PRINSIP KERJA AKTOR DALAM PANDANGAN D.W. BROWN #4

Oleh : Eko Santosa

d. Mengembangkan Kemampuan Tubuh dan Suara

Tubuh dan suara adalah modal dasar yang dimiliki seorang aktor. Oleh karena itu, menjaga kebugaran tubuh dan kualitas suara menjadi sebuah keharusan. Brown mengungkapkan bahwa meningkatkan kemampuan fisik dan suara tidak bisa tidak harus dilakukan oleh seorang aktor. Hal pertama yang mesti diperhatikan adalah rileks. Relaksasi, menurut Brown merupakan fundamen untuk segala hal. Demi mencapai kondisi rileks, seorang aktor dapat melakukan meditasi atau aktivitas lain yang dapat memproduksi ketenangan dalam diri. Pengalaman pementasan dapat dijadikan pelajaran. Jika dalam sebuah pementasan sambutan penonton kurang baik, karena mungkin seni akting yang ditampilkan kurang memesona, maka aktor tersebut harus lebih rileks pada penampilan berikutnya. Kurang maksimalnya akting yang ditampilkan dapat digunakan sebagai penanda adanya beban atau ketegangan seorang aktor dalam berperan.

baca juga : PRINSIP KERJA AKTOR DALAM PANDANGAN D.W. BROWN #3

Kondisi rileks dapat dibangun dengan membebaskan tubuh. Seorang aktor harus merasa nyaman dengan keadaan tubuh dalam setiap gerakan. Tubuh semestinya menjadi medium terbuka bagi ekspresi. Artinya, aktor harus membuka kemungkinan seluas mungkin bagi tubuhnya dalam berekspresi. Brown lebih jauh menjelaskan bahwa tubuh aktor mesti menjadi pemancar sempurna bagi gerak hati yang terbuka dalam menerima rangsangan dan memberikan respons, persis seperti tubuh seorang bayi.

Brown menyarankan aktor untuk menggunakan teknik Alexander dalam melatih tubuhnya. Fredrick Mathias Alexander dulunya adalah seorang aktor yang mengembangkan teknik penggunaan tubuh dan suara secara efektif dalam pertunjukan. Dalam perkembangannya, teknik Alexander tidak hanya digunakan oleh aktor tetapi juga oleh olahragawan, pesenam, dan bahkan sekretaris. Secara umum, teknik Alexander memang dapat diterapkan dalam setiap aktivitas penggunaan tubuh manusia. Secara dasar, teknik Alexander sangat sederhana di mana seseorang mesti memanjangkan lehernya dan bernafas secara penuh.

Untuk memberi gambaran latihan teknik Alexander, Brown menjelaskannya melalui instruksi sebagai berikut. Tarik dagu ke depan sehingga leher memanjang, tegakkan kepala sehingga mata bisa memandang lurus ke depan. Kepala dalam posisi santai sehingga bisa digerakkan dengan mudah. Tulang belakang dari tengkorak ke bawah mengunci seolah-olah terentang tali dari kepala. Pundak dalam keadaan normal, tidak ada ketegangan. Dalam posisi ini, nafas ditarik penuh menggunakan teknik diafragma, punggung terasa mengembang sampai ke sekeliling dada. Nafas dilepaskan secara kontinyu dan dapat dirasakan pelepasannya sepanjang leher.

Intruksi latihan di atas untuk memberikan gambaran bagaimana tubuh mesti dalam keadaan rileks namun bertenaga. Kondisi rileks ini memang sangat penting dan mesti dirasakan di seluruh tubuh aktor. Tidak ada ketegangan pada bagian tubuh tertentu sehingga ketika bergerak atau beraksi dapat leluasa. Ketegangan yang terjadi pada saat tubuh melakukan aktivitas jika tidak dikelola secara baik akan menghasilkan cedera. Demikian kira-kira penjelasan dasar dari teknik Alexander. Namun Brown menyarankan agar aktor berada dalam bimbingan pelatih yang mumpuni ketika melakukan latihan teknik Alexander, karena selain banyak jenis latihan juga untuk menghindari kekeliruan yang tidak diinginkan.[1]

Secara sederhana, kebugaran tubuh seorang aktor mesti dijaga. Kebutuhan tenaga dalam proses akting kadang-kadang di luar dugaan. Oleh karena itu, daya tahan tubuh tidak bisa diabaikan. Seorang aktor mesti mampu selalu menjaga tubuhnya  sehingga ketika tampil selalu dalam kondisi sedia. Fleksibilitas tubuh (kekuatan, ketahanan, kelenturan) merupakan satu kualitas tersendiri yang mesti dikembangkan secara konsisten. Pelatihan tubuh mesti dilakukan secara menyeluruh karena selain untuk menjaga kondisi kesehatannya juga untuk mencegah dari terjadinya cedera.

Selain tubuh, aktor juga perlu membebaskan (memfungsikan secara leluasa) suaranya. Tentu saja untuk tujuan ini diperlukan pelatih olah suara yang mumpuni sehingga kemampuan suara dapat ditingkatkan. Brown memberikan saran lanjutan pada aktor untuk memiliki media bantu, misalnya berupa rekaman pidato atau aksi wicara lain yang terseleksi dan diakui kualitasnya sebagai bahan latihan mandiri dan berulang. Karena, sebagaimana halnya tubuh, suara juga merupakan medium terbuka bagi ekspresi artistik aktor. Kemurnian suara mesti dipelihara dengan penuh perasaan sehingga kejernihannya dapat dipertahankan.

Dalam latihan olah suara, Brown menjelaskan bahwa aktor dapat mengarahkan imajinasinya pada proses produksi suara. Aktor mesti membayangkan suara yang berasal dari pusat ruang yang ada diperut dan secara kontinyu dan natural bergerak keluar melalui mulut. Dengan demikian, aktor dapat merasakan peletakan dan posisi mulut yang tepat dalam setiap komunikasi yang dilakukan. Getaran bibir, lidah, gigi dan semua organ penghasil suara dapat dirasakan fungsinya ketika memproduksi suara.

Suara sebagai elemen vital aktor dalam berakting dapat dijaga kualitasnya melalui pengembangan diksi baik. Brown menjelaskan bahwa diksi baik memiliki makna, setiap kata yang terucap oleh aktor harus jelas terdengar tanpa adanya gangguan. Seorang aktor tidak perlu berusaha untuk mendistorsi suaranya dalam berbicara. Kadang kala sering terjadi, seorang aktor menyetandarkan suaranya menurut selera umum dengan pembandingan terhadap suara aktor tertentu. Oleh karena itu, ia kemudian berusaha sebaik mungkin untuk mendistorsi suaranya agar terdengar seperti suara aktor yang menurut umum dipandang bagus. Hal ini tidak perlu dilakukan. Brown, menyarankan agar aktor menggunakan warna suara aslinya, tidak perlu melakukan distorsi, karena keunikan suara seseorang justru merupakan kekayaaan. Suara yang unik pasti akan menarik asalkan jelas terdengar, dengan pengucapan sempurna, sehingga makna kata dan kalimat yang meluncur dapat ditangkap dengan baik.

Seorang aktor, seringkali merasa kurang pas dengan aksen yang dimiliki sehingga ia berusaha menyempurnakan aksen ketika berbicara (akting). Bahkan ada yang merasa aksen yang ia miliki sebagai akibat dari bahasa ibu yang dipergunakan merupakan keterbatasan. Padahal, dengan aksen yang dimiliki bisa jadi justru kekhasan suara didapatkan dan hal ini di dalam produksi teater, film atau televisi seringkali diperlukan. Satu hal penting untuk dipahami adalah tidak adanya distorsi ketika memproduksi suara. Oleh karena itu, Brown menegaskan bahwa aksen asli yang dimiliki seorang aktor tidak perlu dipaksakan untuk berubah, kalaupun harus dilatih untuk penyesuaian tidak menjadi masalah selama tidak terjadi distorsi suara dalam prosesnya.

Selanjutnya, kemampuan tubuh dan suara aktor dapat ditingkatkan melalui pengolahan teknik dalam pementasan. Banyak sekali teknik akting panggung (pementasan) yang bisa dipelajari namun di antaranya perlu diperhatikan teknik-teknik nyata yang diperlukan dalam pementasan misalnya menyanyi, menari, dan ragam adegan laga. Meskipun penggunaan teknik-teknik tersebut sangat tergantung dari jenis poduksi dan peran yang diberikan, namun berlatih menyanyi, menari, beladiri dan koreografi laga sangat penting bagi aktor. Hal penting untuk dilatihkan dan dimiliki oleh aktor terkait tubuh dan suara adalah dasar teknik tubuh, dasar teknik suara, pengkondisian tubuh dan suara termasuk kelenturan sehingga ketika pada saatnya akan digunakan aktor telah siap. Di situlah pentingnya berlatih menyanyi, menari, dan laga. Bukan dalam rangka untuk menjadi ahli di 3 bidang tersebut, melainkan membangun kesiapan dan menjaga kualitas tubuh dan suara sehingga berada dalam keadaan siap untuk dipergunakan.

==== bersambung ===


[1] Untuk mengetahui lebih jelas mengenai teknik Alexander, bisa dilihat pada tautan berikut: https://alexandertechnique.com/

#WhaniDProject adalah lembaga pelatihan pengembangan diri dan korporasi yg mengambil titik pijak pada psikologi dan keilmuan seni peran dalam teater (psycho theatre). Dua bidang yg ditangani adalah Theatre for Profesional (menangani pelatihan untuk para profesional di bidang masing-masing : komunikasi, public speaking, dll) dan Theatre for Art ( pelatihan calon aktor dan pendalaman materi estetika teater untuk kepentingan sosial kemasyarakatan ). Berdiri 2013, di Yogyakarta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top
%d bloggers like this: