Eduteater

Seputar Pelatihan Teater Part-3

Oleh: Eko Santosa

2. Peserta

Pemetaan peserta perlu dilakukan dalam perencanaan program pelatihan. Kondisi awal peserta sangat mempengaruhi jalannya pelatihan. Secara general peserta dapat dibagi menjadi peserta umum dan peserta khusus. Peserta umum tidak dibatasi oleh aturan atau syarat perorangan tertentu berkebalikan dengan peserta khusus. Selain itu jumlah peserta juga perlu menjadi pertimbangan. Mengait materi pelatihan, pemetaan peserta ini penting sekali artinya. Tidak ada gunanya menyelenggarakan sebuah pelatihan jika apa yang diinginkan untuk dikembangkan tidak bertemu dengan peserta yang tepat. Pun demikian sebaliknya, peserta kurang mendapatkan manfaat karena materi yang diberikan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.

Pemahaman tentang peserta ini tidak hanya penting bagi penyelenggara namun juga bagi pemateri. Tidak jarang ditemui seorang pemateri yang kehabisan materi di tengah-tengah program pelatihan atau memberikan sesuatu yang kurang bisa dipahami dan dilakukan oleh peserta atau bahkan di luar core-context yang telah ditentukan. Pemateri seperti ini, jelas kurang memahami karakter peserta. Penyelenggara pun dalam konteks ini juga kurang waspada terhadap kesesuaian antara jenis, bentuk dan materi pelatihan dengan penentuan pemateri. Tidak setiap orang yang memiliki pengalaman dan pengetahuan di bidang teater dapat menjadi pemateri yang baik dalam sebuah program pelatihan. Meskipun batasan dan ruang lingkup telah diberikan, namun jika pemateri kurang mengerti apa yang dibutuhkan oleh peserta hal seperti tersebut di atas dapat terjadi.

baca juga : Seputar Pelatihan Teater Part-2

Peserta umum dalam jumlah terbatas tidak bisa digunakan untuk melatihkan hal-hal teknis spesifik. Dengan latar belakang peserta yang berbeda-beda baik dari sisi pengalaman, kemampuan, dan kemauan, maka materi bersifat dasar dan umum lebih pantas untuk diberikan. Workshop dasar-dasar pemeranan, olah tubuh dasar, atau pengenalan teknik dan metode teater lebih tepat untuk diberikan dibandingkan dengan materi spesifik semisal penghayatan karakter dalam akting realis. Seorang pemateri yang baik akan mempertimbangkan keekonomisan penyampaian materi terkait dengan kondisi dan jumlah peserta yang ada. Ia tidak bisa memaksa semua peserta untuk memahami seratus persen apa yang disamapaikan. Dalam keadaan peserta umum, ruang dan waktu terbatas, hal-hal pokok yang menjadi kunci materi lebih diutamakan.

Berbeda dengan peserta umum, peserta khusus memberikan kemudahan bagi pemateri karena kondisi awal sudah diketahui. Bahkan dalam sebuah pelatihan besar dan terukur sebelum agenda dijalankan, peserta terlebih dahulu mengikuti tes penempatan kelas untuk menentukan kesetaraan setiap peserta dengan materi yang akan diberikan. Prasyarat awal yang mesti dimiliki oleh peserta menjadi titik tolak penyampaian materi. Batasan-batasan untuk kedalaman dan keluasan materi dapat ditentukan berdasar kondisi awal peserta ini. Di dalam sebuah pelatihan kompetensi misalnya, pengelasan (penentuan kelas) dapat dibuat secara berjenjang (leveling) berdasarkan kemampuan awal yang dimiliki oleh peserta.

Jenjang sekolah dapat dijadikan gambaran untuk memudahkan pemahaman atas level kemampuan peserta terkait dengan materi yang diberikan. Seorang siswa sekolah dasar memiliki kemampuan awal yang berbeda dengan siswa sekolah menengah. Oleh karena itu materi yang disampaikan pun semestinya berbeda. Dalam hal ini, pemilahan peserta tidak hanya berbasis kemampuan namun juga bisa menyangkut usia dan pengalaman-pengalaman lain yang dimiliki. Demikian halnya dalam pelatihan seni teater dengan peserta khusus, penyelenggara harus dapat memilah dengan baik kesetaraan kemampuan para peserta dalam ruang-ruang pelatihan yang tersedia.

Kesetaraan peserta (prasyarat) memberikan pengaruh psikologis dalam penyelenggaraan pelatihan. Seringkali sikap kompetitif muncul dalam diri peserta sehingga terdapat peserta yang merasa superior dibanding peserta lain. Kondisi ini akan mempengaruhi kelas. Pemateri akan mengalami hambatan yang justru berasal dari peserta superior ini. Jika kurang bijaksana dalam pengelolaan, bisa jadi peserta jenis ini dapat mempengaruhi peserta lain secara lebih baik dibanding pemateri. Hasil akhir dari keadaan ini adalah, pemateri menjadi kurang berdaya di mata para peserta. Kehati-hatian dalam menentukan peserta khusus ini perlu diperhatikan oleh penyelenggara. Sikap permisif semestinya tidak bisa dijalankan dalam menentukan syarat peserta.

Memang terlihat rumit untuk menentukan peserta khusus dalam sebuah pelatihan teater. Namun hal tersebut mesti dilakukan untuk mendapatkan hasil terbaik. Tidak mungkin kiranya setiap program pelatihan teater terbuka untuk peserta umum semua. Pelatihan teater dengan peserta khusus dapat mengalirkan kompetensi secara lebih mudah dan tepat sasaran. Pelatihan desain tata panggung akan lebih mudah dan megalir jika masing-masing peserta memiliki kemampuan menggambar sebelumnya. Pelatihan membuat busana teater akan mudah diselenggarkan ketika semua peserta memiliki kemampuan memahami pola dan menjahit. Intinya, pelatihan dengan peserta khusus memerlukan ketelitian dalam memilih dan memilah calon peserta. Syarat awal yang mesti dimiliki selain memudahkan jabaran materi yang hendak disampaikan juga mengait kebutuhan waktu yang diperlukan untuk menuntaskan satu kompetensi. Dengan demikian program pelatihan yang diselenggarakan dapat berjalan secara efektif.

=== bersambung ===

One thought on “Seputar Pelatihan Teater Part-3”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.