PRINSIP KERJA AKTOR DALAM PANDANGAN D.W. BROWN #3

Oleh : Eko Santosa

c. Memperkaya Pengalaman

Seorang aktor mesti memperkaya dirinya dengan pengalaman. Tindak mengalami bukan berarti melulu hanya soal akting atau bermain dalam produksi. Tindak mengalami adalah segala aktivitas dalam hidup yang dapat dialami oleh aktor yang digunakan sebagai pembelajaran. Brown menyarakan agar seorang aktor mau mempelajari dunia dan keadaannya, mempertajam indra, dan bertumbuh dengan budaya yang ada.

baca juga : PRINSIP KERJA AKTOR DALAM PANDANGAN D.W. BROWN #2

Mempelajari dunia dengan segala keadaannya adalah mencoba memahami sisi dunia yang ingin diketahui secara sungguh-sungguh dan total. Dalam konteks ini, perjalanan adalah pelajaran yang sangat berharga bagi seorang aktor untuk mempelajari satu sisi dunia yang diinginkan. Jika hal tersebut tidak mampu dilakukan karena satu dan lain sebab, maka buku bacaan, media audio video terkait materi yang akan dipelajari serta bercakap-cakap dengan orang yang mumpuni dapat dilakukan. Brown menggambarkan, jika seorang aktor ingin mengetahui keadaan satu kota tertentu beserta kehidupannya, yang mana kota tersebut sangat representatif bagi aktor untuk dipelajari, maka segala hal mengenai kota itu mesti diketahui baik dengan kunjungan langsung, melalui bacaan, video dokumentasi dan berbicara dengan orang-orang yang pernah tinggal dan bersinggungan dengan kota tersebut. Brown ingin memberikan gambaran bahwa mempelajari dunia dan segala keadaannya berkaitan erat dengan kerangka kerja aktor dalam hal observasi. Ketika seorang aktor menerima peran yang diberikan, maka kehidupan tokoh yang diperankan harus benar-benar dipelajari agar kesan pengalaman tokoh secara nyata didapatkan.

Kerja atau model pembelajaran pengalaman semacam itu dapat mempertajam indra dan perasaan seorang aktor. Impresi atau kesan pengalaman tokoh yang seolah hidup karena observasi menyeluruh yang dilakukan akan membawa aktor pada satu titik di mana tidak ada satupun yang tidak berarti dalam akting. Ya, segala hal yang ada dan terjadi di dunia ini sangat berarti bagi kerja akting. Sampai pada titik ini, aktor akan diantarkan pada prinsip “tidak berlebihan”, karena mempelajari sesuatu hanya dengan mengawangkannya justru akan mengaburkan kemampuan dan mempertumpul partisipasi.

Aktor, oleh karena itu, mesti mempelajari karakter yang akan dimainkan dengan sungguh-sungguh. Ia tidak diperkenankan hanya mengawangkan saja watak dan kehidupan si tokoh. Jika ini yang terjadi, maka sesuatu yang berlebihan dipastikan akan muncul. Untuk itu, studi melalui buku, media, berbincang-bincang dengan orang lain, mengunjungi lokasi yang dapat merepresentasikan latar tempat tinggal tokoh perlu dilakukan. Dengan melakukan hal ini, maka seluruh indra dan perasaan aktor akan terlibat sehingga memiliki takaran terhadap watak dan kehidupan tokoh yang diperankan.

Ketajaman indra dan perasaan sangat dibutuhkan oleh aktor sebagaimana pelaku seni yang lain. Untuk itu, studi tentang kemanusiaan bagi aktor sangat penting dan akan membawa kegunaan yang banyak dalam seni akting. Setiap aktor mesti pintar dalam menyikapi hal ini. Mempelajari kehidupan dapat menajamkan indra dan perasaan dan pada akhirnya akan membuat hidup aktor berbudaya dalam kesehariannya.

Brown menekankan, menjadi aktor tidak perlu pintar sekali dalam konteks sains melainkan harus berbudaya. Pengetahuan dasar dan sejarah teater mesti dipahami, karya-karya lakon ternama mesti dipelajari begitu pula dengan karya-karya akting panggung, film, dan televisi. Untuk menjadi insan berbudaya, apresiasi harus menjadi kebiasaan. Apresiasi merupakan tindakan positif karena memberikan penghargaan atas karya orang lain. Dari proses ini (sikap positif), pembelajaran dapat diperoleh. Lain halnya jika seseorang menyaksikan pertunjukan, film atau televisi hanya fokus pada kekeliruan, kesalahan, kekurangan atau bahkan berusaha dengan seksama menyelidiki hal-hal tersebut. Ia tidak akan mendapatkan pelajaran apapun selain sifat negatif dan usaha mempertinggi diri yang akhirnya menjauh dari prinsip “tidak berlebihan”.

Kebudayaan yang mana seni merupakan salah satu bagian di dalamnya senantiasa tumbuh dan berkembang seiring dengan kehidupan manusia. Dengan membuka diri untuk mengapresiasi setiap karya yang disaksikan, maka dengan sendirinya seorang aktor menerima/menyerap perubahan kebudayaan yang terjadi. Keadaan ini selain akan menambah wawasan dan pengalaman juga akan menguatkan kedewasaan (maturity) aktor. Untuk itu, aktor diharapkan tidak membatasi visinya sebagaimana batas dunia yang ia singgahi saja. Aktor, bagaimanapun harus mengembangkan diri melalui pembelajaran, penjelajahan, dan pengalaman-pengalaman. Ia tidak akan bergerak kemanapun, jika hanya diam menetap di satu tempat dan meganggapnya hanya itulah dunia yang ada.

==== bersambung===

#WhaniDProject adalah lembaga pelatihan pengembangan diri dan korporasi yg mengambil titik pijak pada psikologi dan keilmuan seni peran dalam teater (psycho theatre). Dua bidang yg ditangani adalah Theatre for Profesional (menangani pelatihan untuk para profesional di bidang masing-masing : komunikasi, public speaking, dll) dan Theatre for Art ( pelatihan calon aktor dan pendalaman materi estetika teater untuk kepentingan sosial kemasyarakatan ). Berdiri 2013, di Yogyakarta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top
%d bloggers like this: