News

Proses Kreatif Body of Zen (2)

Whani Darmawan mencoba menstrukturkan gagasannya dalam proses membentuk pertunjukan “Body of Zen. Berikut adalah treatment yang pernah ditulis, dengan melibatkan berbagai peranti dan perabot seperti drum, biji-bijian, sepatu boot, selendang, ceret, kompor listrik, set pohon, set almari, set bag golf, dan laptop.

Pada saat yang berlangsung pada tanggal 22 Juli 2019, dalam satu sesi diskusi proses, justru barang-barang tersebut tak lagi terpakai, kecuali biji-bijian dan sepatu boot. Setidaknya hal ini lebih mendekati makna verbal Zen yaitu kesederhanaan. Dengan demikian, Whani Darmawan akan lebih banyak bermain dengan dan memainkan tubuhnya.

baca juga : Tentang Pementasan Body Of Zen

Pada tahap ini perubahan juga dilakukan pada judul. “Body of Zen : Beautiful Chaos” yang digagas untuk pertama kali diubah menjadi “Body of Zen : A Wonderful Disorder”. Pemaknaan atas judul ini bisa saja sama, tetapi frasa dan diksi yang ditentukan menurut kreatornya terasa lebih bisa menggambarkan konsep pertunjukan.

Treatment

1. Lelaki terbangun dari tidur. Menyadari dirinya, menyadari tubuhnya, menyadari sekitarnya. Lalu bangkit mengerjakan pekerjaan rumah tangga: melipat selimut, merapikan ini-itu, menjerang air dengan ceret berpeluit. Tak ada gerak dramatik. Hanya gerak keseharian dalam kehidupan. Dan hari yang sunyi perlahan pecah dengan suara-suara keseharian yang kini: dering hp, suara mesin cuci, pemantik kompor, televisi, dan lain sebagainya.

2. Setelah selesai dengan semua yang dilakukan, kemudian lelaki itu membasuh tubuhnya di sebuah ember besar yang berisi biji-bijian. Ia pun mandi mengguyur diri dengan biji-bijian tersebut. Sesudah selesai ia lantas berganti busana layaknya seorang eksekutif. Bersih dan rapi. Ia menyemir rambutnya dengan warna beraneka. Saat mempersiapkan diri ini, musik terdengar tidak melodius dan meneror (suara kuku jari digarukkan di papan tulis, suara besi diadu gesek dan menghasilkan derit yang menyayat, dan lain sebagainya). Setelah itu semua selesai, ia merasa rapi dengan kostum.kantor dari ujung rambut hingga ujung kaki ia pun menenteng tas laptopnya dan berangkat.

3. Sampai di belakang penonton ia menoleh mengamati keadaan rumahnya bersama penonton. Bunyi peluit ceret terus berbunyi. Lalu ia masuk lagi dan berganti busana pemadam kebakaran lengkap, membuka laptopnya di meja, menyalakannya, kemudian bagaikan robot dengan busana pemadam kebakaran lelaki itu memecahkan perabotan seluruh ruangan. Ia Menghancurkannya dengan penuh khidmat dan serius. Samar-samar dari kejauhan di antara suara yang lain terdengar bunyi gendang pakarena. Lelaki ini kemudian melepaskan busana pemadam kebakaran serta hanya menyisakan celana dalam dan sepatu boot. Lalu ia mengenakan topeng garang dan mulai menari dengan tarian yang memperlihatkan kekuatan otot dan ekspresinya. Gendang pakarena menguasai telinga hingga gerak dan bunyi bersama memuncak. Blackout.

4. Lampu menyala. Lelaki itu kelelahan. Kemudian berangkat tidur. Lampu padam. *

One thought on “Proses Kreatif Body of Zen (2)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.