Eduteater

SEPUTAR PEMENTASAN TEATER Part-1

SEPUTAR PEMENTASAN TEATER Part-1

Oleh: Eko Santosa

Pementasan merupakan tujuan akhir dari proses produksi bagi para punggawa artistik sebuah kelompok teater. Di dalam pementasan ini lah semua hal yang dilatih dan dicobakan ditampilkan. Berhasil atau tidaknya sebuah pementasan dibuktikan di sini. Perwujudan konsep secara menyeluruh dapat diapresiasi oleh segenap penonton yang hadir. Beragam komentar bermunculan terkait dengan konsep yang ditawarkan dan perwujudan yang ditampilkan. Bagi aktor yang menyajikan pertunjukan dan berhadapan langsung dengan penonton, peristiwa ini sangat penting untuk menampilkan karya aktingnya. Bagi sutradara, arahan pengejawantahan lakon terkait interpretasi yang dimiliki mendapatkan ujian di sini. Bagi seluruh kru tata artistik, hal ini merupakan ajang unjuk kepiawaian dalam menampikan karya penulis lakon secara nyata. Intinya, panggung teater menemukan hidup yang sesungguhnya di dalam pementasan ini. Karena itu pulalah ragam cerita, peristiwa, dan kelindan unsur-unsur pembentuknya ditawarkan dengan beragam sudut pandang dan gaya. Panggung teater adalah dunia yang meski berakar pada kenyataan, namun memiliki kebebasan tampilan dari irisan kehidupan manusia. Selalu ada yang diwartakan dan ditawarkan oleh dunia panggung kepada dunia nyata. Pewartaan dan penawaran dalam wujud pementasan ini dapat ditelisik dari hal-hal berikut.

  1. Lokasi

Tempat diselenggarakannya pementasan teater membawa pengaruh besar bagi pementasan teater itu sendiri. Terdapat banyak macam jenis panggung yang bisa digunakan untuk pementasan. Ada yang bersifat tertutup (di dalam gedung) dan ada yang bersifat terbuka. Bentuk panggung pun beraneka ragam. Ada yang proscenium, ada yang berbentuk panggung ujung, ada yang arena, dan ada pula yang berbentuk thrust. Sementara pementasan dengan panggung terbuka dapat diselenggarakan di lapangan, halaman rumah atau lokasi-lokasi khusus (site specific). Di dalam perkembangannya, bentuk-bentuk panggung menjadi lebih lumer. Tidak hanya mengacu pada yang konvensional.

Lokasi atau tempat pementasan ini dengan sendirinya akan mempengaruhi penampilan. Tidak hanya soal elemen pokok garapan namun juga unit penyokong artistiknya. Pemahaman mengeni lokasi dan lingkungan tempat pementasan digelar memberikan kemungkinan kreasi bagi para konseptor teater. Menurut sejarahnya, panggung teater hadir sesuai zaman dengan mengadopsi budaya yang berkembang saat itu. Amphi theater yang begitu terkenal di zaman Yunani mengalami sedikit perubahan pada zaman Romawi. Panggung ini masih menyiskan kedigdayaannya di masa kini dengan posisi penonton berundak yang diadopsi dalam banyak panggung proscenium modern. Pada Abad Pertengahan Eropa, muncul teater keliling dengan menggunakan panggung mobil dan menghampiri kompleks-kompleks perumahan warga. Zaman Elizabeth mengetengahkan konsep panggung Globe untuk menampung penonton dari berbagai kalangan. Meski mereka dipisahkan secara kelas namun semuanya dapat menyaksikan pertunjukan teater secara langsung. Intinya, panggung teater memiliki banyak bentuk, perwajahan, dan segala keunikan untuk menampung gagasan para kreator.

Bentuk panggung yang menyatukan pemain dan penonton membawa konsekuensi artistik pementasan. Sutradara atau koseptor pertunjukan harus memahami hal ini dengan baik. Secara sekilas hal ini terlihat gampang dimengerti. Namun banyak kasus yang justru memperlihatkan sebaliknya. Sebagai misal; konsepsi teater realis yang mengedepankan kemiripan atas kenyataan hidup sering ditampilkan di atas panggung yang secara akustik kurang memadai sehingga pemain cenderung berteriak agar suaranya terdengar dengan jelas di telinga penonton. Keharusan berteriak karena kondisi panggung yang sedemikian dengan sendirinya telah mengaburkan konsep realisme. Contoh lain, pementasan teater yang dirancang di studio latihan dengan format proscenium tetapi pementasannya di teater arena, atau sebaliknya. Arah hadap serta garis gerak pemain dan tata letak set dengan sendirinya menjadi kacau dan untuk mengubahnya tentu saja dibutuhkan waktu yang tidak sebentar. Paling banyak terjadi adalah persoalan ukuran antara tempat latihan dan pementasan. Jika tidak diantisipasi dengan baik, hal ini akan sangat mempengaruhi irama dan dinamika permainan, terutama pada teater dramatik. Namun dari semua kasus, ketidakidealan kondisi panggung lah yang lebih sering mencuat ke permukaan.

Kesalahan pemahaman teknis tentang panggung terkait kualitas artistik pementasan yang akan disajikan sampai hari ini masih sering terjadi. Bukan persoalan lokasi di mana pementasan akan dilangsungkan melainkan penyikapan sutradara atas lokasi tersebut. Maksudnya, sutradara sudah tahu jika kondisi panggung tidak atau kurang ideal namun ia tetap memaksakan menggelar karyanya yang membutuhkan panggung ideal di lokasi yang tidak ideal tersebut. Masih banyak terjadi sampai hari ini para kreator teater menyesalkan keberadaan panggung pementasan dengan kondisi sedemikian. Namun anehnya, mereka tetap menggunakan panggung itu dengan karya yang sebenarnya tidak mungkin dipentaskan di lokasi dengan kondisi sedemikian.

Panggung, bagi sutradara atau konseptor pementasan sesungguhnya adalah kanvas kosong yang siap untuk digambar. Oleh karena itu ukuran dan sifat dari kanvas ini harus dipahami sehingga pas dengan objek yang akan digambarkan. Dengan demikian, sebelum menggambar semestinya kualitas kanvas telah diketahui dengan baik. Banyak seniman teater modern yang merasakan bahwa keberadaan panggung baginya tidaklah cukup bisa digunakan untuk mementaskan karyanya. Apa yang terjadi kemudian adalah mereka menciptakan karya disesuaikan dengan kondisi panggung yang ada atau menciptakan lokasi baru bagi pementasan karyanya. Dengan demikian, mereka menghasilkan karya dengan tidak terbelenggu oleh kondisi lokasi. Artinya, karya yang mereka hasilkan tidak harus dipaksakan dipentaskan di lokasi yang kurang sesuai. Kreator semacam ini akan lebih bebas menggambari kanvas. Sementara kreator yang terbelenggu tuntutan lokasi ideal bagi karyanya harus mau menerima kondisi yang ada dan tersedia atau mengeluarkan biaya produksi lebih untuk memperbaiki kondisi yang bagaimanapun hasilnya belum tentu seperti yang diharapkan.

=== bersambung ======

One thought on “SEPUTAR PEMENTASAN TEATER Part-1”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.