Eduteater

SELINTAS TENTANG PANTOMIM – 3

SELINTAS TENTANG PANTOMIM – 3

Tidak dapat diketahui dengan pasti dan akurat kapan teater yang berkaitan dengan pantomim lahir di Eropa. Awalnya, permainan pantomim bukanlah merupakan sebuah (pertunjukan) teater seperti yang kita ketahui hari ini. Penduduk pribumi mempertunjukkan tarian sebagai harapan suksesnya sebuah perburuan, mereka mensukuri ditemukannya mata air dengan tarian dan nyanyian atau mensukuri panen ikan yang melimpah. Para performer (aktor) mengenakan topeng atau melukisi wajah mereka untuk mengekspresikan diri mereka seperti halnya dewa-dewa yang dipuja. Ritual semacam itu belum bisa dikatakan sebagai pertunjukan teater, seperti yang kita lihat saat ini. Semua masih sebatas sebuah upacara pemujaan. Belum ada jalinan cerita atau plot baku selain dari perjalanan tata cara ritual itu sendiri. Dari kegiatan itu kemudian tumbuh satu kebudayaan dimana masyarakat mulai meniru. Tindak meniru merupakan representasi isi atau makna ritual yang mereka kerjakan. Mereka kemudian memulai meniru manusia lain atau dewa-dewa melalui diri dan komunitas mereka sendiri.

Kira-kira 2500 tahun yang lalu proses seperti itu berlangsung di Yunani. Teater orang-orang Yunani lahir dari ritus pemujaan Dionysos. Dionysos adalah dewa kesuburan, anggur, dan pertanian. Ritus pemujaan Dionysos ini masih merupakan upacara murni yang berisikan tentang tragedi persembahan demi kesuburan. Ritual ini begitu dikenal di masyarakat Yunani sehingga akhirnya terselenggaralah Festival Dionysos. Festival ini menyajikan cerita tentang Dewa Dionysos dan pada akhir festival ditentukanlah peserta terbaik. Karena festival ini pulalah tragedi Dionysos menjadi terkenal dan disajikan dalam bentuk-bentuk kreatif.

Baca juga : SELINTAS TENTANG PANTOMIM – 1
Baca juga : SELINTAS TENTANG PANTOMIM – 2

Karena pesona festival Dionysos yang begitu semarak maka orang-orang Yunani membangun gedung teater untuk pertama kalinya. Dari sinilah kemudian nama teater muncul yang berasal dari kata “theatron” dan berarti gedung tempat pertunjukan berlangsung. Akhirnya, “theatron” tidak hanya berarti gedung pertunjukan tetapi menunjuk ke pertunjukannya itu sendiri. Jadi dapat ditarik kesimpulan dari paparan di atas bahwa istilah teater susai asal katanya berasal dari Yunani. Bahkan banyak kata dasar yang sampai sekarang masih digunakan dalam perteateran di barat berasal dari bahasa Yunani seperti; Drama, Chorus, Tragedi, Komedi dan Scene.

Kemudian di Italia kebudayaan Yunani kuno diintegrasikan ke dalam Kekaisaran Latin. Tetapi tragedy dan komedi tidak pernah bisa menyentuh atau melampaui aslinya. Dalam masa-massa kemunduran teater dramatik kuno, pantomim lahir. Pantomim merupakan pertunjukan indah yang penuh dengan tari, nyanyian dan kejadian-kejadian tak terduga. Satu kali seorang penampil (performer/aktor) menggunakan 600 keledai dalam sebuah pertunjukan dan menggabungkannya dengan aksi-aksi akrobat yang semarak dan menyegarkan. Akan tetapi pantomim pada masa ini tidak bisa disamakan dengan pantomim seperti sekarang. Pertunjukan lebih merupakan luapan ekspresi sebagai wahana baru kreatifitas yang berbeda dengan model pertunjukan dramatik. Struktur bisa jadi sangat bebas dan ploting ceritapun lepas dari kebiasaan pertunjukan teater jaman itu. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa pertunjukan pantomim awal dapat dikatakan sebagai bentuk eksplorasi teater yang terjadi pada saat itu untuk lepas atau mengatasi kejenuhan bentuk teater dramatik kuno.
Di dalam abad pertengahan pertunjukan pantomim digunakan hanya untuk kepentingan dan upacara-upacara keagamaan. Para aktor, menjadi semakin tidak berarti, mereka bekerja hanya sebagai penghibur. Kondisi ini terjadi karena pengaruh keagamaan yang sangat kuat sehingga alur sebuah pertunjukan selalu dikaitkan dengan satu rangkaian upacara keagamaan. Pantomim yang dihadirkan sebagai bentuk penyegaran (hiburan) juga tidak bisa lepas dari norma dan kaidah satu perjalanan ritual tersebut. Dengan demikian, para seniman tidak bisa lagi bebas berekspresi sesuai kehendak hatinya.
Dalam abad 16 teater kembali mengalami kebangkitan yang penting dengan gemerlap dan pesona grup teater Commedia dell Arte dari Italia. Struktur pertunjukannya sangat sederhana dan para aktor banyak berimprovisasi dan tidak jarang mereka sangat lihai melakukannya. Teater menjadi profesi. Tipikal dalam Commedia dell Arte adalah penggunaan topeng dan pembagian peranan yang merepresentasikan perbedaan-perbedaan sosial dan geografi; Pantalone – Seorang Saudagar, Dottore – Seorang Dokter atau Pengacara, Capitano – Seorang Tentara, Harlekino – Seorang Pembantu dan lain sebagainya. Cerita yang ditampilkan biasanya memuat gurauan atau sindiran terhadap kondisi yang sedang terjadi. Melalui tokoh-tokohnya Commedia dell Arte tampil secara memukau dan berhasil meretas kejenuhan terhadap model teater yang telah ada.

Pada era yang hampir bersamaan di Inggris, teater modern melahirkan satu pengarang terpenting, William Shakespeare. Di Eropa kita bisa menyebut bahwa teater modern benar-benar dimulai darinya. Perkembangan pertunjukan teater dramatik gaya Shakespearean menjadi populer dan menarik minat. Satu hal yang menarik dan patutu dicatat adalah, di satu sisi (Italia) Commedia dell Arte berkembang pesat sedangkan di Inggris pertunjukan dramatik konvensional mulai mekar dan mendapatkan banyak pujian. Pengaruh Shakespeare ini kemudian seolah-olah mengukuhkan kembali kehadiran teater dramtik kuno tetapi dengan gaya tampilan yang lain. Hal ini mengakibatkan pertunjukan pantomim secara khusus dan mandiri pada saat ini kita tidak bisa didata dengan baik. Kalaupun ada, pantomim masuk menjadi bagian kecil dari teater seperti tari dan pertunjukan slapstick pendek.
Pantomim populer seperti yang kita ketahui hari ini, lahir pada permulaan abad 19 dengan aktor terkenal dari Perancis Jean Gaspard “Baptist” Deburau in Paris. Ia mendapatkan inspirasi untuk cerita dari kehidupan sehari-hari di Paris, dengan keadaan dan karakter yang sesungguhnya. Makna pantomim pada masa ini sudah mengarah kepada sebuah pertunjukan, di mana penampil mengekspresikan diri hanya dengan gesture dan mimik. Penampil itu sendiri dapat disebut sebagai Pantomim. Asal kata ‘mime’ diambil dari kata kerja bahasa Yunani ‘mimeomai’ yang secara harafiah berarti menirukan suara alam. Pantomim yang baik adalah sangat lihai dalam menciptakan karakter berbeda-beda hanya dengan gesture dan gerak tubuh. Hal ini membutuhkan keahlian tinggi dan seperti yang disebutkan oleh orang-orang tentang Deburau bahwa pantomimnya mempunyai pengaruh emosi yang kuat seperti halnya (dibandingkan) musik atau puisi.

Pada permulaan abad 20 lahirlah sebuah jaman dengan reformasi dan perubahan besar-besaran dalam teater. Pada tahun 1921 Jacques Copeau membuka sekolah teater baru di Perancis. Gagasannya adalah mempersiapkan para aktor, sebelum mereka masuk ke dalm teater yang menggunakan suara, untuk mengekspresikan diri mereka dengan tubuh. Salah satu muridnya adalah Etienne Decroux. Ia mengembangkan ‘mime murni’, sebuah bentuk seni impresif. Decroux menciptakan perbendaharaan kata dramatik yang dapat diaplikasikan ke dalam teater oleh para aktor. Teori dan model-model latihannya menjadi bagian yang kuat dalam pendidikan teater dan pantomim. Salah satu murid Decroux, Marcel Marceau menyegarkan kembali ‘mime murni’. Ia ingin menampilkan cerita-cerita sederhana tentang manusia dan pergulatan takdir mereka (secara umum), untuk itu ia menciptakan karakter yang disebut BIP. BIP adalah semacam (tokoh) pahlawan umum yang popular dan (bisa jadi) siapa saja.
“Mime murni” mencoba mengekspresikan cerita, karakter tokoh, suasana dan lain sebagainya melalui mimik dan aksi badani yang lain. Pertunjukan model ini seolah-olah tampil dalam kesunyian karena disajikan tanpa suara yang biasanya dalam teater konvensional hal ini dimunculkan melalui ucapan atau dialog para tokohnya. Karena hadir dalam sunyi ini maka “mime murni” harus mampu menyedot perhatian penonton melaui laku fisik dan ekspresi mimik yang intens, kontinyu serta penuh penghayatan. Model pertunjukan yang dkembangkan baik oleh Decroux ataupun Marceu ini dapat ditampilkan secara mandiri dan bukan merupakan bagian atau salah satu sesi dalam petunjukan teater umum. Hal inilah yang kemudian berkembang di kalangan masyarakat dan kemudian disebut sebatai pertunjukan pantomim seperti yang kita ketahui sekarang.

Tetapi melalui perjalanan dan perkembangannya banyak trend dalam pantomim. Beberepa memiliki hubungan yang kuat dengan tradisi sirkus, yang lain mengambil penekanan pada ekspresi-ekspresi badaniah. Selalu saja ada penggabungan (kombinasi) dari berbagai gaya yang berbeda dengan teater yang menggunakan media suara, tari, akrobat dan lain sebagainya. Banyak sutradara teater modern yang menghendaki aktornya memilki kecakapan dalam bidang bahasa dan kualitas badani dalam berkarya. Mereka kembali ke akar teater kuno, di sana mereka menampilkannya dengan cara yang tak konvensional. Hal ini menuntun mereka (aktor) menuju ke ritual di Asia dan Afrika dan di sisi lain membawa mereka ke kebudayaan domestik Eropa. (O)

Diterjemahkan secara bebas dari makalah, “Pantomime and Theatre” yang disampaikan oleh Steffen Findeisen dalam Workshop Pantomim di Studio Teater Yogyakarta. 20106.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.