News Pencak Malioboro Festival

PROFIL PENATA GERAK KRIDHA WIRA BUDHAYA

PROFIL PENATA GERAK KRIDHA WIRA BUDHAYA

Sebuah pertunjukan koreografi silat-tari bertajuk Kridha Wira Budaya akan digelar untuk memungkasi acara Pencak Malioboro Festival (PMF) V-2017 di titik 0 km pada hari Minggu, tanggal 20 Agustus 2017 pk 16.00 -16.08 wib.

KINANTHI SEKAR RAHINA
Lahir dari rahim seorang ibu yang sangat ia cintai bernama Threeda Maiyaranti pada tanggal 26 Juli 1989 di Yogyakarta. Ibunya adalah seorang seniman lukis yang sangat menyukai lukisan dengan gaya kubisme, sedangkan ayahnya Jemek Supardi adalah seniman pantomime.

Tidak hanya kegandrungan pada seni yang diwariskan ayah dan ibunya, tetapi juga pandangan hidup. Suatu hari Sekar pernah bertanya pada ibunya tentang arti sebuah “mimpi”. Beliau hanya mengelus kepala Sekar, tersenyum dan berkata,
”Gambarlah pada lembaran kehidupanmu, Nak. Baik dan buruk sikapi semuanya dengan kedewasaan. Tiap hidup yang kau temui itulah warna baru dalam hidupmu. Jangan hapus tapi lukiskan dan goreskan dalam hidupmu. Hingga semua menjadi sebuah karya yang abadi.” Hal itulah yang membuat Sekar semakin yakin untuk berkarya di dunia kesenimanan terutama di dunia tari.

Perjumpaan awal dengan dunia tari bermula disaat Sekar duduk di bangku kelas 5 SD. Sejak saat itu pula Sekar giat menggeluti tari. Mempelajari tari secara akademik di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia Bantul Yogyakarta dengan mengambil kosentrasi di jurusan Tari, setelah sebelumnya menempuh pendidikan di SD Petinggen II Yogyakarta dan SLTP Setella Duce Yogyakarta. Pada tahun 2012 Sekar menyelesaikan S1-nya di Institute Seni Indonesia Yogyakarta Jurusan Tari.

Bagi Sekar, tarian adalah bahasa, jika dunia ini terlalu berisik dengan banyak perintah, kata-kata dan bunyi-bunyi maka lewat tarian Sekar berbicara. Gerakan tubuh dalam tari adalah bahasa tubuh. Ekspresi tubuh akan menggantikan huruf-huruf, teks, bunyi yang berupa kata sebagai tanda yang di dalamnya mengandung makna. Tidak singular namun multi-interpretatif. Tarian Sekar pun seperti ingin mengungkapkan segala hal yang ia alami dalam hidup bersama keluarga, teman-teman dan alam semesta kepada masyarakat.

Menurut Sekar tarian juga bisa menjadi bentuk bentuk pembebasan atau pemberontakan dari stereotipe yang berjalan dalam masyarakat patriarki bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah dan pelengkap bagi kehadiran lelaki. Lewat tarian, Sekar ingin menunjukan bahwa perempuan pun mempunyai ide atau gagasan, mempunyai mimpi dan pemberontakan tersendiri dalam hidup. Bahwa perempuan mempunyai peran yang penting dalam kehidupan, bagi diri sendiri, keluarga, kekasih, teman-teman dan masyarakat. Beberapa tarian yang mengungkapkan hal tersebut lahir dalam judul Donga Drupadi, Jampi Gugat dan tarian yang lain.

Sekar mengakui bahwa dirinya adalah orang Jawa, bagian Indonesia. Ia sangat bangga disebut dan menjadi orang Jawa. Karenanya ia memiliki prinsip dalam menggarap karya, yakni tidak mencabut “akar”nya (budaya) tapi membentuk “akar”-nya menjadi keunikan dan menyatu dalam tubuh. Seni tradisi tetap mengalir di tubuh penari.

Beberapa gagasan dari tarian Sekar terlahir dari cerita-cerita, lagu-lagu, dan pandangan hidup Jawa. Lebih jauh Sekar terkekang dengan pandangan hidup Jawa namun menggali lagi dengan memahami, mengkritisi dan mengkreasi gagasan yang lahir dari pandangan tersebut menjadi karya yang saya sajikan dalam bahasa tubuh yaitu tari.

Penari sekaligus penata tari yang berulangkali melawat ke luar negeri ini memiliki pandangan mendalam perihal pendidikan melalui seni. Katanya,
“Semakin banyak anak-anak menikmati masa kecilnya dengan kesenian dan kebebasan bergerak, menari, menyanyi maka semakin senang mereka dengan keluhuran budaya bangsanya sehingga mereka bisa lebih menghargai hidup dan berkehidupan di tanah airnya.” ****

Leave a Reply