Eduteater

SEPUTAR PEMENTASAN TEATER Part-5

SEPUTAR PEMENTASAN TEATER Part-5

Oleh: Eko Santosa

5. Pameran Pemeran

Pementasan teater dalam sejarahnya selalu memunculkan idola yaitu aktor atau pemeran hebat yang begitu dikagumi oleh penonton karena seni peran yang ditampilkan. Kemampuan mereka untuk melesapkan diri ke dalam watak yang diperankan patut untuk diacungi jempol. Kuantitas pementasan serta kualitas yang selalu baik menjadi standar tersendiri bagi seorang aktor. Ada pesona yang kemudian timbul setelahnya. Dalam hal ini adalah pesona sang aktor dan bukan watak yang diperankan. Meski pesona ini didapat sebagai hasil dari kepiawaiannya memerankan tokoh, tapi kemudian hal ini merembet secara personal dan melekat pada diri aktor. Kondisi ini akan melahirkan anggapan bahwa sebuah pementasan akan berjalan dengan baik jika aktor tersebut ikut berperan di dalamnya. Satu konsekuensi wajar karena memang aktorlah yang tampil berhadapan langsung dengan penonton.

Dalam sejarahnya, aktor-aktor piawai semacam ini lah yang menghidupkan pertunjukan. Mereka selalu dicari oleh penulis naskah atau produser untuk tampil karena begitu menarik minat penonton. Bahkan aktor berkualitas inilah yang seringkali bertindak sebagai pengarah, terutama bagi para pemeran muda yang terlibat dalam produksi tersebut. Pada masa itu organisasi produksi teater belumlah terbentuk baik dan sutradara belum pula hadir. Aktor berkualitas ini kemudian dianggap mumpuni dalam seni peran dan mereka mengajarkan skill yang mereka miliki pada para pemeran muda. Dari sinilah istilah “didaskalos” (guru) yang mendasari lahirnya sutradara muncul. Karena organisasi produksi yang belum kuat dan kuantitas produksi belum begitu banyak, para aktor ini sering berkeliling secara berkelompok untuk mencari peruntungan dengan bergabung dalam sebuah produksi. Tidak jarang pula mereka membentuk tim produksi sendiri (lihat, Cohen, 1994). Karena hal ini pulalah mereka begitu terkenal dan kepiawaian mereka hinggap ke telinga orang-orang yang bahkan belum sempat menonton aksi mereka. Jarak – antara orang yang belum menonton dan ketenaran akan keahlian sang aktor – inilah yang semakin menegaskan pesona tersebut. Sehingga kabar akan kehadiran mereka di salah satu panggung di sebuah kota menarik banyak orang untuk datang menyaksikan.

Di dalam produksi teater modern dan tradisional pesona ini melahirkan pemeran bintang yang sering dimanfaatkan untuk melariskan tiket pertunjukan. Di sinilah letak teater sebagai salah satu cabang seni pertunjukan beririsan dengan hiburan dan irisan tersebut seringkali bersinggungan. Kadang sebuah pementasan hadir sebagai seni murni, namun kadang juga hadir sebagai bentuk hiburan baik dalam rangka peringatan hari, tahun, event tertentu atau dalam produksi khusus. Pemeran bintang menjadi andalan. Dalam konteks ini, pemeran tersebut bisa saja memainkan peran utama dan bermain sesuai kapabilitasnya. Akan tetapi bisa juga ia hadir hanya dalam beberapa adegan pendek untuk memberikan bobot pada adegan tersebut. Selama kepiawaiannya dalam berperan tidak bergeser fungsi, maka ia tetaplah sebagai aktor. Artinya, dalam hal ini faktor konsep produksilah yang sebenarnya menjadi taruhan. Apakah produksi tersebut memang layak atau hanya sekedar menampilkan sosok pemeran bintang di dalamnya.

baca juga : SEPUTAR PEMENTASAN TEATER Part-4

Daya tarik akan pesona pemeran ini membuka jalan bagi lahirnya jenis produksi pementasan teater yang beragam. Mungkin saja gaya Teatrikalisme yang menampilkan kepiawaian pemeran di luar seni peran dalam pementasannya mengadopsi nilai pesona ini. Multi talenta para pemeran ditampilkan sedemikian rupa secara teatrikal sehingga penonton tidak hanya menilai watak tokoh yang diperankan namun juga kebisaan lainnya. Kebisaan lain yang membuat penonton terpesona dan tanpa sadar meminggirkan elemen seni peran dengan sendirinya ketika menyaksikan penampilan sang aktor. Faktor pesona ini lah yang secara produksi bisa menggiring pementasan teater masuk ke dalam seni hiburan semata.

Seni hiburan tersebut bisa saja sangat menarik, namun sedikit sulit untuk dikategorikan sebagai seni murni, dalam hal ini teater sebagai seni murni. Kondisi atau penilaian ini diperlihatkan dengan baik dalam film “The Greatest Showman” produksi tahun 2017 dibintangi Hugh Jackman dengan sutradara Michael Gracey. Film ini mengisahkan perjuangan P.T. Barnum dalam membangun bisnis pertunjukannya. Ia mengubah konsep museum menjadi pertunjukan penuh atraksi yang menarik. Namun pada saat itu, penilaian seni (teater) masih belum beragam sehingga tontonan P.T Barnum dianggap sebagai palsu dan bukan sebuah teater sesungguhnya. Memang, Barnum menampilkan sirkus dengan menghadirkan orang-orang aneh. Setiap berita di koran muncul selalu saja memberi penilaian jelek pada tontonan Barnum dan menganggap sebagai seni rendahan, bukan teater, dan bahkan masyarakat terdorong untuk mengutuk serta mengusirnya. Namun atas usaha gigihnya tontonan ini terus bertahan. Sirkus yang dianggap seni palsu dan sering hanya memamerkan pemain ini kemudian berkembang menjadi jenis pertunjukan tersendiri. Lepas dari penilaian atas seni teater atau hanya sekedar pertunjukan hiburan, sirkus menjadi eksis dan dapat diterima masyarakat luas. Bahkan Meyerhold pun – selain simbolisme – mengakui kekagumannya akan sirkus. Mungkin pula ini yang menjadikan Meyerhold kaya akan konsep pertunjukan teater modern. Ia menggagas gaya konstruktivisme dan biomechanic sebagai pendekatan latihan peran.

Sirkus Barnum selain menampilkan beragam atraksi juga menyajikan pameran pemeran sebagai basis tontonannya. Orang yang memiliki tinggi super, pendek sekali, gemuk sekali, perempuan berjanggut, dan lain sebagainya pada mulanya merupakan pameran hidup sebelum akhirnya diberi skill lain sebagai penambah daya pikat. Secara tegas sekarang ini konsep pertunjukan sirkus dan teater sangatlah jauh berbeda. Namun terdapat irisan yang mana elemen keduanya bisa jadi digabungkan. Konsep pameran pemeran misalnya, dewasa ini juga sering muncul dalam dunia hiburan berbasis teater. Bukan lagi kebintangan seseorang karena kepiawaiannya dalam berperan yang diusung namun ketenaran orang tersebutlah yang ditawarkan. Apakah ia seorang politisi, pelawak, dosen, motivator, pejabat publik, orang kaya, pokoknya asal public figure bisa dijadikan sebagai pemeran dalam pementasan. Apakah kemudian mereka benar-benar bisa berperan itu tidak lagi menjadi soal karena kehadiran mereka di atas panggung itu lah yang penting. Menampilkan public figure dalam balutan busana, make up, watak, dan cerita di luar kenyataan mereka itulah intinya. Penonton ditempatkan persis seperti orang tua yang menyaksikan anaknya tampil di atas panggung yang mana semua aksinya pasti akan membuat si orang tua suka.

Namun demikian, seni hiburan berbasis teater meskipun memamerkan pemeran – yang jelas-jelas bukan pemeran – juga mesti mempertimbangkan faktor artistik lainnya. Pemeran profesional, penyanyi profesional, dan semua pendukuang artistik profesional dihadirkan untuk menemani (menjadi teman dan atau lawan main) sang public figure dalam beraksi sekaligus menjaga kualitas artistik yang ingin dipertahankan. Jadi, meski merupakan pameran pemeran tatap saja unsur artistik teater tidak bisa dikesampingkan. Persis seperti apa yang dilakukan oleh Barnum dalam membangun pembukaan, inti, dan penutup pertunjukannya selalu menyajikan atraksi yang mempesona, bukan hanya sekedar pameran pemeran. Soal apakah pertunjukan tersebut dapat disebut sebagai seni muni atau bukan, itu soal lain. Pada intinya semuanya membutuhkan kepiawaian dalam merancang, melatih, mengarahkan, dan mengolah menjadi sebuah pementasan.

===bersambung===

One thought on “SEPUTAR PEMENTASAN TEATER Part-5”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.