PRINSIP KERJA AKTOR DALAM PANDANGAN D.W. BROWN #5

Oleh : Eko Santosa

2. Tekun

Ketekunan selalu ada dan diperlukan di dalam setiap bidang pekerjaan. Umumnya, setiap penceramah, penasehat, ataupun pemberi motivasi menyertakan ketekunan dalam saran-sarannya. Namun memang demikianlah adanya. Brown, juga menyarankan ketekunan mesti dimiliki oleh aktor. Jika seseorang berkeinginan menjadi aktor tetapi tidak menyetujui hal ini, karena dianggap klise misalnya, tidak ada masalah. Bahkan, ketika orang tersebut akhrinya tidak berkehendak menjadi aktor pun juga tidak ada masalah. Namun, perlu dipahami, bahwa sekali seseorang terjun ke dalam bisnis akting, maka segala hal yang diperlukan di dalam seni berperan harus dilalui, termasuk di dalamnya adalah ketekunan. Guna memelihara sikap tekun, Brown menganjurkan 3 hal yaitu, pantang menyerah, mengakrabi kegagalan, dan berlatih keras dan baik.

a. Pantang Menyerah

Seorang aktor mesti menjaga sifat pantang menyerah dalam usahanya. Brown, menyarakan agar setiap aktor senantiasa bergerak. Hukum dasar fisika menyatakan bahwa objek yang bergerak akan memiliki kecenderungan untuk terus bergerak, sementara objek yang diam akan memiliki kecenderungan untuk terus diam. Sikap pantang menyerah dalam artian terus bergerak mesti dimiliki oleh aktor. Tiada kata berhenti, seumpama orang berjalan meskipu tertatih harus tetap berjalan. Ketika gagal mesti bangkit kembali.

baca juga : PRINSIP KERJA AKTOR DALAM PANDANGAN D.W. BROWN #4

Sebagai seniman, seorang aktor tidak perlu terjebak pada sesuatu yang telah berlalu. Apa yang terjadi kemarin, usaha apa yang telah dilakukan dan membuat lelah secara fisik dan emosi, serta pikiran-pikiran pesimis yang selalu bergelayut tidak perlu dihiraukan selain menatap tujuan dan berusaha untuk mencapainya. Demikianlah Brown memberikan penegasan tentang sikap pantang menyerah. Memang seorang aktor harus fokus pada tujuan dan usaha-usaha untuk mencapai tujuan, tidak bisa tidak.  Karena memang demikianlah pekerjaan seoran aktor. Tidak ada seorang aktor berhenti berperan di tengah pementasan berlangsung karena merasa kelelahan atau pesimis dengan hasila akhirnya. Apapun yang terjadi, pementasan yang telah dilangsungkan harus diselesaikan. Sikap dan budaya semacam ini mesti bertumbuh dalam jiwa seorang aktor. Tidak ada kata menyerah sebelum pementasan diselesaikan. Tidak ada kata menyerah sebelum tujuan dicapai.

Sikap pantang menyerah mesti dibarengi dengan ketersediaan energi. Oleh karena itu, seorang aktor mesti mampu mengendalikan tubuhnya. Aktor mesti berkuasa atas tubuhnya bukan sebaliknya. Kekuatan sesungguhnya merupakan keadaan yang ada dan dibentuk oleh pikiran. Ketika seseorang mendorong dirinya untuk menaklukkan tantangan, maka orang tersebut akan membangun kekuatan dalam pikiran yang menyatakan bahwa ia bisa melewati tantang tersebut dan pikiran inilah yang pada akhirnya menggerakkan tubuh. Namun ketika seseorang berhenti hanya karena tubuhnya seolah mengajak berhenti dan dalam pikirannya juga bersetuju untuk berhenti, maka orang tersebut telah dikendalikan tubuhnya.

Seorang aktor mesti mengetahui hal terbaik yang bisa dikerjakan meskipun sebenanya ia kurang menyukainya. Artinya, seorang aktor harus tetap berusaha menampilkan yang terbaik meskipun peran yang diterima kurang menyenangkan. Karena keharusan untuk terus bergerak dalam kondisi apapun, maka kemungkinan aktor mendapatkan peran yang tak diinginkan dalam sebuah produksi itu ada. Pada saat ini, aktor harus membangun dalam pikiran bahwa ia bisa menyelesaikan tantangan tak mengenakkan tersebut denga baik. Pikiran ini akan mengarahkan tubuh dan seluruh energi aktor dalam usahanya melewati tantangan. Jika yang terjadi adalah sebaliknya, maka aktor telah menyerah dengan dirinya sendiri dan kehendak untuk terus bergerak menjadi berhenti. Keadaan semacam ini merupakan atmosfer negatif yang semestinya tidak dimiliki oleh aktor.

Dalam bekerja, menerima peran yang ditawarkan misalnya, Brown memberi saran kepada aktor untuk tidak terlalu banyak berpikir melainkan segera mengerjakannya. Hal ini bukan berarti menerima peran tanpa pertimbangan melainkan mempertimbangkan penawaran secara pantas saja. Jika terlalu banyak kalkulasi, memikirkan sisi baik dan buruk, berhitung pemasukan dan pengeluaran, dan hal-hal ribet lainnya maka kerja tidak akan segera dilakukan. Akan lebih baik jika dipertimbangkan seperlunya dan kemudian menerima tantangan tersebut yang bisa jadi justru akan memberikan satu kemajuan. Ketika melakukan satu pekerjaan, maka seseorang akan mendapatkan banyak masukan termasuk dapat memilah mana yang baik dan berguna sehingga dapat terhindar dari atau melewati kendala yang ada. Dalam pekerjaan, seseorang mesti menemukan jalan penyelesain terbaik. Jika jalan tersebut tidak tertemukan, maka perlu membuat jalan sendiri. Begitulah semestinya aktor bekerja.

=== bersambung ===

#WhaniDProject adalah lembaga pelatihan pengembangan diri dan korporasi yg mengambil titik pijak pada psikologi dan keilmuan seni peran dalam teater (psycho theatre). Dua bidang yg ditangani adalah Theatre for Profesional (menangani pelatihan untuk para profesional di bidang masing-masing : komunikasi, public speaking, dll) dan Theatre for Art ( pelatihan calon aktor dan pendalaman materi estetika teater untuk kepentingan sosial kemasyarakatan ). Berdiri 2013, di Yogyakarta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top
%d bloggers like this: