Seputar Akting Untuk Film Part-3

Seputar Akting Untuk Film Part-3

Oleh: Eko Santosa

Bermain dalam Momen

Gaya akting dalam seni peran sudah banyak mengalami pergeseran dan perubahan. Pada masa lampau, jika seorang aktor diharuskan menangis dalam sebuah adegan, ia akan mengeluarkan ekspresi emosional tingkat tinggi untuk menunjukkan pada penonton bahwa ia sedang berduka. Mungkin ia berlaku demikian karena referensi tontonan (film) yang ia saksikan juga memperlihatkan kondisi yang sama di mana aktor mendapatkan sambutan baik karena gaya aktingnya yang seperti tiu. Tanpa perlu dipelajari secara mendalam apakah gaya semacam itu sesuai atau tidak dengan kenyataan, namun demikianlah yang terjadi. Hal ini seolah telah mentradisi.

baca juga : Seputar Akting Untuk Film Part-2

Namun, para aktor modern dewasa ini telah memiliki pemahaman bahwa seseorang dalam kehidupan nyata tidak akan pernah menampilkan emosi sedemikian. Ia justru akan berusaha keras untuk menahan atau menyembunyikan emosi kesedihan itu agar tidak semua orang tahu. Dalam kehidupan nyata, orang-orang cenderung menyembunyikan perasaannya. Hal inilah yang lebih dipercaya, lebih memiliki potensi, berusaha keras melawan tangis, baru kemudian menyerah setelah segala daya upaya menahan rasa duka itu tak terbendung. Dewasa ini jika para aktor ingin menampilkan realitas di atas film, maka mereka disarankan untuk tidak menyaksikan film dokumenter. Hal yang sama juga terjadi pada peran orang mabuk. Di dalam kehidupan nyata, seorang yang mabuk karena minuman akan berusaha keras tampil tenang seolah ia tidak sedang mabuk. Namun, secara kasar dalam tradisi film dan panggung lampau, aktor justru mengumbar ekspresi kemabukan agar penonton tahu bahwa ia memang sedang mabuk. Sungguh sangat artifisial.

Penampilan aktor dengan akting artifisial justru sering menimbulkan garis pemisah tegas antara pemain dan penonton sehingga segala apa yang dilakukan aktor menjadi terlihat palsu. Garis tegas itu justru menjadi penghambat penonton untuk memasuki dunia cerita yang ditampilkan. Jika sudah demikian, kredibilitas aktor tersebut perlu dipertanyakan. Dan ketika hal ini menjadi isu masyarakat, maka akan sangat sulit bagi aktor tersebut untuk mengembalikan kepercayaan penonton. Dengan kata lain, akting di layar (film) hari ini adalah soal bagaimana “menjadi” dan bukan bagaimana “mempertontonkan”.

Masyarakat penonton sudah memiliki pengalaman dengan berbagai perubahan yang terjadi di dunia film. Mereka akan dengan cepat mengetahui mana akting yang bisa dipercaya (dianggap seolah-olah benar terjadi) dan mana yang tidak. Selama bertahun-tahun penonton film modern telah terdidik untuk memperhatikan dan menangkap sinyal-sinyal permainan aktor. Hanya dengan menggunakan sedikit bahasa gerak tubuh, aktor dapat memproduksi gestur penuh tenaga. Jadi ia tidak perlu lagi menampilkan perasaan atau emosi yang berlebihan melalui gerak-gerik tubuhnya. Untuk itu, aktor harus benar-benar bermain dalam momen di mana ia harus beraksi. Artinya, “momen” terjadi hanya pada saat itu, saat aksi dilakukan, saat ekspresi diungkapkan, tidak perlu indikasi-indikasi aksi berikutnya.

tobe contiuned…..

Leave a Reply