Eduteater

Seputar Akting Untuk Film Part-4

Seputar Akting Untuk Film Part-4

Oleh: Eko Santosa

Kamera Akan Senantiasa Merekam

Pengambilan gambar secara close-up di dalam film diperlukan untuk mentransmisikan kehalusan emosi dan pikiran. Ini dapat memberikan energi hebat pada aktor. Namun energi potensial tersebut memerlukan konsentrasi luar biasa dalam merealisasikannya. Kamera yang merekam gambar close-up tidak akan mentransformasi keadaan menjemukan menjadi sesuatu yang spektakuler secara misterius. Aktorlah yang harus menemukan sesuatu yang spektakuler dalam keadaan tersebut. Kenyataannya hal ini sering terjadi berkebalikan di mana kamera close-up justru menemukan ketidakpastian atau kekeliruan kecil dan membesarkannya. Aktor yang lupa baris kalimat dialog masih dapat ditutupi oleh aksi lainnya di atas panggung karena jarak yang lumayan jauh dari penonton, tetapi kamera akan menyingkap keraguan sekecil apapun yang muncul dalam diri aktor. Gangguan konsentrasi apapun bentuknya harus disingkirkan agar aktor fokus dalam pengambilan gambar close-up. Mungkin kelebatan mata aktor tidak nampak oleh sutradara atau para pekerja film saat perekaman, namun kamera tetap dapat menangkap dan merekam kedipan mata yang mengganggu dari aktor tersebut.

baca juga : Seputar Akting Untuk Film Part-3

Jika konsentrasi aktor dapat berjalan secara total dan aksinya sesuai kenyataan, ia dapat melangsungkan adegan dengan santai dan kamera selalu setia merekam serta tidak akan menyia-nyiakan setiap momen. Kamera akan selalu mengawasi aktor. Kamera bagaikan kekasih yang selalu mencintai sang aktor. Ia akan mendengarkan dan merekam segala yang dilakukan oleh aktor kapanpun. Jika diibaratkan, akting teater adalah operasi menggunakan pisau bedah sedangkan akting film adalah operasi menggunakan laser.

Skala permainan aktor di dalam film tidaklah sebesar permainan aktor di atas panggung namun intensitas keduanya sama-sama hebat. Di atas panggung, intensitas aktor dipandu oleh struktur dan dramatika lakon sepanjang permainan. Di film, aktor direkam dalam momen terpisah-pisah, bisa jadi antara satu dengan yang lain tidaklah berurutan, dalam kondisi semacam ini aktor harus senantiasa menjaga intensitas dan konsentrasinya di setiap shot. Tidak ada sesuatu yang berjalan datar atau linier di film. Seorang aktor membutuhkan kerja pikiran dua laki lebih berat dalam berakting di film. Seseorang akan merasakan betapa besarnya memerankan “hal kecil” di film yang mana sumbernya adalah kehidupan alami. Seseorang tidak bisa hanya berdiri saja di depan kamera tanpa mengerjakan (berpikir) apapun dan hanya menunggu waktu usai. Tidak pula dimungkinkan untuk berperan dengan gaya teatrikal seperti di panggung atau sekedar mengecilkan gerak-gerik tubuh dan mimik dari ukuran sebenarnya di panggung teater. Seorang aktor film harus memikirkan setiap momen karena kamera mengamati (merekam) pikiran dan penonton akan melihat apa yang dilihat oleh kamera. Kata kunci bagi aktor film adalah transmisi mental. Jika mental berada dalam posisi terkendali, raga akan berada dalam posisi yang tepat.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.