Eduteater

SEPUTAR PEMENTASAN TEATER Part-7

SEPUTAR PEMENTASAN TEATER Part-7

Oleh: Eko Santosa

7. Komunikasi

Pementasan teater pada dasarnya merupakan proses komunikasi. Pemain mengomunikasikan gagasan penulis lakon dan sutradara kepada penonton. Ketersampaian pesan dalam proses komunikasi tersebut menjadi tujuan utama. Tidak ada gunanya penonton yang memblubak namun semuanya tidak mampu menangkap pesan yang disampaikan. Tidak ada gunanya pula pemeran berlatih dalam waktu kurun lama namun tidak bisa dengan cerdas menyampaikan pesan lakon kepada penonton. Pesan menjadi inti dari pementasan. Karena pesan inilah cara-cara atau pendekatan digunakan para pelaku teater ke dalam bentuk dan gaya pementasan. Pesan pun tidak hanya diolah ke dalam dialog-dialog linier dan direksional karena pementasan berbeda dengan pengumuman. Pengolahan pesan diwujudkan melalui simbol-simboal artisik yang tersaji di atas panggung. Di sinilah letak seni pementasan tersebut. Bagaimana sebuah tontonan menjadi media komunikasi dengan menggunakan bahasa artistik.

Cara-cara kreatif selalu muncul dalam proses penciptaan teater dalam rangka menyampaikan pesan secara artistik kepada penonton. Di masa Yunani adalah merupakan hal yang wajar para penonton menangis di tengah-tengah pertunjukan tragedi karena begitu tersentuh atas pengorbanan atau penderitaan yang dialami si tokoh (lihat Kul-Want & Piero, 2012).  Dalam hal ini, penonton dapat menerima pesan dengan baik hingga sampai menyentuh rasanya. Mereka bahkan tidak malu-malu untuk menangis. Secara mendalam, pertunjukan tragedi yang ditampilkan telah memberikan efek atas penyampaian pesan hingga menimbulkan kesadaran mengenai nilai-nilai kemanusiaan yang ada di dalamnya. Pesan, dengan demikian tidak hanya tentang arti atau makna namun juga soal internalisasi nilai ke dalam diri melalui proses komunikasi yang tak biasa (tidak dilakukan dengan cara dan bahasa sehari-hari). Tanpa kesungguhan dan kepiawaian tentu saja proses komunikas tak langsung dengan bahasa artistik ini sulit terbangun. Selain itu, pesan yang hendak disampaikan pasti tidak hanya itu-itu saja, demikian pula cara penyampaiannya. Karena itu pulalah kreasi pertunjukan selalu lahir demi menjalin komunikasi dan menyampaikan pesan baru dengan gaya dan cara baru.

Teater konvensional mengedepankan gerak fisik dengan iringan musik ketika berbicara atau menyampaikan sesuatu untuk mempertegas pesan yang hendak disampaikan. Tapi dalam adegan tertentu gerak fisik dan iringan musik dibatasi juga demi tersampainya pesan. Menjadi soal pokok dalam teater konvensional adalah melakukan dialog disertai gestur dengan gaya bahasa yang jauh berbeda dengan bahasa sehari-hari mengingat bahwa salah satu ciri teater konvensional adalah istana sentris. Nah, membumikan budaya istana kepada masyarakat biasa inilah yang menjadi tantangan teater konvensional dalam berkomunikasi. Mungkin karena itu pula teater tradisional memberikan penegasan-penegasan melalui gerak dan musik pada saat, situasi, emosi dan ekspresi tertentu.

baca juga : SEPUTAR PEMENTASAN TEATER Part-6

Berbeda dengan teater konvensional, teater realis yang mengangkat kisah kehidupan nyata ke atas pentas justru memiliki tantangan yang berat dalam menyampaikan pesan untuk tidak terjebak secara artfisial. Teater adalah seni sehingga sebisa mungkin penyampaian pesan ini juga berdimensi seni. Di sinilah kerumitan realisme dalam membungkus pesan tersebut. Karena semua elemen yang berada di atas panggung harus nampak benar-benar sama dengan kenyataan termasuk dialog yang digunakan, maka seolah tidak perlu dimensi seni untuk menyampaikan pesan (komunikasi) dengan penonton. Justru di sinilah letak seni dari realisme. Untuk menyampaikan pesan sesuai dengan kenyataan dibutuhkan keahlian tersendiri. Seni peran mendapatkan porsi tertinggi karena dalam realisme aktor diharuskan berakting dengan meyakinkan sehingga penonton menganggap mereka tidak sedang berakting. Jika prinsip ini tidak terpenuhi dan penonton sadar bahwa aktor sedang berakting, maka komunikasi penyampaian pesan menjadi verbal. Aktor kemudian dianggap sekedar memverbalkan dialog yang ada dalam lakon. Unik, menarik, dan rumit memang tapi itulah esetetika realis yang berbeda dengan gaya teater lainnya. Untuk membangun komunikasi menadalam kepada penonton, realisme justru menciptakan dinding keempat (dinding imajiner) yang memberikan sekat pembatas antara aktor dan penonton. Karena tidak bisa menyentuh, maka orang-orang akan membangun proses komunikasi melalui pikiran dan perasaannya atas apa yang disaksikan. Panggung bagaikan akuarium besar di mana orang-orang bisa menyaksikan keindahan dan pesan kehidupan ikan-ikan dengan tanpa menyentuhnya.

Konsep komunikasi model realisme ini kemudian banyak mengalami perlawanan. Brecht misalnya, menganggap teater realis terlalu melenakan dan pesan yang hendak disampaikan tidak menghujam langsung pada persoalan kehidupan aktual yang sedang dihadapi masyarakat. Pesan teater baginya adalah bentuk kesadaran yang didapatkan melalui proses pengamatan. Jadi, pertunjukan teater tidak boleh ditonton melainkan diamati. Apa yang dilakukan oleh Brecth dalam menyanggah konsep komunikasi realisme ini dilakukan oleh banyak seniman teater modern yang lain. Secara garis besar semuanya memiliki kesamaan di mana pesan yang terkandung dalam teater tidak melulu harus disampaikan secara dramatis. Seperti diketahui bahwa teater konvensional dan realis masih mendasarkan ceritanya pada drama sehingga alur atau nalarnya kronologis. Sementara itu dalam gerakan teater modern selain realis, pesan bisa dikomunikasikan melalui adegan atau peristiwa yang tidak harus berkaitan dengan adegan atau peristiwa lain dalam satu lakon. Ketidakharusan untuk terkait dengan konsepsi drama ini melebarkan wilayah ekspresi teater dalam berkomunikasi dengan penontonnya. Teater bisa ditampilkan melalui potongan-potongan adegan yang saling tidak terkait – tokoh, peristiwa, latar – selain keterhubungan pesan itu sendiri. Teater bisa saja tampil dalam cerita yang sepenuhnya tidak utuh selama pesan yang hendak disampaikan dapat diterima oleh penonton. Teater tidak tidak harus kaku dalam batas-batas tertentu yang terkonvensi karena pelaku teater dimungkinkan menciptakan batasan tersendiri dalam karyanya demi tersampaikannya pesan kepada penonton.

========= bersambung ===========

One thought on “SEPUTAR PEMENTASAN TEATER Part-7”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.