Eduteater

SELINTAS TENTANG PANTOMIM – 2

SELINTAS TENTANG PANTOMIM – 2

Baca juga : SELINTAS TENTANG PANTOMIM – 1

Alexander Iliev (2014) mengungkapkan bahwa pantomim termasuk dalam seni komunikasi non verbal. Pantomim adalah salah satu tipe teater, teater adalah (menggunakan) lakon, lakon memiliki elemen komunikasi non verbal, dan komunikasi non verbal terungkapkan dengan baik melalui pantomim. Pantomim merepresentasikan kemungkinan untuk memotret segala hal yang terjadi dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain, tidaklah perlu membuktikan sisi kemanusiaan sebagai instrumen pokok dalam pantomim (Alexander Iliev, 2014:17). Dari penjelasan singkat ini didapatkan gambaran bahwa seni pantomim tidak hanya menggambarkan atau menceritakan manusia saja.

Pantomim termasuk teater gerak yang istilahnya bersandingan dengan mime. Pantomim dan mime pada masa Yunani dan Romawi kuno digunakan untuk menyebutkan seni gerak ekspresif, namun secara umum perbedaanya adalah dalam mime, pemeran mengkombinasikan kata-kata dan gerak. Mime berasal dari bahasa Yunani “mimos” dan bahasa Romawi “mimus” yang berarti peniru merupakan komedi pendek dalam bentuk prosa atau bait sajak yang memotret kehidupan dan ditampilkan melalui gerak ekspresif atau dalam bentuk tari. Khusus di masa Romawi gerak-gerak ekspresif ini lebih banyak ditampilkan dibanding penggunaan kata-kata. Mime juga digunakan untuk menyebut aktor dalam drama sebagaimana halnya pelawak dalam pertunjukan hiburan. Di masa Yunani Kuno, mime digunakan untuk menyebut siapa saja  yang membuat tawa. Mime menurut Margarete Bieber memiliki dua arti yaitu drama tanpa topeng yang menampilkan cerita kehidupan dan aktor dalam drama tersebut (Annette Lust, 2003:1).

Meskipun pada masa sekarang pantomim secara umum dipahami sebagai bentuk pementasan sementara mime atau pantomimer adalah orangnya, namun dalam kesejarahannya pantomim hampir tidak bisa dibedakan dengan mime. Pantomim jika ditarik dari bahasa asalnya Yunani merupakan gabungan dari pantos yang berarti segalanya dan mimos yang berarti peniru. Kelahiran pantomim bermula ketika resitasi dan lagu dipisahkan dari seni meniru (mimetic art). Sementara di masa Romawi, pantomim justru menunjuk pada pemeran yang mengenakan topeng untuk menggambarkan objek maupun binatang pada saat penyanyi atau chorus tampil. Di Yunani Kuno, pemeran ini disebut sebagai orchestes atau aktor-penari (Annette Lust, 2003:1).

Pada jaman Kuno, aktor pantomim adalah orang yang bisa berakting sekaligus menari. Hal ini dikarenakan ia bisa menampilkan gerak secara ekspresif dan ritmis. Sementara itu dalam Abad Pertengahan, mime memiliki banyak arti. Ia tidak hanya digunakan untuk menyebut pemeran namun juga digunakan untuk menyebut seni gerak yang dilakukan oleh semua penghibur di atas panggung. Namun sejak abad XVI, makna pantomim telah berkembang menjadi semua jenis pertunjukan yang ditampilkan tanpa suara dan tidak merujuk pada aktornya (Annete Lust, 2003:2). Dengan demikian menjadi jelas mengapa pantomim merujuk pada pertunjukan dan mime lebih mengarah pada penampilnya. Sebagai seni gerak pantomim dapat memotret realita kehidupan dimana gerak yang ditampilkan didasarkan pada peniruan aktivitas sehari-hari kehidupan manusia. Ia juga dapat memotret gerak hewan dan tumbuhan. Bahkan pantomim dapat menampilkan gerak murni atau gerak yang tidak menggambarkan aktivitas keseharian manusia, binatang ataupun tumbuhan namun memiliki makna tertentu. (**)

Dinukil dari: Eko Santosa. 2015. “Bermain Peran” Modul Pembelajaran Guru Seni Teater SMK. P4TKSB Yogyakarta

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.