Eduteater

Seputar Akting Untuk Film Part-5

Seputar Akting Untuk Film Part-5

Oleh: Eko Santosa

Kurang itu Lebih

Banyak aktor yang merasa dirinya telah hebat dengan mencuri adegan melalui gaya akting yang bombastis. Aktor semacam ini lebih mementingkan penggunaan tubuh dan suara daripada otak. Mereka tidak menyadari bahwa dalam konteks penggunaan tubuh dan suara berlaku nilai “yang kurang itu yang lebih”. Aktor teater belum sepenuhnya memahami medium bernama sinema atau film sehingga sulit mengubah diri. Ia akan senantiasa bermain seolah-olah di panggung. Gerak-gerik tubuhnya diperbesar, suaranya diperkeras. Namun begitu diletakkan kamera untuk merekam aksinya, langsung saja semua yang ia lakukan nampak palsu dan dibuat-buat bagi penonton. Jika saja ada seorang aktor film (pemain) lain yang berperan dengannya dan mengambil aksi natural, maka langsung terlihat bahwa gaya pemeranan aktor teater tadi terlihat konyol.

baca juga : Seputar Akting Untuk Film Part-4

Sebatang pohon adalah sebatang pohon dalam arti sesungguhnya di film. Batang pohon itu bukanlah sesuatu yang digambar di atas kanvas yang harus dipercayai sebagai sebatang pohon sehingga dapat dijadikan media bagi aktor untuk bermain dengan baik tanpa memperdulikan kualitas bahan pembuatnya. Di atas panggung, seorang aktor harus memproyeksikan suaranya sedemikian rupa agar jelas terdengar. Di atas panggung premis dasarnya adalah “aksi” di mana gerak-gerik tubuh atau laku aksi ditawarkan kepada penonton. Di dalam film, microphone sudah didesain sedemikian rupa untuk mendengar setiap suara dan bunyi yang keluar, tidak peduli seberapa pelan aktor berbicara dalam setiap adegan yang dilakoninya. Dalam film, “reaksi” lah yang akan melahirkan potensi dari setiap momen. Itulah mengapa kegiatan mendengarkan sangat penting di dalam film sepenting penggunaan mata pada saat close-up. Aktor tidak perlu berbicara dengan berteriak atau menjerit. Bahkan aktor tidak perlu berintensi untuk membesarkan sebuah tindakan dalam setiap laku aksinya.

Karena akar dari segala tindakan di film adalah kenyataan, maka aktor harus memainkan kenyataan itu. Tidak ada lagi gestur yang dirancang atau dipolakan sedemikian rupa sehingga nampak megah dan indah. Tidak ada suara dengan irama mendayu atau gagah menggelegar sehingga terkesan elegan dan berwibawa. Film, lebih menangkap perasaan dan pikiran aktor daripada “acting style” ketika bermain. Oleh karena itu, gerak-gerak tubuh serta gaya bicara teatrikal tidaklah membantu dan justru akan mengantarkan penonton pada sebuah pertunjukan, bukan kehidupan. Intensitas pikiran dan perasaan dalam beraksi menentukan terpercaya atau tidaknya akting seseorang di dalam film. Gerak besar dan volume suara keras namun tidak menggambarkan intensitas emosi yang sesungguhnya akan menjadikan kerja akting gagal total. Hal inilah yang dimaksud dengan “kurang itu lebih”.

tobe continued…

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.