Eduteater

Pikiran-pikiran Tentang Pemeranan Part-6

Oleh : Eko Santosa

e. Kemandirian dan Relasi-relasi

Pemahaman artistik dalam teater menempatkan aktor sebagai salah satu pekarya. Keberhasilan sebuah pertunjukan selalu menyertakan aktor di dalamnya. Sutradara bukanlah pekarya tunggal. Masing-masing dengan demikian memilki andil dalam satu sajian. Andil di sini dalam arti menampilkan karya seni masing-masing. Pemahaman ini mempengaruhi aktor dalam proses pengembangan karirnya. Bahkan muncul jargon dahsyat dalam teater yaitu, “sutradara boleh saja tidak ada tapi aktor tidak”. Seorang aktor bisa menjadi pekerja mandiri. Ia bisa menampilkan karyanya tanpa perlu penyutradaraan. Keyakinan ini yang menggugah aktor untuk tampil gagah dalam menjalani kehidupannya. Keyakinan yang membutuhkan kesanggupan dan pengorbanan.

Tidak sedikit atau mungkin bahkan hampir semua aktor menginginkan mendapatkan peran dalam produksi besar dan ternama. Sebagian besar berkehendak meraih sukses dalam relasi produksi di mana semua elemen bekerja sama membentuk satu sajian.  Aktor tidak bisa cukup dengan dirinya sendiri. Kemampuan pribadi yang dimiliki dipertemukan dengan bidang-bidang lain dalam bentuk relasi-relasi. Pada sisi ini kepribadian aktor juga menentukan keberlangsungan relasi tersebut. Tidak jarang kita dengar, aktor yang sangat piawai bermain peran namun sulit mendapatkan job atau tawaran peran lagi karena masalah kepribadian yang pada akhirnya terkuak. Tidak semua produser mau mengajaknya karena persoalan di luar produksi seringkali datang sebagai akibat pembangunan relasi kerja yang buruk karena kepribadian aktor yang selfish dan mau selalu diutamakan misalnya. Bahkan dalam pengerjaan miniseri, seringkali aktor dimatikan (ditiadakan) karakternya sehingga tidak muncul lagi di episode selanjutnya karena soal kepribadian yang berakitbat rusaknya relasi kerja antarbidang.

Terlibat dalam sebuah produksi dengan demikian memerlukan kepiawaian tersendiri selain akting. Aktor perlu membangun relasi dengan banyak pihak mulai dari audisi hingga selesainya proses produksi. Relasi-relasi ini sifatnya beragam, ada yang sudah tertentukan secara prosedural, ada yang normatif, dan ada pula yang mengait budaya. Pemahaman yang baik terhadap relasi kerja ini akan menempatkan aktor sebagai orang yang disukai (disegani) dalam bekerja dan diapresiasi dalam karya. Untuk mencapai hal ini aktor memang perlu belajar dan mengadaptasi diri dalam lingkungan nyata dunia produksi. Aktor muda yang merasa telah mendapatkan cukup ilmu baik di sekolah maupun produksi sebelumnya sering lupa bahwa lingkungan kerja baru membutuhkan adaptasi dengan kultur kerja yang baru pula. Mungkin ia selalu diistemawakan dalam produksi semasa sekolah, namun tidak bisa sikap ini ia bawa ke dalam produksi baru dengan rekan-rekan kerja yang baru pula. Kesaradaran semacam ini harus senantiasa dijaga. Aktor bisa tampil karena ia didukung sepenuhnya oleh seluruh tim produksi.

Tidak ada orang atau bidang pekerjaan yang tidak penting di dalam produksi teater atau film. Semua orang berperan secara maksimal sesuai bidang kerjanya. Di sinilah sisi sosial aktor menjadi pertaruhan. Sisi yang diperlukan untuk memahami bahwa tidak ada satu rencana dan atau pekerjaan satupun di dunia ini yang sempurna tanpa cacat. Sisi ini yang diperlukan bagi aktor untuk membangun kerendahan hati, membangun empati dan simpati. Meski posisi aktor lebih tinggi dari driver atau tukang saji makanan dan gajinya jelas lebih tinggi, namun ia tidak bisa sembarang menghardik atau marah-marah sebagai akibat dari satu hal dalam satu pekerjaan. Ia pun tidak bisa menerapkan perfeksi yang ada dalam dirinya secara kaku ke dalam situasi kerja produksi. Harus ada fleksibilitas dalam hal ini. Meski secara profesional semua sudah dituliskan di dalam kontrak namun perlu dipahami bahwa kontrak adalah benda mati sehingga yang butuh senantiasa dijaga adalah keselarasan relasi para pelaku kontrak tersebut. Hal inilah yang akan menentukan apakah aktor tersebut akan mendapat kontrak dari produser yang sama di kemudian hari, selain tentu saja karya aktingnya. Prosedur operasi standar sebuah produksi dapat dipelajari di sekolah, sanggar belajar ataupun melalui buku. Bagaimana membangun relasi dengan sutradara, keuangan, tim artistik, tim teknis dan staf perorangan lain secara umum bisa dipelajari. Namun semua akan lebih mudah dijalani dengan keterbukaan diri aktor dalam menerima dan mengadaptasi lingkungan kerjanya.

Sayangnya, banyak orang yang berkehendak menjadi aktor kurang memahami relasi kerja ini. Seolah hanya dengan kemampaun akting saja cukup. Kalaupun ada terjalin relasi itu hanya dianggap cukup dengan sutradara saja. Relasi ini pun dimaknai sebagai pengarah dan orang yang diarahkan, sebagai penyuruh dan orang yang disuruh saja. Relasi ini tidak dibangun berdasarkan pemahaman kerja sama antara pekarya pemanggungan dengan pekarya pemeranan. Aktor sendiri juga sering menempatkan posisi diri di bawah sutradara sehingga semua apa yang diarahkan oleh sutradara ia turuti bahkan untuk hal yang bersifat interpretasi terhadap detil laku karakter yang ia perankan dan semestinya menjadi wilayah kerjanya. Aktor tidak mempunyai nilai tawar dan kebebasan berekspresi sesuai pencariannya, ia telah berubah menjadi pengrajin, orang yang rajin mengerjakan arahan sutradara. Kenaturalan ekspresinya ditentukan oleh sutradara. Relasi hirarkis inilah yang seringkali menjebak aktor untuk menjadi seorang pekerja bukan pekarya. Akan tetapi hal sebaliknya pun bisa saja terjadi, di mana aktor merasa kedudukannya lebih tinggi daripada sutradara hanya soal senioritas ataupun faktor akademik. Pun bisa pula karena kebebasan ekspresi yang diberikan oleh sutradara kepada aktor justru membuat aktor tidak respek pada sutradara. Ia menganggap sutradara kurang mampu mengarahkan sehingga pura-pura memberikan kebebasan. Ia kemudian cenderung akan membantah setiap arahan yang diberikan. Ia lebih memandang siapa berbicara daripada apa yang dibicarakan. Relasi semacam ini jelaslah tidak sehat dalam sebuah proses produksi. Kemandirian aktor yang terlalu berlebih dan inferioritas aktor dalam hubungan hirarkis sama buruknya. Kemandirian aktor dalam berkarya memang wajib dipertahankan namun juga perlu menjaga kualitas relasi yang dibangun antara dirinya dengan seluruh pekerja artistik dalam satu produksi. Semua yang bekerja di dalam produksi adalah manusia, bukan mesin-mesin.

baca juga : Pikiran-pikiran Tentang Pemeranan Part-5

Proses pelaksanaan sebuah produksi teater atau film memang ribet. Sebuah proses kerja yang ketat yang melibatkan banyak unsur di dalamnya. Ukuran-ukuran atau nilai kerja terkadang sudah bisa ditentukan namun banyak pula yang muncul sebagai tindakan konformitas atas satu dan lain aspek yang kemudian menjadi persoalan dalam proses produksi. Selain itu, sifat sebuah produksi selalu menimbang antara konsep (idealisme) dengan faktor pendanaan dan penerimaan masyarakat. Tidak semua aktor atau orang yang berkehendak menjadi aktor dapat terlibat sepenuhnya dalam dunia produksi dengan relasi bertingkat dan proses njlimet. Apalagi ketika aktor tersebut belum sepenuhnya selesai dengan dirinya sendiri. Alih-alih akan memberdayakan, justru produksi bisa menenggelamkan karyanya dan hanya menghasilkan  pengalaman, “pernah terlibat dalam sebuah produksi”. Selain soal diri, banyak soal lain yang membuat seorang aktor enggan terlibat dalam sebuah produksi (profesional) seperti misalnya soal keribetan proses, pendanaan serta dampak eksistensi atau tanggapan masyarakat penikmat karya. Mengenai hal-hal semacam ini, seni teater memberikan peluang terbuka bagi aktor untuk bekerja mandiri maupun dalam kelompok kecil atau kelompok non-profit. Tentu saja produk, cara penyajian, dan feedback yang didapatkan berbeda.

Di dunia ini banyak pemeran tunggal yang tidak hanya tampil di atas pentas namun juga dalam format street performer. Pemeran tunggal ini ketika tampil di atas pentas dalam sebuah festival misalnya ia tetap harus bekerja dengan orang dari bidang lain namun tidak sebanyak dan serumit ketika bekerja dalam sebuah produksi besar. Paling utama yang membedakan adalah kemerdekaan dalam berkarya. Pemeran tunggal atau solo performer di sini mengerjakan banyak hal yang biasanya dikerjakan oleh tim artistik. Ia benar-benar bebas dalam mengekspresikan gagasannya. Relasi kerja yang ia butuhkan lebih sedikit, paling hanya dengan panitia, bagian buka tutup layar, lampu, dan sound untuk tampil di panggung festival. Meski bebas ia memiliki pekerjaan yang sangat berat mengingat tugas pekerja artistik lain ditanggungnya sendiri, terlebih ketika ia melakukan gelar karya dalam format street performance.  Selain itu, hal lain yang patut diperhatikan adalah dampak eksistensi (anggapan masyarakat) yang ditimbulkan. Sangat mungkin, terutama terkait dengan kegiatan street performance, ia oleh masyarakat tidak disebut sebagai aktor meskipun pekerjaannya bermain teater dan memang bermain teater dalam arti sesungguhnya. Lepas dari itu semua, apa yang didapatkan dari aktor solo semacam ini adalah kepuasan dalam berkarya, kepuasan dalam mengekspresikan gagasan melalui seni yang ia jalani bersamaan dengan hidupnya. Profit, tentu saja sangat relatif demikian pula dengan ketercukupan materi dalam menyelenggarakan kehidupannya.

Sifat non-profit atau (mau) berada dalam posisi di luar makna “profesional” tidak hanya menjadi milik solo performer saja. Kelompok teater, utamanya teater terapan seringkali mengambil posisi ini. Apakah kemudian para aktor yang terlibat di dalamnya tidak memiliki eksistensi? Tentu saja tidak. Mereka bisa menjadi aktor yang sekaligus pemateri workshop atau pengisi seminar. Bahkan, banyak kelompok teater terapan non-profit memiliki nama menjulang tinggi sekaligus membawa kebanggaan sebagai pejuang, misalnya saja para pelaku teater sosial dan politik. Kelompok-kelompok ini mampu mencuatkan aktor sekaligus konseptor hebat. Kondisi ini menandaskan bahwa aktor bisa lahir dari proses pembentukan berdasar konsep, sifat dan kultur kerja yang berbeda-beda. Semua itu tidak menghalangi eksistensi sang aktor selama ia teguh dan tekun menjalani apa yang ia yakini dalam menghasilkan karya. Posisi, tingkatan, ketercukupan (penghasilan) dan keterkenalan adalah soal lain yang relatif dan aktor berkarya tentu saja (semestinya) bukan untuk itu (semata).

=== bersambung ===

One thought on “Pikiran-pikiran Tentang Pemeranan Part-6”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.