Eduteater

Rangkuman Latihan TbR Level 2 (27 Juni dan 2 Juli)

Rangkuman latihan ditulis oleh : M. Dinu Imansyah

Menyadari bahwa metode Theatre by Request (TbR) yang selama ini dilakukan masih sebatas perkenalan pada dunia teater, khususnya pada bagaimana seorang aktor berani untuk tampil dan melakoni aturan-aturan yang ada pada nomor-nomor tertentu, Mas Eko Ompong berinisiatif untuk mengembangkan lagi metode TbR-nya ke level yang lebih lanjut. Jika pada metode TbR yang biasa kita kenal (sebut saja level 1),  lebih menekankan pada internalisasi aktor, bagaimana seorang aktor berani untuk melakoni sebuah peristiwa, pada TbR “level 2” ini aktor dituntut untuk mampu membaca dan menghadirkan sesuatu di luar dirinya (eksternal), entah apakah itu memahami karakter dan sejarah orang lain atau menghadirkan karakter yang sama sekali berbeda dari karakter asli seorang aktor sehari-hari.

Latihan 27 Juni 2018

PENUTURAN KISAH TEMAN

Langkah-langkahnya:

  • Peserta diminta untuk bekerja secara berpasangan lalu saling menceritakan salah pengalaman pribadinya masing-masing.
  • Berikutnya, salah satu peserta maju dan menceritakan kembali pengalaman pasangannya sedetail mungkin dan apa adanya.
  • Selanjutnya, penceritaan ini kembali dilakukan tapi kali ini sang pencerita harus menceritakannya dengan emosi atau nuansa tertentu misalnya sedih, marah, lucu dan lain sebagainya, tidak peduli apapun isi ceritanya. Sang pencerita juga diperkenankan untuk mengembangkan atau menambahkan unsur cerita demi mendukung nuansa yang ingin (dan harus) dihadirkan.

Dari kedua proses ini (menceritakan tanpa dan dengan emosi tertentu), seorang aktor mulai dituntut untuk mampu mengreasikan sebuah peristiwa. Dimulai dari menghadirkan sebuah peristiwa apa adanya, sesuai fakta yang dia dapatkan, lalu beranjak pada bagaimana dia menghadirkan fakta itu dengan intervensi tertentu, dalam hal ini merubah atau mengarahkan nuansa sebuah peristiwa pada nuansa tertentu.

Ada dua hal yang dilatih melalui latihan ini:

  • Aktor dilatih untuk menghadirkan peristiwa apa adanya, sesuai fakta.
  • Aktor dilatih untuk mampu memodifikasi peristiwa itu ke arah suasana, nuansa atau bahkan pemaknaan tertentu melalui merubah emosi dari peristiwa itu. 

Latihan 2 Juli 2018

KARTU KARAKTER

Langkah-langkahnya:

  • Dua orang aktor secara acak diminta untuk maju dan tiap orang harus memilih salah satu kartu karakter yang disiapkan Mas Eko. Satu kartu memiliki satu karakter (atau profesi) yang berbeda dengan kartu yang lain.
  • Selanjutnya, kedua aktor akan melakukan interaksi tanpa harus menyebutkan apa dan siapa karakter yang mereka perankan. Yang penting melakoni saja.
  • Sama halnya dengan TbR level 1, konstruksi pertunjukan harus disusun dari awalan, konflik, dan solusi/penutup.

Latihan ini yang jelas menuntut wawasan dan kemampuan observasi seorang aktor atas profesi tertentu. Semakin banyak wawasan yang dia miliki tentang sebuah karakter atau profesi, semakin mudah pula baginya untuk menghadirkan karakter tersebut, sekaligus semakin kaya pula cara seorang aktor dalam menghadirkan sebuah karakter atau profesi tanpa terjebak pada stereotype tertentu. Misalnya seorang tentara tidak harus selalu melakukan sikap baris-berbaris sepanjang waktu, sebagai manusia biasa, dia juga bisa melakoni hal-hal seperti yang awam dilakukan manusia lainnya, tentu tantangannya tetap pada bagaimana mampu menghadirkan kualitas seorang tentara tanpa harus membuatnya tampak jenaka karena harus melakoni aktivitas-aktivitas yang klise semacam baris-berbaris, memanggul senjata dan lain sebagainya.

Sehubungan dengan pernyataan sebelumnya, itulah mengapa TbR selalu berusaha menghindari penggunaan kostum atau tata rias yang menggambarkan karakter tertentu seperti dalam pertunjukan teater realis. Sedapat mungkin kostum yang dikenakan netral dan tidak merujuk pada karakter khusus. Yang penting adalah kualitas sebuah karakter yang mampu dihadirkan.

Mas Eko mengingatkan, konsisten pada karakter yang diperankan memang baik, tapi ketika sudah berinteraksi dengan lawan main, seorang aktor harus paham konteks yang sedang dilakoni. Teater adalah tentang membangun peristiwa bersama-sama. Bagaimana seorang aktor mampu mempertemukan karakter yang dia perankan dengan karakter lawan main demi membangun sebuah konteks atau peristiwa tertentu.

Pada tahapan berikutnya, Mas Eko menentukan sebuah lokasi tertentu. Misalnya pantai, hutan, dan lain sebagainya. Menyepakati ruang yang sama ini penting untuk sama-sama bisa berperan dalam konteks yang sama.

Mas Eko mengibaratkan beberapa orang dengan latar belakang profesi dan karakter yang berbeda-beda sedang menyaksikan pertandingan sepak bola. Pasti cara mereka masing-masing dalam mengomentari atau menikmati pertandingan berbeda-beda meskipun mereka sama-sama mendudukkan diri sebagai penikmat dan pemerhati sepak bola.

Pada latihan yang menggunakan konteks ruang tertentu ini, tantangannya bertambah menjadi bagaimana seorang aktor selain mampu menghadirkan dan mempertahankan karakter yang dia perankan adalah juga bagaimana seorang aktor mampu menghadirkan dan menjaga sebuah ruang sebagai konteks yang dilakoni bersama aktor lainnya.

KARTU EMOSI

Langkah-langkahnya:

  • Sama halnya dengan “Kartu Karakter”, bedanya kali ini bukan karakter melainkan emosi seperti ragu-ragu, jatuh cinta, frustasi, dendam dan lain sebagainya.

Melakoni sebuah peristiwa dengan menghadirkan emosi tertentu jelas lebih menantang dari latihan sebelumnya yang menghadirkan karakter tertentu. Sebab emosi jelas lebih mudah berubah dari karakter, terlebih lagi ketika harus dihadapkan pada interaksi dengan orang lain. Emosi memiliki sifat menular, jadi dengan siapa kita berinteraksi, biasanya kita memiliki kecenderungan untuk mengikuti emosi yang dia alami. Ini sudah sifat alamiah manusia yang memiliki kecenderungan untuk empati terhadap emosi orang lain.

Salah satu metode untuk menjaga emosi tertentu adalah mengatur dan menjaga bentuk fisikal tertentu, misalnya ketika sedih, biasanya tubuh cenderung “mengatup” (bahasa Jawa: mingkup) atau membungkuk, sedangkan jika marah, tubuh cenderung “terbuka”.

Jika dihubungkan dengan kartu karakter sebelumnya, metode menjaga bentuk fisik ini tidak melulu harus ditampilkan secara visual, bisa juga dihadirkan dengan dialog tertentu. Misalnya seorang penebang pohon tidak harus selalu digambarkan membawa gergaji, alat pengukur dsb tapi dengan dialognya bisa berbincang tentang perangkat apa saja yang dibutuhkan, ukuran pohon, misalnya.

Mas Eko selalu menekankan bahwa dalam memerankan nomor-nomor yang dihadirkan di TbR, seorang aktor harus tidak boleh lepas dari dirinya sendiri tapi tetap harus selalu menantang diri untuk mengembangkan karakter dirinya melalui keinginan menghadirkan karakter tertentu. Dalam hal ini banyak variabel yang harus dikuasai dalam menghadirkan sebuah karakter tanpa harus menghilangkan dirinya sendiri seperti memiliki wawasan yang luas dan mendalam akan latar belakang sebuah karakter, memiliki empati akan peristiwa yang dialami sebuah karakter, hingga memiliki kesadaran akan ruang yang dilakoni atau didiami sebuah karakter.

Apapun metodenya, Mas Eko selalu menekankan bahwa yang paling penting dalam membangun sebuah peristiwa teater adalah keikhlasan. Keikhlasan di sini maksudnya adalah bagaimana mampu memahami dan menerima apa yang ditawarkan oleh lawan main lalu bersama-sama membangun sebuah nuansa atau peristiwa tertentu.

Keikhlasan ini yang seringkali luput disadari dan dilakoni, bahkan bagi seorang aktor yang sudah lama berproses sekalipun.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.