Eduteater

Pikiran-pikiran Tentang Pemeranan Part-7

Oleh : Eko Santosa

  1. Gagasan-gagasan

Pengakuan terhadap karya aktor secara mandiri dan bisa dipisahkan dari unsur penyutradaraan membuka kemungkinan luas bagi aktor untuk melahirkan gagasan-gagasan baru. Pengakuan ini sedikit banyak memberikan gambar lintas sejarah di mana pada masa lalu sutradara adalah aktor yang paling berpengalaman di antara aktor lainnya. Seni teater utamanya bisa hadir hanya melalui gagasan sang aktor. Ketika struktur cerita telah lumer dan tak melulu terikat secara dramatik, dan sajian teater juga tak terkungkung bentuk (norma) tertentu, aktor dapat dengan tenang melemparkan gagasannya untuk ditampilkan baik secara tunggal maupun kelompok. Seni teater bisa muncul dan diakui sebagai seni pertunjukan yang luwes mengadaptasi segala hal. Bahkan seorang performer yang hanya menampilkan satu tema tertentu dengan hanya bergerak-gerak namun menyuarakan sebuah pesan saja bisa disebut sebagai teater.

baca juga : Pikiran-Pikiran Tentang Pemeranan Part-6

Keluwesan teater sebagai seni pertunjukan ini semestinya dapat dimanfaatkan dengan baik oleh para aktor untuk mencoba keluar dari zona nyamannya. Keluwesan ini di dalam banyak grup teter profesional disikapi dengan menggali sumber daya lain pada saat tertentu di mana grup tidak sedang berada dalam masa produksi. Mereka mengirimkan anggota-anggotanya untuk belajar ke berbagai daerah, kota bahkan lain negara untuk mempelajari seni tertentu di luar koridor teater konvensional. Hasil dari pembelajaran ini tentu saja adalah internalisasi pengalaman estetik, soal kemudian apakah hasil ini akan diterapkan, diadopsi atau diadaptasi oleh grup ke dalam produksi baru itu lain soal. Proses internalisasi ini sangat penting bagi aktor di mana tubuh, pikiran, dan jiwa mendapatkan asupan di luar dari yang biasanya didapatkan. Pastinya akan terjadi penyesuaian sebagai akibat dari penerimaan ataupun keterpaksaan berterima atas apa yang telah dilakukan. Pengalaman estetik tidak mesti dipelajari sebagaimana membaca buku dan memahami poin-poin penting untuk dicatat dalam pikiran. Tubuh yang bergerak dan digerakkan menganut teknik tertentu dengan irama dan rangkaian gerak tertentu pun dapat mencatat pengalaman-pengalaman itu. Tanpa ada paksaan, pada saat tubuh digerakkan itu pikiran telah ikut serta bekerja.

Hal-hal lain berupa alternatif pola, teknik, dan prosedur latihan di luar yang biasanya dilakukan menimbulkan gairah tersendiri untuk diaplikasikan dalam bentuk lain. Apa yang dikerjakan di luar kebiasaan dan jika itu menarik serta diikuti penuh minat akan melahirkan gagasan-gagasan. Apakah gagasan itu terkait langsung dengan yang baru saja dipelajari atau diadaptasi dan dikombinasi dengan apa yang telah dimiliki sebelumnya tentu saja menjadi hal yang sangat menarik. Di dalam grup profesional tersebut biasanya anggota diminta untuk membagi pengalaman dari apa yang telah dipelajari dan seringkali kegiatan ini benjadi bengkel kecil. Di bengkel inilah gagasan-gagasan itu muncul dan tidak menutup kemungkinan setelah program bengkel selesai diadakan show case. Melalui sampel-sampel pertunjukan kecil hasil dari kerja bengkel ini pula teknik dalam latihan atau gaya penampilan bisa dikembangkan.

Tidak hanya itu, aktor sebagai pekarya juga bisa melahirkan gagasan dari aktivitas atau kejadian sehari-hari yang dialaminya. Apa yang dilakukan Meyerhold di atas dengan bio mechanics adalah upaya menjawab sistem pelatihan Stanislavsky yang ia anggap terlalu psikologis. Bahkan dalam pertunjukan, Meyerhold menawarkan konsep pelumeran antara elemen realisme dengan simbolisme yang begitu menarik minatnya sejak lama. Meski gagasan-gagasan ini tak sempat merekah mendunia menjadi semacam gerakan besar namun apa yang menjadi cobaan Meyerhold mempengaruhi pemikiran aktor-aktor lainnya. Ambil contoh, Vakhtangov yang begitu terpesona dengan apa yang dikerjakan oleh Meyerhold hingga ia menelurkan gagasan fantastis realisme dalam karyanya. Konsep ini menggali faktor ekspresi aktor dan kemungkinan model pemanggungannya (lihat, Andrei Malaev-Babel, Ed., 2011). Meski usaha ini tak pernah final karena Vakhtangov meninggal dalam usia muda, namun gagasannya tentang fantastis realisme patut dicatat sebagai satu upaya melebar-kembangkan jelajah seni pemeranan.

Banyak tokoh-tokoh atau konseptor teater di dunia ini yang semula adalah aktor. Proyeksi pengalaman bermain peran dari satu produksi ke produksi lain, dari konsep satu ke konsep lain, mengguratkan berbagai garis tebal kenangan estetik yang suatu saat bisa disatukan ke dalam atau membentuk garis lain. Tentu saja suatu saat itu bisa terjadi ketika hati dan pikiran terbuka. Artinya, keaktoran menjadi dedikasi dan bukan sekedar bidang pekerjaan untuk menghasilkan uang. Penyatuan garis-garis pengalaman menjadi garis baru ini bisa ditelisik dari Yoshi Oida misalnya. Kultur teater konvensional Jepang yang telah ia tekuni tak serta-merta hilang ketika ia harus bergabung dalam studio pelatihan Peter Brook. Bahkan dalam banyak workshopnya ia berhasil memadukan keduanya. Intensitas dan repetisi untuk mencapai kedalaman selalu ia gaungkan ditengah gempita model latihan yang seolah ingin merengkuh dunia. Brook menyampaikan bahwa formulasi latihan Oida menghadirkan ketakterpisahan antara seni peran dengan pengalaman batin sehari-hari. Hanya dengan penyatuan itulah segala kesulitan tidak akan pernah menampakkan dirinya. Semua tantangan dan tugas-tugas seni peran menjadi mudah, sederhana namun kena maknanya (lihat, Oida and Marshall, 1997). Apa yang dilakukan oleh Oida juga Meyerhold dan Vakhtangov sekiranya adalah wujud dedikasi terhadap seni peran.

Dedikasi menjadi kata kunci dalam pelahiran gagasan seni peran. Dedikasi selalu saja akan menggugat kenyamanan yang telah diperoleh. Ia tidak akan mau singgah dalam watu lama untuk sesuatu yang menetap. Seni peran masih meninggalkan banyak misteri untuk diungkap, terutama keterkaitannya dengan penyampaian pesan dalam kehidupan. Tidak pernah ada yang cukup selain dianggap cukup. Persoalan hidup yang mana menghasilkan perkembangan budaya manusia tidak akan pernah bisa berhenti selama manusia ada. Kira-kira semangat semacam inilah yang mesti dibenamkan dalam pikiran dan perasaan sehingga pintu gagasan seni peran tidak akan pernah terutup. Selalu menunggu untuk dilewati. (**)


Daftar Bacaan:
Malev-Babel, Andrei Ed. 2011. The Vakhtangov Sourcebook. London: Routledge
Caine, Michael. 2000. Acting in Film: An Actor’s Take on Movie Making. New York: Applause
Hagen, Uta, Haskel Frankel. 2008. Respect for Acting. New Jersey: John Wiley & Sons, Inc.
https://www.scribd.com/document/20263655/Theoretical-Foundations-of-Grotowski-s-Total-Act-Via-Negativa-and-Conjunctio-Oppositorum , diunduh 2 Juni 2018
https://en.wikipedia.org/wiki/Biomechanics_(Meyerhold) , diunduh 2 Juni 2018
https://en.wikipedia.org/wiki/Distancing_effect , diunduh, 2 Juni 2018
Oida, Yoshi, Lorna Marshall. 1997. The Invisible Actor. London: Methuen Drama
Stanislavski, Constantin. 2014. An Actor Prepares. London : Bloomsbury

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.