Monolog

A r u s B a l i k – Monolog Whani Darmawan

SEBUAH TENDA SEKEDARNYA, MUNGKIN TERBUAT DARI KAIN SARUNG, JARIK, SELIMUT, ATAU APAPUN SEADANYA. SEMENTARA SESEORANG DUDUK DI LUAR TENDA ITU MENGENAKAN SEPATU VANTOVEL, CELANA HITAM HALUS, DENGAN HEM LENGAN PANJANG PUTIH YANG SUDAH LUSUH, BERDASI LONGGAR SEDANG MENGHADAPI LAPTOP MENYALA. SESAAT KEMUDIAN IA MULAI BICARA.

Menurut analisa geografi, tempat itu masih ada. Tempat itu masih terletak di kawasan Jawa Tengah mepet ke daerah Jawa Timur. Dan menurut data petabuta, ia juga masih ada, bahkan menurut data televisi, radio dan internet live striming juga masih disibukkan oleh kegiatan-kegiatan menakjubkan yang tiada habis-habisnya ; membagi-bagi uang kepada sanak saudara, tetangga, dan ana-anak kecil. Ya, mereka masih sangat aktif. Dan menurut sumber terpercaya dari pusat pemerintahan di ibukota, secara administratif, tempat itu jelas-jelas ada. Tidak dimangsa bencana lumpur raksasa, gempa bumi, atau letusan gunung berapi, atau bahkan trend tsunami akibat mencairnya gunung es raksasa di belahan bumi tertentu. Hmmm…..tapi……hhmm. (JEDA) Bahkan dari perekemahan saya ini, hingga hari ini masih terdengar suara gamelan itu bergaung. Suara patrol dengan irama rantak, dan bilahan saron bergerembyeng, tapi……..TOKOH KITA MENGAMBIL GADGETNYA DAN MENYENTUH-NYENTUHNYA. MELETAKKAN. MENGAMBIL HANDPHONE PINTARNYA DAN MENYENTUH-NEYENTUHNYA.

Bahkan menurut google map semua masih terlihat nyata. Bukankah google map adalah penunjuk arah yang validitasnya sudah diakui dunia?

Entahlah, sudah berapa kali purnama saya menunggu di sini. Setiap kali purnama tiba, bahkan melewati puasa dengan doa-doa dan pengharapan agar saya dipulihkan, semua itu tak terpenuhi. Sia-sia. Saya tak pernah memperoleh pencerahan hisab dan rukyat. Para astronom masih ada, tetapi hisab dan rukyat tak berhasil dipastikan. Aneh. Saya akhirnya kembali ke ke barat dan menunggu purnama selanjutnya. Dan, begitulah….entah kenapa, saya selalu kehilangan diri. Karenanya, biarlah saya hilang sendiri saya daripada anak dan isteri saya ikut hilang di jalan. (JEDA)

Saya kira saya tak perlu takut dan khawatir, karena saya bagian dari jutaan orang yang ada…

SECARA GRADATIF (FADE IN) DI BACKGROUND TERGELAR PERKEMAHAN RAKSASA DI JALAN RAYA. DI SISI LAIN, SEBUAH JALAN RAYA DIPADATI OLEH MOBIL YANG TAK BERGERAK DAN SAMPAH DI MANA-MANA. KEMUDIAN BERJALAN MENDEKATI LAPTOPNYA DAN BERGANTI-GANTI MEMAINKAN DENGAN HANDPHONE DAN GADGETNYA.

Apa sekarang ini yang tak bisa diretas dalam kehidupan? Saya tak perlu hadir di tempat kerja untuk menyelesaikan deadline yang diberikan kepada saya. lama kelamaan saya terbiasa. Karena terbiasa saya menjadi percaya. Percaya bahwa segala sesuatu sekarang ini benar-benar berada dalam genggaman kita. Tetapi, rupanya kebiasaan itu menyertai dengan seluruh virus-virus yang berada di dalamnya. Mungkinkah seseorang menjadi transendence total sebagaimana Dr. Will Caster yang ingin sekali menciptakan kehidupan manusia yang maha sempurna, yang bisa mengendalikan dirinya secara total hingga pada titik kematian, bahkan kebangkitannya kembali?[1] Jika memang sempurna, mengapa Dr Will Caster harus mati dua kali? Ataukah itu jumlah yang bersifat ‘baru?’ Baru dua kali! Benarkah?? Ouuffff… TOKOH KITA MENGERANG. TERDENGAR SEPERTI SUARA RINDING DI KEJAUHAN BERBAUR DENGAN KOMPOSISI SUARA BEDUG YANG HALUS DAN MENCEKAM.

Suara-suara itu menjelma hantu dalam hidup saya. Ia seperti hantu. Teror . Seolah hantu itu tahu kalau saya akan sangat sensitif dengan suara-suara itu, dan karenanya ia hadir terus setiap tahun untuk menakut-nakuti saya. (JEDA, MENARIK NAPAS DALAM) Saya rindu. Saya sungguh kangen. Tetapi saya tak bisa. Hantu itu tahu, saya rindu, tetapi saya tak bisa. H..hh…..oh sialan! (JEDA)

SUARA RINDING YANG BERKOMPOSISI DENGAN BEDUG DI KEJAUHAN ITU KIAN MISTIS. BERSAMAAN DENGAN ITU MUNCUL GAMBAR-GAMBAR/ FLASHES INI ; (1) PERISTIWA KELAHIRAN (2) PERISTIWA PERNIKAHAN (3) PERISTIWA KEMATIAN/ GAMBAR KUBURAN (4) SESEORANG MELARUNG ABU DI LAUTAN ; ATAU KATAKANLAH POTRET DIRI DALAM BANJARAN KEHIDUPAN.

Setelah saya pergi waktu itu, beberapa purnama kemudian saya baru mengerti kalau saya tak mungkin bisa kembali. Sudah saya coba hingga beribu kali. Menurut data dan analisa geografi, astronomi, sosiologi, politik, tempat itu masih ada. Tetapi setiap kali berkunjung ke sana, memang, saya menemukan rumah itu. Tetapi rumah itu tidak lagi punya pintu. Saya tak bisa memasukinya, saya lupa tempat menyimpan kuncinya dan bahkan arah pintu rahasia pun saya lupa. Rumah itu sungguh tidak menyediakan pintu buat saya untuk kembali. Atau saya yang barangkali melupakan letak-letak pintunya?

TERDENGAR SUARA-SUARA ORANG BERCAKAP-CAKAP DENGAN DIALEK JAKARTA MEDOK JAWA. MENYUSUL KEMUDIAN GAMELAN DITALU, DITINGKAHI SUARA RINDING, BERPADU DENGAN KOMPOSISI BEDUG. SUARA TAKBIR — MESKI TERDENGAR –– LEBIH LAMAT DARI SUARA APAPUN YANG ADA DI SITU.

Omahkebon, kamis, 1437 H, Juli 2016.

[1] Dr. Will Caster adalah tokoh dalam film fiksi ilmiah Transendence arahan sutradara Wally Pfister, berdasar skenario cerdas Jack Paglen. http://id.mwikipedia.org/wiki/trancendence

Lagu oleh bapak Heribertus Dian Hartopo alias Giwang Topo.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.