Eduteater

Seputar Akting Untuk Film

Seputar Akting Untuk Film

Oleh: Eko Santosa

Akting di dalam film seolah sesuatu yang menyenangkan dan mudah. Apalagi didukung anggapan bahwa berakting di film jika salah dapat diulangi lagi pengambilan gambarnya. Beda dengan panggung yang dipentaskan secara langsung dan tidak ada kemungkinan membenarkan kekeliruan yang terjadi. Namun jauh dari itu semua, akting di film sungguhlah sangat sulit. Membutuhkan seni tersendiri. Aktor panggung tidak bisa langsung beradaptasi dengan film tanpa perlu penyesuaian. Satu hal yang tidak akan mungkin bisa. Panggung memiliki jarak tertentu yang memisahkan antara pemain dan penonton. Sementara di film, penonton dapat menyaksikan secara dekat akting pemain dan detail. Bahkan seluruh wajah dan lekuk-lekuk ekspresi setiap bagian tertentu dari wajah dapat disaksikan penonton. Semua sangat tergantung kamera dalam merekam dan memproyeksikan gambar. Untuk memberikan sedikit gambaran seputar akting dalam film, Michael Caine, aktor kawakan dan ternama mengikhtisarkan proses yang ia jalani selama menjadi aktor film. Ikhtisar yang akan diturunkan dalam tulisan ini diadaptasi dari buku “Acting in Film, an Actor’s Take on Movie Making”, tulisan Michael Caine (1997) sendiri khusus pada bab pertama yaitu movie acting: an overview.

Di dalam kehidupan nyata tidak mungkin akan kita temui seseorang yang tiba-tiba berkata pada dirinya sendiri, “hari ini aku akan menjadi apa ya?”, atau, “impresi apa yang mesti kuberikan har ini?”. Seseorang akan menjalani kehidupannya begitu saja, seperti apa adanya. Ia akang menghidupkan kehidupannya sendiri. Bekerja dan berkegiatan seperti yang seharusnya dilakukan. Demikian pula gambaran aktor dalam memerankan karakter di film. Ia tidak perlu berpikir akan impresi yang harus ia berikan pada karakter itu di film. Aktor film harus berpikir, bertindak, dan berbuat sebagaimana karakter itu. Dengan kata lain ia adalah karakter itu dengan ada atau tidaknya orang yang mengamati maupun kamera yang merekam. Seorang aktor film harus mampu memimpikan mimpi seseorang sebelum ia kemudian menyebut itu sebagai karakternya sendiri. Aktor film tidak membayangkan dirinya memainkan karakter melainkan membayangkan apa yang dbayangkan oleh karakter yang akan diperankan sampai kemudian bayangan itu menjadi miliknya. Intinya, kedirian aktor lesap ke dalam karakter yang diperankan.

Pertama kali seorang aktor berada di depan kamera, situasinya tidaklah mirip dengan kencan pertama. Kamera tidak perlu disangsikan, karena ia akan selalu berada dan menjalankan tugas sebagaimana mestinya. Kamera akan selalu memperhatikan setiap apapun yang terjadi, apapun yang aktor lakukan. Persis seperti kekasih yang penuh perhatian, kamera selalu akan memperhatikan aktor. Ia akan memperhatikan dan mendengar setiap apapun yang aktor lakukan dan merekamnya apa adanya. Kamera bagaikan kekasih terpercaya yang selalu memberikan perhatian dengan kesetiaan, sedangkan aktor adalah kekasih yang hampir dalam perjalanan karirnya selalu menatap ke arah lain dan mengabaikan tatapan kamera.

tobe continued….

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.