Eduteater

SEPUTAR PEMENTASAN TEATER Part-3

SEPUTAR PEMENTASAN TEATER Part-3

Oleh: Eko Santosa

3. Gagasan

Gagasan atau konsep pementasan merupakan hal yang sangat menarik untuk dibicarakan. Banyak seniman atau pekerja teater yang melahirkan gagasan pemanggungan sehingga membuat pementasan teater menjadi rupa warna. Produksi teater berjalan bersamaan dengan perkembangan zaman baik dalam rangka mengikuti alur atau menentangnya. Perkembangan ilmu pengetahuan membawa pengaruh sangat signifikan bagi munculnya ide-ide baru lakon teater. Sementara perkembangan teknologi mendukung perwujudan artistik pementasan sehingga bisa memenuhi harapan para pekerjanya. Contoh nyata dari kasus ini adalah ditemukannya lampu gas yang memungkinkan panggung teater menghadirkan peniruan cahaya bulan dan matahari (lihat Santosa, 2008).

Dewasa ini hampir semua efek artistik mungkin dihadirkan di atas panggung teater sehingga gagasan-gagasan pemanggungan tidak banyak menemukan hambatan. Gagasan seputar pementasan kemudian memacu kerja kreatif semua unsur artistik yang terlibat di dalamnya. Termasuk di dalamnya penemuan-penemuan di bidang iptek yang membutuhkan penyikapan. Pentas teater, sebagai sajian seni memiliki media melimpah dalam menyampaikan gagasan. Penonton tidak lagi hanya disuguhi model dan gaya pemanggungan yang itu-itu saja (konvensional). Dengan demikian, nalar estetik pun berkembang dengan sendirinya dan itu semua bisa jadi arbitrer. Artinya, ada orang yang suka hanya dengan konsep pemanggungan tertentu dan jiwa artistik seniman bisa membidik persoalan dan keindahan serta menampilkannya dari sudut (pertimbangan) tertentu pula.

Dengan lumernya makna keindahan ini, maka gerbang kreativitas terbuka lebar. Gagasan apa saja bisa dimunculkan dan diadopsi menjadi sebuah pementasan teater dengan catatan ia diterima oleh masyarakatnya. Gagasan teater akan tumbuh berkembang sesuai budaya di mana teater itu berada. Oleh karena itu, pemaknaan terhadap gaya atau gerakan seni teater bisa menjadi berbeda-beda. Sebagai misal, Realisme yang lahir untuk menyoroti persoalan sosial sehari-hari dengan membawa syarat pergelaran sebagai kehidupan nyata bisa saja dibawakan dengan cara berbeda di lingkup budaya berbeda di mana syarat pergelaran tidak seketat atau berlakuseperti asalnya. Di dalam dunia seni hal semacam ini sah saja adanya, namun membutuhkan ketelitian jika hendak diusung ke ranah akademis. Pengetahuan dasar tentang asal lahirnya sebuah gagasan yang kemudian menjadi gerakan atau aliran menjadi penting untuk merunut persoalan awal mengapa gagasan itu muncul. Realisme misalnya, tentu saja tidak lahir dengan tiba-tiba dan begitu saja, semua pasti bisa terjelaskan sampai dengan perkembangan dan persebarannya. Pun demikian dengan gagasan-gagasan lain seperti Epik, Surealis, dan Teatrikalisme.

baca juga SEPUTAR PEMENTASAN TEATER Part-2

Seniman dalam berkarya, seperti yang disampaikan oleh Aristoteles, selalu memiliki keterkaitan dengan realitas. Makna realitas ini bisa menyangkut kehidupan masyarakat manusia, diri pribadi si seniman atau dunia imajinasi yang muncul karena dorongan untuk keluar dari atau sebagai tanggapan atas realitas. Secara gagasan, karya seni teater bisa mengambil dari mana saja, namun ketika disajikan pasti saja realitas pengalaman para penonton yang akhirnya menentukan sajian itu bisa diterima atau tidak. Kondisi ini seolah menjadi pagar bagi gagasan seniman. Akan tetapi logika yang berlaku adalah bahwa gagasan itu bisa diterima atau tidak baru setelah pementasan dilakukan. Jadi, pagar yang ada sebenarnya tembus pandang.

Kekuatan gagasan merupakan roh dari setiap karya seni teater yang diproduksi. Gagasan di dalam teater ini menyebar ke wilayah artistik yang ada di dalamnya. Sebagai seni kolaboratif, gagasan yang dimunculkan semestinya mampu menjadi ikatan seluruh pekerja artistik yang terlibat. Atas kondisi ini setiap wilayah kerja artistik teater dapat menampilkan atau dinilai sendiri atas gagasannya. Elemen pokok teater modern menyebutkan tiga serangkai penampil di hadapan penonton yang terdiri dari penulis lakon sutradara, dan pemain (aktor). Gagasan utama mengenai cerita lahir dari tangan penulis. Sutradara menggagas pemanggungannya dan pemain memerankan karakter sesuai dengan gagasannya atas karakter yang diperankan. Gagasan penulis bisa berasimilasi dengan sutradara yang kemudian secara ketat membatasi ruang gerak pemain sehingga karya yang tampil di hadapan penonton adalah karya penulis dan sutradara. Namun bisa pula penulis menyampaikan gagasannya melalui cerita, sutradara melalui konsep pengadeganan dan pengarahan, sementara pemain melalui karakter yang diperankan sehingga yang terlihat langsung di hadapan penonton adalah karya para pemain. Kedua bentuk penampilan karya teater di hadapan penonton ini oleh Meyerhold disebut sebagai teater segitiga dan teater garis lurus (periksa, Huxley & Witts, 1996).

Selain elemen pokok, teater juga memiliki elemen pendukung berupa tata artistik yang terdiri dari tata pentas, suara (musik), rias, busana, dan cahaya (lampu). Masing-masing penata juga bisa mengedepankan gagasan mereka sebagai respon atas konsep dasar artistik yang telah ditentukan dalam produksi. Tentu saja dengan satu ketentuan yang disepakati bersama masing-masing gagasan ini hadir untuk memperkuat pementasan dan bukan untuk pamer karya dari masing-masing bidang.

Penjelasan mengenai persebaran gagasan yang ada di dalam setiap bidang kerja seni teater memberikan gambaran bahwa konsep pementasan bisa datang dari bidang mana saja. Tidak melulu konsep pementasan harus lahir setelah penulis cerita menyelesaikan penulian lakonnya. Gagasan yang mendasari gaya Realisme Selektif dan Realisme Sugestif misalnya, berkutat di seputar tata panggung yang akan ditampilkan. Demikian pula dengan Konstruktvisme yang mensyaratkan pemeran untuk menampilkan perannya dalam tata panggung yang membentuk konstruksi-konstruksi tertentu sebagai simbol konstruksi masyarakat yang ada di kehidupan nyata. Sementara itu kekuatan Teatrikalisme berada pada gagasan menampilkan keahlian para pemeran selain keahliannya berperan (lihat, Mctigue, 1996). Sebuah pementasan teater bisa lahir dari sebuah gagasan yang berangkat dari bidang kerja tertentu. Karena itu pula hirarki organisasi atau tata kerja di dalam sebuah produksi teater bisa saja berlaku ketat (sesuai kerja organisasi artistik) atau malah justru mencair di mana kedudukan setiap pekerja sama dalam hal melahirkan gagasan. Semua memliki konsekuensi sendiri baik dalam hal kekaryaan maupun tanggung jawab moral atas karya yang ditampilkan.

==== bersambung =====

One thought on “SEPUTAR PEMENTASAN TEATER Part-3”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.