Eduteater

SEPUTAR PEMENTASAN TEATER Part-6

SEPUTAR PEMENTASAN TEATER Part-6

Oleh: Eko Santosa

6.Elemen Artistik

Pementasan teater berlangsung dengan melibatkan banyak elemen artistik. Tata panggung, tata rias-busana, tata cahaya, ilustrasi musik, dan mungkin elemen artistik lain sejalan kemajuan ilmu dan teknologi. Pemanggungan dengan demikian menjadi semacam kanvas bersama yang dilukis secara kolaboratif. Masing-masing bidang artistik bekerja secara profesional untuk dipersembahkan kepada penonton yang hadir. Dari kondisi inilah, elemen artistik di dalam pertunjukan teater mengambil peran yang sangat penting. Seolah tanpanya teater tidak bisa hadir secara utuh.

Meski Meyerhold menyampaikan bahwa elemen pokok teater modern adalah penulis lakon, sutradara, pemain, dan penonton, namun tanpa elemen pendukung berupa tata artistik, pertunjukan menjadi kurang hidup. Meski jenius teater semacam Growtosky mencoba menghilangkan elemen ini sehingga yang hadir hanya aktor di depan penonton, namun awam tetap beranggapan bahwa tanpa tata artistik panggung menjadi sepi. Tata artistik, sampai hari ini tetaplah menjadi ornamen utama yang membingkai pandang penonton dan mampu memantik imajinasi atas peristwa yang dihadirkan. Bahkan penonton bisa saja terpukau dengan tampilan tata panggung plus seni pencahayaan, komposisi bunyi-bunyian, dan juga tata rias-busana yang menawan. Faktor keindahan visual dan aduio inilah yang membuat tata artistik pementasan memiliki tempat tersendiri bagi penonton. Konsep pertunjukan yang disusun tidak bisa melepaskan dirinya dari unsur tata artistik ini, bahkan dalam tingkat yang paling sederhana.

Tata panggung pada mulanya lahir sebagai pemenuhan kebutuhan latar tempat berlangsungnya ceria. Gambar latar belakang difungsikan untuk menyeret imajinasi penonton menuju ke lokasi berlangsungnya peristiwa. Penghadiran gambar latar ini memiliki sejarahnya sendiri mulai dari layar yang benar-benar dilukis secara realis sampai gabungan antara layar dengan objek di depan, atas, dan sisi lain seputar layar. Teknik dan seni berpadu untuk menghadirkan realitas panggung. Usaha-usaha banyak dilakukan demi terciptanya dunia yang seolah-olah nyata. Bahkan, untuk tujuan ini sekolah-sekolah atau pelatihan-pelatihan khusus didirikan. Orang pun tidak ragu lagi berkecimpung di bidang tata panggung dan mereka bukan lagi orang yang dianggap sebagai pekerja kasar. Penata panggung, karena ilusi magisnya merupakan jabatan mentereng dalam khasanah teater modern. Secara lebih jauh, tata panggung berkembang dengan pesat tidak hanya secara teknis, visualisasi ataupun penggunaan material, namun juga sampai ke filosofi. Dewasa ini, tata panggung dimaknai sebagai skenografi dengan filosofi ruang yang berbicara. Ia tidak lagi sebagai latar. Tidak lagi sekedar lokasi namun ia memberikan makna tersendiri terhadap pesan yang hendak disampaikan dalam pertunjukan kepada penonton. Skenografer dengan keahliannya mampu membuat ruang berbicara secara stand alone. Ia bisa tampil mandiri dan mengucapkan pesannya. Ditambah dengan aksi para pemain yang memanfaatkan ruang tersedia, panggung bisa benar-benar nampak hidup.

baca juga : SEPUTAR PEMENTASAN TEATER Part-5

Dunia panggung yang hidup tidak hanya mengacu pada potret kenyataan, tapi juga dunia imajinasi yang bisa saja segaris dengan kenyataan atau melompat jauh. Dunia panggung yang diciptakan melalui tata panggung bisa saja membuncahkan imajinasi liar tentang tatanan bentuk, warna, dan ruang. Ia telah lahir sebagai seni tersendiri. Ia menghadirkan makna yang dalam pemahamannya bisa saja mana-suka. Makna yang membuat para pemain terbangkitkan dalam melakonkan aksinya dan menjadikan penonton terkesima. Kehadiran tata panggung dengan demikian tak lagi bisa ditolak karena meski sebagai elemen pendukung namun ia telah lekat ke dalam pementasan teater, di manapun itu diselenggarakan.

Hal yang sama juga terjadi pada elemen tata artistik lain seperti tata cahaya, rias-busana, dan tata musik (suara). Masing-masing elemen mengalami perkembangan dan kebergunaanya selalu saling kait-mengait. Tata cahaya yang pada mulanya hanyalah penerang pertunjukan telah berubah menjadi seni pencahayaan yang mampu melahirkan dimensi lain, berbeda, serta memberi daya hidup. Pementasan teater yang pada awalnya tidak menggunakan lampu hanya mengandalkan cahaya matahari atau bulan. Lalu kemudian mulai dari nyala api hingga lampu bakar minyak digunakan sebagai penerangan. Perkembangan artistik secara signifikan lama-kelamaan mengubah peran tata cahaya – seiring dengan kemajuan teknologi – tidak hanya sebagai penerang namun juga melahirkan fungsi-fungsi artistik lain. Kemampuanya mengimitasi cahaya matahari dan bulan serta lampu praktikal menjadikan pertunjukan teater realis benar-benar seperti kenyataan. Dalam simbolisme, peran tata cahaya juga bisa digunakan sebagai media ungkap untuk menyampaikan sesuatu yang khusus terkait makna pertunjukan. Di dalam gaya dan konsep pementasan lainnya, tata cahaya selalu dihadirkan di luar kepentingan penerangan. Untuk keperluan ini teknologi lampu panggung selalu memproduksi jenis-jenis lampu baru yang mampu menghasilkan karaker cahaya tertentu sehingga bisa memperluas keberfungsiannya dalam pementasan. Seorang penata cahaya sangat penting kedudukannya karena atas perannyalah penonton bisa menyaksikan sesuatu di atas panggung. Tanpa cahaya panggung gelap dan penonton tidak bisa menyaksikan apapun.

Elemen artistik di dalam teater modern hari ini terkesan tidak mau dijadikan hanya sebagai faktor pendukung sebuah pementasan. Mereka menasbihkan dirinya melalui perancangan karya yang penuh ketelitian, kecermatan, dan gagasan bernas. Seni busana tidak hanya sekedar memberikan atau memakaikan sandangan kepada para pemain namun juga memberikan pemaknaan baru sebagai sebuah karya seni mandiri. Demikian pula halnya tata rias yang mengalami kemajuan sangat pesat sehingga bisa mengubah wajah seseorang menjadi apapun yang diinginkannya. Tidak lupa ilustrasi bunyi-bunyian yang hadir, bisa berupa komposisi mandiri untuk mengiringi satu adegan, bisa hadir sebagai pemberi suasana, dan bisa pula hadir sebagai sound effect. Kemenyatuan elemen artistik dalam sebuah konsep produksi merupakan keniscayaan. Ia tidak bisa dikesampingkan, harus digarap secara serius. Sebab jika tidak, maka pertunjukan akan menampakkan bolong-bolongnya dan menjadi tidak sempurna. Keadaan gedung pertunjukan dalam konteks eksplorasi visual dan audio pun harus mendukung perwujudan konsep pertunjukan. Mulai dari sinilah setiap segi dieksplorasi dan disintesiskan agar pertunjukan berjalan seperti apa yang diinginkan. Tidak jarang sebuah pertunjukan kurang berhasil, misalnya hanya karena jenis lampu yang disewa kurang sesuai dengan tinggi bar lampu tersedia sehingga mengakibatkan cahaya bocor. Atau bisa saja jarak estetis tidak memungkinkan untuk menciptakan ilusi bagi objek-objek dengan ukuran besar. Tata rias yang terlalu tebal atau terlalu tipis berkaitan dengan jarak dan kondisi pencahayaan. Semua harus diperhitungkan dengan baik. Kesalahan artistik dapat merugikan seluruh tampilan. Konseptor atau sutradara yang bijak pasti akan mempertimbangkan elemen artistik ini dengan cermat untuk mencapai hasil yang optimal.

====== (bersambung)

One thought on “SEPUTAR PEMENTASAN TEATER Part-6”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.