Eduteater

SEPUTAR PEMENTASAN TEATER Part-4

SEPUTAR PEMENTASAN TEATER Part-4

Oleh: Eko Santosa

4. Penyadaran

Konsep persuasi atas fiksi dapat melahirkan kesadaran dalam diri penikmat seni. Dengan menyaksikan karya seni yang tampil, penonton/penikmat bisa merasakan apa yang tidak dibayangkan sebelumnya dalam kehidupan nyata sehari-hari. Kejadian biasa yang tersaksi sambil lalu pada kenyataan dapat menimbulkan sejumput kesadaran ketika disajikan melalui karya seni. Kesadaran ini bisa saja berlaku kualitatif sehingga benar-benar mengubah pandangan seseorang atas sesuatu, orang lain, diri sendiri atau kasus-kasus tertentu dalam kehidupan. Haru-biru pengaruh karya seni bagi penikmatnya inilah yang dalam Realisme begitu melenakan sehingga para penonton tidak lagi bisa membedakan antara kehidupan dan tontonan. Kesadaran yang timbul karena jarak itu kemudian menjadi lekat. Penonton seolah menjadi bagian dari lakon panggung yang disaksikannya namun tak punya hak untuk mengubahnya. Kesadaran yang bermula dari pikiran telah merasuk ke dalam perasaan dalam konteks penerimaan.

Kondisi kesadaran semacam inilah kemudian yang ditentang oleh Brecht dalam teater Epik-nya. Baginya teater bukan untuk menghanyutkan rasa penonton ke dalam pertunjukan melainkan untuk membangkitkan pikiran (kesadaran) atas masalah riil yang sedang dihadapi. Teater Epik hadir untuk memberi penyadaran pada penonton bahwa mereka sedang duduk di dalam gedung dan menyaksikan sebuah pertunjukan. Karena persoalan yang sesungguhnya berada di luar gedung, maka pertunjukan harus menyeret persoalan-persoalan nyata tersebut sehingga pemain dan penonton bisa membicarakannya. Dalam rangka memberikan penyadaran ini, Brecht memperlawankan estetika Epik dengan Realis (lihat, Huxley & Witts, 1996). Ia tak hendak menina-bobokkan penonton dengan cerita drama. Ia hendak menggugah kesadaran penonton untuk bersama mempelajari problem sosial-politik yang sedang dihadapi. Penonton kemudian bukanlah orang yang hadir sekedar untuk menyaksikan pertunjukan, namun juga mesti menjadi penyelidik atas kasus-kasus yang disajikan dalam pementasan. Pemain tidak boleh hanyut ke dalam karakter yang diperankannya karena ia harus tetap menjadi diri pribadinya demi memberikan kesadaran kepada penonton atas soalan yang mereka sajikan. Untuk keperluan ini, dalam pertunjukannya, Brecht selalu menyertakan pamflet dan slogan-slogan. Tidak heran kiranya jika teater Epik Brecht ini di beberapa negara sering disebut sebagai teater agitasi dan propaganda (lihat, Mctigue, 1996).

baca juga : SEPUTAR PEMENTASAN TEATER Part-3

Sebagai akibat dari fungsi penyadaran, pementasan teater pun merekayasa bentuknya agar fungsi itu menjadi nampak. Apa yang telah dilakukan oleh Brecht membawa pengaruh luar biasa. Teater adalah bagian dari tumbuh-kembang sosial kemasyarakatan dan oleh karenanya ikut membentuk sejarah. Ia tidak lagi sekedar alat perekam yang menampilkan gambar-gambar indah penuh pesona. Teater adalah instrumen perubahan masyarakat. Untuk itu, teater dapat berfungsi sebagai gerakan politik. Seperti apa yang dkerjakan oleh Mnouchkine melalui Theatre du Soleil di Perancis, di mana kelompok teater itu dibentuk secara non-hirarkis, menolak hal-hal yang bersifat didaktis dan militan, membawa misi kemanusiaan dan sekaligus sebagai gerakan politik. Teater dalam kacamata Mnouchkine merupakan proses yang dikerjakan secara kolektif mulai dari penemuan dan penentuan cerita (skrip) yang akan dimainkan. Dalam prosesnya, improvisasi dan totalitas dalam bekerja sangat diperlukan. Sementara bentuk panggung tempat pementasan mengikuti kebutuhan (apa yang diperlukan). Kolektivitas kerja yang dilakukan sejak awal dalam proses pementasan ini membuat Theater du Soleil disebut pula sebagai Teater Kolaboratif (periksa, Mitter & Shevtsova, 2005).

Jauh sebelum teks ditemukan dan ditentukan, Mnouchkine menekankan pentingnya mempelajari dan mengetengahkan prinsip-prinsip pemeranan luar Eropa, utamanya Asia, serta tidak mau terpengaruh dengan model pemanggungan Shakespearean. Visi kolektif lebih diutamakan daripada visi seorang sutradara. Pementasan lebih dari sekedar representasi kenyataan dan harus mengedepankan pelibatan politik daripada estetik. Untuk keperluan itu semua, teater harus belajar sejarah dunia secara menyeluruh karena menjadi bagian integral darinya. Dari beberapak pokok pikiran yang ada, jelas ternampak bahwa pertunjukan yang disajikan Theatre du Soleil bukanlah sajian seni yang mementingkan keindahan. Dalam setiap pementasan selalu ada pembelajaran sosial-politik yang lekat dalam kehidupan masyarakat. Pementasan adalah penyadaran akan perubahan sosial yang dapat dilakukan oleh masyarakat sehingga mereka tidak hanya hadir sebagai korban atau pelengkap dalam kehidupan politik.

Kesadaran akan perubahan sosial yang dapat dilakukan melalui teater juga mengilhami kerja Julian Beck dalam The Living Theatre. Baginya, teater bukanlah dunia panggung yang penuh tipu daya. Teater harus hadir senyatanya dan apa adanya, karena dengan itulah ia bisa mengubah dunia. Panggung bukanlah satu hal yang penting melainkan dunia. Untuk tujuan itu, Beck menekankan bahwa akting bukanlah sesuatu yang fiksional (seolah-olah). Akting haruslah nyata. Kenyataan ini harus dibuktikan dengan pemeran memerankan dirinya sendiri, merasakan penderitaan yang ia alami langsung dan tidak menghadrikan mitos dalam karyanya. Akting dengan demikian adalah pengalaman hidup yang nyata. Untuk menyatakan pengalaman hidup ini, panggung tidaklah cukup, maka teater harus digelar di luar panggung. Jika sudah demikian maka lakon atau cerita tidak lagi penting melainkan aksi. Ya, teater adalah pergelaran aksi yang dilakukan para aktornya untuk mengungkapkan persoalan yang sebenarnya terjadi di dalam masyarakat sehingga masyarakat sadar dan mengambil peran perubahan (periksa, Mitter & Shevtsova, 2005).

Apa yang ditawarkan oleh Brecht, Mnouchnkine, dan Beck merupakan beberapa contoh teater yang bertujuan untuk menyadarkan masyarakat atas soal-soal kekinian yang sedang menimpa. Masyarakat disadarkan untuk bangkit, melawan, dan melakukan perubahan karena persoalan yang ada memposisikan mereka sebagai korbannya. Teater tidak boleh hanya diposisikan sebagai medium seni yang berdiri sendiri terlepas dari masyarakat. Fungsi teater bukan untuk menebar pesona keindahan sehingga masyarakat mengelu-elukan dan justru lupa pada persoalan riil yang sedang dihadapi. Teater harus hadir sebagai alat atau mesin politik yang mampu menjawab persoalan-persoalan yang ada. Teater dengan demikian menjadi sebuah gerakan.

Mungkin premis yang diusung tersebut terlihat bombastis. Namun semua orang terbelalak ketika Augusto Boal mampu menghadirkan teater bagaikan mimbar parlemen yang dapat mempengaruhi kebijakan publik. Suara-suara yang muncul di dalam dan seputaran peristiwa teater itu menjadi sangat ampuh. Harus didengar. Masyarakat benar-benar telah tersadarkan dan mau serta mampu bangkit bersama untuk menyuarakan protes atas nasib yang diterimanya sebagai akibat dari kebijakan. Teater Kaum Tertindas atau Theatre of the Opressed atau TO begitu menggelora. Ia hadir seolah sebagai satu model yang patut untuk diacu bagi semua teater penyadaran. Boal tidak mau dicukupkan hanya sebagai agitasi dan propaganda di mana tidak semua orang bisa mengikuti saran diri pribadinya sendiri. Propaganda kurang bisa memandang persoalan dari sudut-sudut privat. Oleh karena itu, masyarakat perlu menyadari masing-masing apa yang sedang dialami dan apa yang semestinya mereka dapatkan serta bagaimana seharusnya mereka diperlakukan. Teater harus benar-benar hadir atau dihadirkan sebagai media untuk menjawab persoalan-persoalan tersebut (lihat, Mitter & Shevtsova, 2005 dan Boal, 2008).

Di dalam perkembangannya, teater yang memiliki tujuan penyadaran ini mendapatkan peran nyatanya sebagai teater terapan. Sebuah gerakan berbasis teater yang menyeret keluar teater dari kemegahan panggung dan mempertemukan langsung teater dengan masyarakat dalam kehidupan nyata. Berbagai bidang gerakan muncul baik itu pendidikan, kesehatan, pemasyarakatan, trauma diri dan sosial dan lain sebagainya. Mereka semua hadir dengan cara merangkul masyarakat secara langsung dan besama-sama membeberkan persoalan, mencari jawaban dan saling memberikan dukungan. Pertunjukan dalam makna konvensional telah hapus karena jarak pemeran dan penonton lesap ke dalam peristiwa bersama, langsung, dan nyata. Sebagai media penyadaran, teater memang harus terjun langsung dan beraksi secara nyata. Bukan hanya mengambil sampel kasus dan kemudian mengusungnya di atas pentas sehingga mendapatkan perhatian (tepuk-kagum) penonton dan seolah-olah telah berbuat sesuatu secara nyata. Teater penyadaran adalah teater yang melakoni sejarah dan bukan sekedar memotret sejarah untuk kemudian bangga mendapatkan anggapan sebagai pelaku sejarah. Teater mesti hadir sebagai dirinya sendiri dan bukan hanya sekedar cermin yang memantulkan gambar indah namun tetap tidak nyata.

(bersambung)===========

One thought on “SEPUTAR PEMENTASAN TEATER Part-4”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.