Eduteater

Seputar Pelatihan Teater Part-6

Oleh: Eko Santosa

5. Dukungan

Hal tak kalah penting dalam penyelenggaraan pelatihan teater adalah dukungan atau yang biasa disebut dengan sarana-prasarana. Penyediaan atau ketersediaan dukungan ini berkait erat dengan jenis pelatihan dan jumlah peserta. Dalam pelatihan olah tubuh misalnya dengan jumlah peserta lebih dari 10 orang di mana materi utamanya adalah koreografi adegan laga, maka dengan sendirinya 1 ruang kelas normal (ruang teori) tidaklah mencukupi. Ruang kelas normal biasanya diukur berdasarkan luasan area yang dibutuhkan untuk seseorang duduk dengan asumsi di depannya ada meja. Sementara untuk luasan area olah tubuh diukur berdasarkan rentangan tangan orang dewasa hadap depan dan hadap kanan. Itupun mestinya luasan ruang minimal yang dibutuhkan mengingat olah tubuh memerlukan gerak berpindah baik berjalan ataupun berlari. Ketersediaan ruang dengan demikian mempengaruhi jumlah peserta yang diperbolehkan mengikuti pelatihan.

Semakin lengkap faktor dukungan sesuai kebutuhan pelatihan, semakin peserta merasa nyaman dalam mengikuti pelatihan. Tentu saja hal itu tidak hanya perkara ruang namun juga perlengkapan serta alat dan bahan pelatihan. Seringkali penyelenggaraan pelatihan merasa cukup dengan kehadiran peserta dan ketercukupan ruang saja sehingga ketika tiba saat praktik yang membutuhkan alat dan bahan kebingungan. Atau ketersediaan alat dan bahan tidak sesuai dengan jumlah peserta. Tidak enak tentunya bagi seorang peserta diklat make up misalnya, untuk menunggu giliran dalam waktu lumayan lama hanya untuk menggunakan peralatan tata rias yang jumlahnya minim. Jika pun kondisi ini menjadikan diklat tata rias kemudian berjalan secara teoritis juga tidak ideal karena bagaimanapun juga peningkatan keterampilan (psikomotorik) harus dilakukan secara praktik (kerja nyata). Pun demikian dalam situasi dan kondisi ini, penyelenggara diklat perlu menyediakan model untuk dirias.

baca juga : Seputar Pelatihan Teater Part-5

Persyaratan awal juga bisa diterapkan untuk memenuhi faktor dukungan ini. Misalnya, peserta diharuskan membawa alat, bahan, dan model sendiri. Di dalam pelatihan berbayar dan profesional hal semacam ini sudah berjalan lumrah dan diterima dengan baik. Namun dalam pelatihan komunitas seringkali penyelenggara harus menyediakan faktor dukungan ini. Untuk itu penyelenggara harus memikirkan faktor dukungan pelatihan dengan baik.

Kenyataan yang sering terjadi, penyelenggara tidak memahami dengan baik karakter materi pelatihan yang dilaksanakan. Bukan karena tidak tahu melainkan karena kebiasaan di mana satu materi pelatihan disampaikan oleh pemateri berdasar asas kebiasaan dan hal ini sudah berlangsung berkali-kali dalam kurun waktu lama. Misalnya saja dalam pelatihan tata cahaya, peyelenggaran hanya menyediakan lampu, kabel, alat pemasang, dan alat untuk mengoperasikan lampu. Karena biasanya berlaku seperti itu, maka seperti itulah yang berlaku. Jadi dalam hal ini, faktor keselematan peserta dan pemateri (yang biasanya juga tidak memikirkan hal ini) tidak diperhatikan. Alat pendukung keselamatan tidak disediakan misalnya, sarung tangan, sabuk pengaman, tali pengait lampu ke bar, dan lain sebagainya. Semua seolah tinggal pasang, mengoperasikan dan mengarahkan saja. Plus syarat awal tidak diberitahukan di mana dalam pelatihan tata cahaya semua peserta harus memahami kelistrikan dasar sehingga kecelakaan terkait arus listrik dapat dihindari.

Faktor dukungan penyelenggaraan pelatihan tidak berhubungan dengan soal mewah atau tidaknya sebuah pelatihan melainkan keterpenuhan syarat pokok sebuah pelatihan. Memang masih sering terjadi faktor dukungan ini terabaikan, namun seiring berjalannya waktu hal-hal kecil tetapi sangat perlu semacam ini harus diperhatikan. Sebab jika tidak, penyelenggaraan pelatihan teater hanya akan menjadi program berbasis budaya semata dan kurang mengena pada soal peningkatan keterampilan dan kognisi.

Pelathan bersifat memperjual-belikan pengalaman semata tanpa diimbangi dengan penyampaian bersifat didaktik-metodik semestinya mulai dikurangi. Pengalaman merupakan rangkaian peristiwa lalu yang ditangkap oleh pikiran sehingga tidak memerlukan faktor dukungan selain si pemilik pengalaman sendiri ketika harus disampaikan kembali. Selama si pemilik pengalaman ada dan ingat rangkaian pengalaman yang telah dilalui, maka pengalaman itu bisa tersampaikan. Kondisi semacam ini menjadikan pelatihan sebagai forum ceramah atau sekedar ruang konsultasi. Lain halnya jika si pemilik pengalaman menyampaikan secara didaktik-metodik. Tentu saja ia akan menggunakan alat peraga, mereplikasi reminiscence  ke dalam presentasi atau peragaan melalui model dan lain sebagainya. Semua faktor dukungan itu ia perlukan untuk memberikan kejelasan gambaran pengamalan yang ia miliki sehingga bisa direproduksi oleh orang lain dalam bentuk interpretatif beda atau baru. Penggunaan faktor dukungan juga akan memberikan kemudahan peserta dalam memahami atau mempelajari pengalaman-pengalaman si pemateri.

Faktor dukungan diakui atau tidak adalah sebuah keniscayaan bagi keberhasilan sebuah pelatihan. Peralatan, bahan, perlengkapan khusus serta dukungan umum terkait konsumsi, urinoir, wc, tempat sampah harus benar-benar menjadi perhatian. Jangan sampai materi yang baik dan disampaikan dengan baik oleh pemateri yang baik kurang mendapatkan nilai baik karena kenyamanan peserta terkait faktor dukungan ini kurang.

=== bersambung ====

One thought on “Seputar Pelatihan Teater Part-6”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.