Eduteater

Seputar Pelatihan Teater Part-5

Oleh: Eko Santosa

4. Cara Penyampaian

Problematika di dalam pelatihan teater selepas persoalan materi terpecahkan adalah cara menyampaikan materi. Seorang pemateri harus memetakan materi yang akan disampaikan bersanding dengan waktu yang tersedia. Setelah struktur itu ia peroleh selanjutnya adalah cara penyampaian. Dalam pelatihan teater berbasis keterampilan seringkali masih dijumpai cara penyampaian di mana peserta mesti menirukan pemateri. Dalam hal-hal yang bersifat dasar, teknis-mekanis seperti olah tubuh misalnya, cara ini sangat efektif. Pemateri harus menguasai semua hal terkait materi yang disampaikan dan pesert harus benar-benar mengikuti pemateri. Sebab salah langkah atau gerakan bisa mengakibatkan cidera di dalam pelatihan olah tubuh. Semua materi yang menyangkut hal teknis dan pasti, cara meniru pemateri ini menjadi pilihan wajib. Justru di sini pemateri tidak boleh gegabah memberikan keleluasan kepada peserta. Bisa dibayangkan di dalam pelatihan tata lampu pada sesi kelistrikan dasar misalnya, pemateri membiarkan peserta dibiarkan menyambung kabel untuk dialiri listrik tanpa bimbingan, bisa-bisa jika salah prosedur akan menghasilkan kecelakaan fatal.

Pelatihan dengan bimbingan ketat dan model mimesis ini sangat bermanfaat, sekali lagi, untuk diberikan pada bidang yang bersifat teknis-mekanis. Namun sayang, dalam materi yang membutuhkan kerja kognisi dan pelibatan perasaan dalam berekspresi, penyampaian materi model mimesis ini masih dilangsungkan. Aturan, untuk materi soft (pemahaman, penghayatan, kreasi ekspresi pemeranan atau interpretasi penyutradaraan) semacam ini tidak tepat dengan menerapkan mimesis. Toh, hal semacam itu terjadi dan bahkan pemateri seringkali memberi contoh yang harus ditiru persis oleh peserta. Al hasil, pemateri itu tidak membangkitkan atau melahirkan jiwa pemeran melainkan mencetak pemeran. Dari sini lah kira-kira muasal gaya akting yang hampir sama pada setiap individu pemain teater amatir dalam sebuah grup. Bahkan, kondisi pun telah berubah menjadi budaya atau dogma sehingga jika ada orang lain yang tidak bergaya akting seperti itu menjadi salah.

baca juga Seputar Pelatihan Teater Part-4

Di dalam kelas sekolah formal dikenal istilah model dan metode pembelajaran. Model mengkait desain pembelajaran mulai dari perencanaan, langkah-langkah pembelajaran hingga sampai evaluasi. Sementara metode menyangkut bagaimana cara menyampaikan sebuah materi atau sub materi. Jadi dalam satu model dapat diterapkan metode yang berbeda dalam setiap langkah pembelajarannya. Misalnya dalam pelatihan tata lampu, pada langkah pembelajaran (sesi) penjelasan jenis-jenis lampu, pemateri dapat menggunakan ceramah atau tanya jawab. Namun pada langkah pembelajaran (sesi) pemasangan lampu pemateri menggunakan metode demonstrasi. Jadi pengunaan metode sangat tergantung dari materi yang akan disampaikan.

Cara penyampaian materi yang tepat akan membuat peserta mudah menerima informasi dan tidak mudah melupakannya. Oleh karena itulah kepiawaian pemateri dalam menyampaikan materi sangat menentukan. Seorang pemateri harus memahami kapan memberi instruksi, kapan memberi contoh, kapan memberi pendampingan, kapan menguji, kapan bekerjasama dan kapan menilai. Seringkali terjadi seorang pemateri memberikan instruksi kepada peserta pelatihan untuk mengekspresipan sebuah perasaan dengan tanpa ancang-ancang atau tanpa pengantar sebelumnya. Tiba-tiba ia menyuruh peserta untuk gembira dan dalam menit berikutnya peserta diminta untuk sedih, menangis, tertawa dan lain sebagainya. Sementara dalam pemahaman dasar pemeranan telah dengan gamblang dijelaskan bahwa setiap tindakan sekecil apapun yang dilakukan peran selalu memiliki motivasi. Jadi bagaimana mungkin seseorang tiba-tiba mengubah perasaannya tanpa motivasi selain dari perintah lantang saja? Juga seringkali instruksi membahana diberikan kepada peserta untuk bersuara sekeras-kerasnya dalam kurun waktu tertentu tanpa ada pengantar teknik pernafasan sebelumnya. Seolah-olah, suara lantang adalah keniscayaan bagi seorang calon pemeran. Padahal dalam peamahaman dasar pemeranan telah dengan gamblang dijelaskan bahwa suara di dalam pementasan teater itu tidak terlalu berurusan dengan keras atau lirih melainkan jelas terdengar. Jadi ukurannya bukan kerasnya suara melainkan kejelasan apa yang diucapkan (clarity). Banyak sekali contoh penerapan instruksi yang datang tiba-tiba dan harus diikuti dalam sebuah pelatihan teater. Dan itu kemungkinan besar masih terjadi hari ini. Materi pemeranan yang lebih banyak mengoptimalkan kerja pikiran dan olah perasaan kiranya kurang tepat didekati dengan penyampaian materi instruktif.

Pemahaman akan materi dan cara menyampaikan materi merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan bagi seorang pemateri pelatihan. Hal itulah yang menyebabkan antara pemateri satu dengan pemateri lain mendapatkan tanggapan yang berbeda dari peserta meskipun materi yang diberikan sama. Cara menyampaikan materi bahkan lebih penting dari materi itu sendiri. Perumpamaannya adalah; cara menyampaikan adalah jalan beserta pemandangan dan materi adalah kendaraan yang melewati jalan itu. Jika jalan yang dilewati mulus dengan pemandangan indah, maka penumpang kendaraan akan lebih cepat sampai dan gembira. Jadi membangun jalan yang melewati pemandangan-pemandangan indah ini perlu diciptakan oleh pemateri. Sekaya apapun materi yang dimiliki jika disampaikan dengan cara yang kurang menarik, akan membuat materi tersebut nampak berat, keras, sulit dicerna. Ditambah dengan waktu tersedia, maka akan terasa semakin lama. Peserta yang tidak betah akan mengikuti pelatihan dengan terpaksa dan keterpaksaan pasti tidak akan membawa dampak signifikan atau bahkan menghasilkan blokade pikiran. Akibat terburuknya, peserta itu secara fisik datang mengikuti pelatihan, namun pikiran dan perasaannya absen. Tugas pemateri sejatinya nya adalah menciptakan ruang dan menghadirkan kembali yang absen tersebut.

=== bersambung ===

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.