Seputar Akting Untuk Film Part-8

Oleh: Eko Santosa

Drama Itu Dipentaskan Sementara Film Dibuat

Proses pembuatan film memakan waktu yang lama, sebuah proses yang tidak mengenakkan. Jika sebagai aktor Anda tidak memiliki fisik dan stamina kuat untuk mengikuti tahapan proses panjang itu, janganlah bermimpi untuk bermain film. Mungkin satu kali terjadi pengambilan gambar malam hari sehingga Anda harus pulang ke rumah saat fajar menjelang dan pagi berikutnya harus memulai tahapan yang sama. Menunggu bisa jadi sama melelahkannya dengan mengerjakan sesuatu, tapi Anda harus menyimpan daya dengan baik sampai kamera siap bekerja untuk Anda. Lalu, saat proses syuting dilakukan, janganlah berupaya menampilkan pesona akting terbaik yang Anda miliki, namun berbuatlah persis seperti apa yang dikatakan sutradara. Apa yang diminta sutradara terkadang tergantung kebutuhan sesuai situasi dan kondisi kerja. Mungkin harus tetap syuting dalam cuaca buruk, mengenakan busana yang timpang atau tampak kurang cocok dikenakan, dan bisa pula dalam kondisi ramai orang yang tidak mau pergi karena justru ingin menyaksikan peristiwa pembuatan film yang bagi mereka menarik.

baca juga :Seputar Akting Untuk Film Part-7

Prinsip utama yang harus dipahami oleh aktor teater untuk terjun ke film adalah bahwa bukan hanya baris kalimat dialog yang harus dihapal tetapi juga aktor harus mampu mengarahkan dirinya sendiri dalam berperan. Semua hal ini dilakukan oleh seorang aktor tanpa terlebih dahulu berdiskusi soal peran dengan sutradara, pertemuan dengan lawan main, dan tanpa latihan dengan set. Aktor panggung biasanya menelusuri kenyataan lakon secara perlahan. Pertama, membaca naskah bersama pemeran lain untuk membedah garis besar intensi pengarang. Kemudian dilanjutkan dengan sudut pandang sutradara. Berikutnya kemungkinan besar adalah diskusi yang diikuti semua pendukung. Secara gradual aktor panggung mencatat setiap proses yang dilakoni, adegan demi adegan, babak demi babak. Jika tetap berlaku seperti ini di film, sungguh sangat disayangkan. Proses di film sangatlah berbeda karena drama panggung itu dipentaskan sementara film itu dibuat.

Mungkin saja di film diselenggarakan latihan, namun bukan berarti latihan seperti halnya teater panggung. Latihan di film diselenggarakan sebagian besar bukan untuk kepentingan aktor melainkan juru kamera. Meskipun semua telah dipersiapkan oleh aktor, namun fleksibiltas harus senantiasa dijaga. Karena mungkin saja terjadi perubahan kalimat dialog atau gerak laku secara tiba-tiba. Panik sungguh sangat tidak diperbolehkan. Hal yang sangat berbeda dan harus benar-benar dipahami oleh aktor panggung. Termasuk memahami bahwa yang dikerjakan aktor lain adalah bukan menjadi urusannya. Di panggung, aktor satu dengan lain membangun situasi secara bersama-sama dimulai sejak pertemuan pertama dalam tahap latihan. Aksi aktor satu dengan demikian menjadi berpengaruh bagi aktor lain. Selain itu sudah menjadi kebiasaan untuk saling membicarakan perihal aksi tersebut demi mencapai satu kesatuan aksi. Sementara di film hal ini tidak bisa dimungkinkan karena semua telah terjadwal, dan jadwal mengait waktu, dan waktu adalah budget. Aktor harus bertanggungjawab dengan perannya sendiri. Di saat pengambilan gambar semua aktor yang terlibat bertemu dan membuat adegan itu bersama-sama. Inilah yang dimaksud bahwa film itu dibuat. Baik atau tidaknya permainan seorang aktor dalam sebuah adegan baru diketahui setelah selesai pengambilan dan proyeksi gambar. Kuncinya adalah mata kamera.

Hal lain yang mungkin berat bagi aktor panggung ketika main di film adalah pengambilan gambar yang mana ia harus akting sendirian di depan kamera untuk shot tertentu, sementara lawan main tidak ada. Artinya, dalam adegan ini ia harus berpura-pura bahwa lawan main tersebut ada. Jika memang ada, bisa jadi sang lawan main dengan senang hati membantu memberikan suaranya sebagai pancingan, tapi bisa juga ia tidak bersedia karena sedang mengerjakan sesuatu yang lain, dan ini yang seringkali terjadi. Setiap aktor akan intens dengan urusan dan waktunya sendiri. Dalam situasi dan kondisi seperti ini, seorang aktor film harus fokus pada perannya sendiri dan tidak perlu berharap pada lawan main. Ia harus memiliki ingatan emosi atas apa yang telah ia kerjakan pada pengambilan gambar yang lalu. Sehingga ketika harus menemui shot semacam ini ia akan dengan mudah menghadirkan ingatan itu dan bisa bermain dengan tenang. Disiplin sangat diperlukan dalam setiap level pembuatan film. Semua terbalut dengan kepercayaan di antara para pendukung. Satu adegan kecil di mana aktor diharuskan mengucapkan satu kalimat bisa saja menjadi berantakan ketika karena sesuatu hal, baris kalimat itu tidak atau salah terucapkan.

to be continued….

Leave a Reply