Sebuah Catatan Akhir Tahun 2019

Pada awalnya, Whanidproject (WDP) dicita-citakan sebagai team work dengan fokus dukungan artistik dan manajerial atas kinerja Whani Darmawan (WD) sebagai seniman seni peran dan tulis. Pada perkembangannya, WDP tak lagi berorientasi eksistensi personal, melainan subyek itu sendiri yakni seni teater dan anasir artistik yang melingkupinya. Program kegiataan kemudian dirumuskan ke dalam tiga besaran yaitu; (1) Theatre for Art, dengan fokus pada proses penciptaan seni, (2) Theatre for Profesional, dimaksudkan sebagai wahana berbagi ilmu teater untuk kepentingan masyarakat dan para profesional di bidangnya, dan, (3) Edutheatre yang merupakan program pelatihan teater secara struktural dan mendasar. Untuk mengakomodasi tiga besaran program tersebut, WDP membentuk semacam manajemen kerja.

Dalam perjalannnya, sejak pertama dicanangkan, tercatat beberapa event yang pernah dilakukan yaitu;

  • Tahun 2013, pementasan monolog “Sang Pendeta dan Kekasihnya”, kolaborasi dengan Mlenuk Voice di Museum Affandi Yogyakarta.
  • Tahun 2013, pementasan teater tubuh “Pandito in Love Body Version” di Asia Tri 2013, Karangklethak Sleman dan Katzuragawa Jepang.
  • Jumat 27 Desember 2015, sebagai event organizer pementasan “End Game”, Teater Creamer Box, Bandung
  • Tahun 2015, di Manado, Pelatihan SDM Pemuda oleh Bank Indonesia
  • Tahun 2016, Kuliah Umum Teater, Persebaran Sistem Stanislavsky oleh Eko Santosa. Berlangsung di UNY, TBJT Surakarta dan Oensoed Purwokerto
  • Tahun 2017 pementasan teater “Semangkuk Sup Makan Siang atau Culturstellsel” karya/ sutradara Hedi Santosa. Pentas di Yogyakarta, Jakarta, Surabaya, dan Kudus.
  • Tahun 2017, penerbitan buku kumpulan lakon monolog “Sampai Depan Pintu” karya Whani Darmawan
  • Tanggal 15-16 Desember 2017, Festival Monodrama Nusantara (Singapura-Malaysia-Indonesia) di Pascasarjana ISI Yogyakarta
  • Tanggal 29-30 November 2018, pementasan “Luka-Luka yang Terluka”, di Play Den ArtHouse Parliementary of Singapura
  • Tanggal 2 Agustus dan September 2019 pementasan “Body Of Zen; Wonderfull Disorder”, di Art Jog  dan Asia Tri Akita, Japan.
  • Bulan Mei-September 2019, penulisan dan penerbitan buku “Jejak Perkembangan Lakon Luka-luka yang Terluka” bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan Yogyakarta.
  • Tanggal 19 Desember 2019, launching buku “Luka-luka Yang Terluka” di Rumah Banjarsari, Surakarta, bersama Sha Ine Febriyanti, Eko Ompong dan Indah Darmastuti.

Menyimak geliat kegiatan dari tahun 2013 hingga 2019, ada yang kosong dari kegiatan, yaitu 2014, pun pada tahun 2015 Whanidproject tidak memproduksi apapun kecuali menjadi penyelenggara pementasan teater Creamer Box, Bandung. Baru pada tahun 2016 dan selebihnya hingga tahun 2019 lebih terencana dan tertata. 2017 adalah saat perencanaan yang lebih matang dengan agenda ‘Festival Monodrama Nusantara’ dan mendatangkan tamu dari dua negara, Malaysia dan Singapura. Selebihnya Whanidproject mencoba menggeliat dengan kegiatan yang perencanaanya dilakukan secara jarak pendek.

Dalam meluaskan ide-idenya, WDP juga membuat website yang menyediakan kolom tulisan sesuai tiga besaran program, ‘theatre for Art, theatre for professionalss, edutheatre’ serta tambahan yang selalu muncul di hari senin adalah Mondays Quote, nukilan pemikiran dari berbagai tokoh yang brangkali bisa menginspirasi orang lain. Hanya saja sampai dituliskannya catatan ini, pengelolan website tersebut kami akui belum maksimal. Beberapa rubrik masih sering kosong dari tulisan hangat yang baru. Hanya Mondays Quote dan edutheatre yang diampu oleh Eko Santosa kontinyu hadir.

Semua ketidakkonsistenan langkah Whanidproject di tahun 2019 dan sebelumnya sangat bisa kami rasakan dan akui. Karena itu hal ini cukup bisa untuk refeleksi diri dan menentukan langkah ke depan dan memperjelas visi-misi kami.

Tahun 2020 Whanidproject merencanakan untuk melanjutkan kembali program pendokumentasian dengan mengelola pemikiran dan reproduksi akhir Insya Allah adalah 3 buah buku;

  1. “Berperan Sebagai Aktor” – sebuah rekaman pemikiran dan proses kreatif keaktoran Whani Darmawan,
  2. “Menelusuri Kembali System Stanislavsky” sebuah catatan mengenai sistem Stanislavsky ditinjau dari sudut pandang pelaku teater Indonesia, dan
  3. Sebuah penelitian tentang “Magnetisme Aktor”.

Ketiganya bukanlah janji produksi, melainkan upaya kegiatan. Ya, 2020 menjelang, Whanidproject akan melangkah lebih ringan dengan berbagai kegiatan kecil namun terencana. Yang menjadi fokus perhatian kami sekarang adalah bahwa kegiatan-kegiatan tersebut mesti bisa nyata menjumpai masyarakatnya. Satu lagi program tahun 2019 yang terus akan digulirkan di tahun 2020 adalah upaya launching buku “Luka-uka Yang Terluka – Jejak Perkembangan Lakon” di beberapa kota. Tercatat yang sudah ditawarkan adalah Pekalongan dan Surabaya. Semoga semua menjadi nyata! Selamat tahun baru 2020. Setiap tahun adalah kemenangan!

#WhaniDProject adalah lembaga pelatihan pengembangan diri dan korporasi yg mengambil titik pijak pada psikologi dan keilmuan seni peran dalam teater (psycho theatre). Dua bidang yg ditangani adalah Theatre for Profesional (menangani pelatihan untuk para profesional di bidang masing-masing : komunikasi, public speaking, dll) dan Theatre for Art ( pelatihan calon aktor dan pendalaman materi estetika teater untuk kepentingan sosial kemasyarakatan ). Berdiri 2013, di Yogyakarta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top
%d bloggers like this: