka sehingga tidak diperlukan perantara lain. Tujuan ini dapat dicapai melalui metode via negativa dan conjunctio opositorum[3]. Tiga hal bangunan dasar konsep Growtowsky ini sangat berpengaruh terhadap pemeranan mulai dari pencarian, pemahaman, pelatihan hingga sampai pementasan. Tidak bisa seorang aktor turut serta dalam produksi Growtowsky tanpa mengikuti filosofi dan metode latihan perannya.

Penggambaran di atas memberi kepastian bahwa sifat satu produksi berbeda dengan produksi lain, gaya pementasan satu berbeda dengan pementasan lain, dan semua itu membutuhkan pemahaman serta latihan yang berbeda pula. Tidak bisa dengan hanya belajar satu metode pelatihan kemudian bisa digunakan untuk semua jenis produksi. Tidak mungkin seorang aktor piawai beretorika namun cacat nada akan mengambil peran utama dalam drama musikal. Tidak mungkin pula ketuntasan latihan model realis telah dianggap cukup untuk berperan dalam teater tubuh (teater gerak). Gaya atau konsep pementasan pasti akan membawa pengaruh pada pemeranan dan aktor tidak boleh tinggal diam dan merasa cukup dengan kesejarahan latihan peran yang telah dilalui.

==== bersambung====

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Distancing_effect (diunduh, 2 Juni 2018)

[2] https://en.wikipedia.org/wiki/Biomechanics_(Meyerhold) (diunduh 2 Juni 2018)

[3] https://www.scribd.com/document/20263655/Theoretical-Foundations-of-Grotowski-s-Total-Act-Via-Negativa-and-Conjunctio-Oppositorum (diunduh 2 Juni 2018)

 

One thought on “Pikiran-pikiran Tentang Pemeranan Part-5”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.