Seputar Akting Untuk Film Part-2

Seputar Akting Untuk Film Part-2

Oleh: Eko Santosa

Ketika aktor sudah menjalin keakraban dan memahami kekasih setianya yang bernama kamera, bukan kemudian akting di depannya akan menjadi mudah. Untuk menampilkan tindakan realistik dan dapat dipercaya di depan kamera membutuhkan kemampuan berakting yang tidak main-main, diperlukan latihan ketat dan disiplin dalam mengaplikasikannya. Akting di film selalu tidak mudah seperti kelihatannya. Meski demikian, selama beberapa dekade belakangan akting film mengembangkan harapan yang membanggakan. Sebagian karena kemajuan teknologi yang dapat diterapkan di dalamnya. Sebagian karena kebutuhan sebanding ketersediaan akan aktor dan sutradara. Sebagian lainnya dikarenakan pergerseran peminatan dan ekspektasi penonton film. Meski tidak mudah, karier di film benar-benar sangat diminati.

Hal yang paling tidak mudah bagi aktor berkarir di film adalah ketika seorang penonton mengenali bahwa dia nampak berakting di dalam film yang ia saksikan, maka aktor tersebut dapat dikatakan telah gagal. Ya, aktor itu gagal karena topengnya terbuka. Ia telah nampak seolah sedang “mempertunjukkan diri” dan bukannya menghidupkan peran. Ia telah membuka selubung privasi karakter yang ia perankan. Kediriannya sebagai aktor dikenali dan dengan demikian ia telah mengubur karakter yang ia perankan. Penonton akan mengingatnya sekedar sebagai seorang aktor yang mendapatkan bayaran untuk berperan. Pada detik ini, seni ilusi menjadi buyar. Jika kondisi ini terus bertahan, maka karir menjadi taruhannya.

Baca juga : Seputar Akting Untuk Film Part-1

Dalam sejarahnya banyak aktor film berasal dari tradisi teater panggung. Tidaklah mengherankan kemudian ketika mereka berperan sebagaimana pentas di atas panggung. Mereka tidak sekedar mengucapkan baris kalimat dialog tokoh namun lebih dari itu, mereka seolah berorasi agar suaranya menjangkau kursi terbelakang penonton. Namun pada industri film awal, kekuatan vokal ini masih diperlukan karena microphone masih dipasang statis. Mik diletakkan sedemikian rupa, bahkan di antara atau di dalam set, agar tidak terlihat oleh kamera namun terjangkau suara aktor. Ketika aktor tersebut bergerak menjauh dari letak mik, maka otomatis ia akan meninggikan volume suaranya. Namun seiring perkembangan teknologi, hal itu tidak berlaku lagi. Mik dibuat dengan ukuran mini dan dapat disembunyikan di dalam pakaian aktor sehingga kemanapun ia pergi ia tidak akan menjauh dari mik. Bahkan kualitas microphone pun sudah sangat baik sehingga desah atau bisikan aktor akan terdengar. Dengan kondisi seperti ini, aktor tidak perlu meninggikan suaranya. Bahkan ia harus melakukan yang sebaliknya. Kemajuan teknologi dengan demikian sangat berpengaruh dalam seni akting. Keterpengaruhan ini membawa keniscayaan akan realitas peran dan pemeranan. Aktor dalam film dapat berbicara seperti orang berbicara dalam kehidupan nyata. Berbeda dengan kondisi teater panggung di mana sampai hari ini aktor tetap harus memiliki power dalam berbicara demi menjangkau penonton terjauh.

tobe continued…..

1 thought on “Seputar Akting Untuk Film Part-2”

Leave a Reply