SEPUTAR PEMENTASAN TEATER Part-2

Oleh: Eko Santosa

2. Realitas

Lakon teater berisi cerita rekaan yang kemudian dinyatakan di atas pentas. Cerita rekaan ini dibuat berdasarkan realitas. Pada mulanya realitas yang disajikan diukur berdasarkan kebenaran yang mengacu pada dunia metafisik. Oleh karena itu, karya lakon kurang bisa dianggap sebagai kebenaran karena ia merupakan cermin dari realitas kehidupan manusia yang juga bercermin pada dunia metafisik sebagai sumber segala benar. Jika lakon saja kurang bisa dianggap sebagai sebuah kebenaran apalagi menyatakan lakon tersebut di atas pentas. Sementara itu kebenaran pada awalnya merupakan kata kunci dari keindahan sehingga yang tidak benar kemudian dianggap tidak indah. Lepas dari kondisi benar atau salah ini, realitas panggung tetap saja bisa dihadirkan dan diterima meski dikategorikan sebagai simulakrum oleh Plato.

Realitas panggung yang merupakan cerminan realitas kehidupan manusia mendapatkan tempat tersendiri ketika dimaknai sebagai “fiksi” oleh Aristoteles. Ia menekankan satu fakta bahwa karya seni memiliki struktur dan bentuk tersendiri yang terbebas dari struktur dan bentuk realitas. Untuk menjelaskan hal ini ia mencontohkan bahwa karya drama akan bergulir berdasar plot (struktur cerita) yang melibatkan karakter dan aksi di dalamnya sementara karya musik didasarkan pada struktur nada, ritme, dan melodi. Karena seni memiliki arti/rasa internal atas struktur dan organisasi, Aristoteles menegaskan bahwa seni dengan demikian memiliki status fiksional daripada status kepalsuan (simulakrum) seperti yang disandangkan oleh Plato selama ini (lihat Kul-Want & Piero, 2012).

baca juga : SEPUTAR PEMENTASAN TEATER Part-1

Meskipun memiliki struktur yang independen, namun karya seni dalam hal ini pementasan teater dapat dipahami, dievaluasi, dan diapresiasi oleh para penikmatnya berdasarkan rentang konsep yang mereka peroleh dari pengalaman kehidupan. Struktur mimetik seni melekat dalam interaksi antara karya seni dan penikmatnya. Dalam hal ini, realitas panggung memperoleh pengukuran berdasar realitas pengalaman hidup para penontonnya. Logika yang dibangun di atas panggung bertemu dengan logika yang ada dalam pikiran penonton berdasarkan pengalaman hidup yang dialaminya. Keterhubungan antara karya seni dengan penikmat ini melahirkan pengaruh timbal balik di mana karya seni dapat mempengaruhi penikmat dan sebaliknya, ekspresi penikmat dapat mempengaruhi karya seni.

Jalinan hubungan antara karya seni (teater) dan penikmatnya ini justru memungkinkan hal-hal yang dianggap kurang menarik dalam kehidupan nyata justru mendapatkan ketertarikan hebat di atas panggung. Misalnya saja, setiap orang tidak mau menerima apa yang dinamakan sebagai penderitaan di dalam kehidupan nyata. Namun ketika penderitaan manusia itu diangkat dalam lakon dan dipentaskan justru menimbulkan simpati mendalam para penontonnya. Penonton menikmati penderitaan tersebut secara kontemplatif. Pengalaman karya seni memang berbeda dengan pengalaman kehidupan nyata, namun efek emosionalnya sangat bergantung pada hubungannya dengan kenyataan. Dalam konteks penikmatan, kenyataan tidak hanya bergantung pada pengalaman fisik namun juga pengalaman pikiran. Realitas fisik dan pikiran ini bisa menjadi indah, bermakna, menginspirasi, menggugah, mencerdaskan, dan menyadarkan ketika disajikan dalam dunia fiksi di atas panggung.

Kehadiran hubungan antara karya seni dan penikmat yang diajukan oleh Aristoteles ini mengukuhkan kenyataan karya seni yang terus bertahan sampai hari ini. Realitas kehidupan manusia di mana segala nilai berada tetap menjadi dasar penciptaan karya teater. Hubungan antara dunia nyata dan kenyataan fiksional ini mengalami evolusi mulai dari keterkaitannya dengan kebenaran hingga ketidakperluannya untuk diukur secara benar dan salah menurut dunia nyata (fisik). Kebenaran karya seni pada awalnya dilekatkan pada kebenaran absolut dunia metafisik. Berikutnya ia disebandingkan dengan kenyataan hidup yang istana sentris. Pada masa berikutnya ia diukur secara religius. Hingga akhirnya ia memliki otoritas untuk hadir tanpa risau atas pembandingannya dengan kenyataan karena nilai benar dan salah kemudian telah begitu longgar atau bahkan tak lagi digunakan untuk menilai keindahan karya seni.

Apresiasi penikmat membawa pengaruh luar biasa di dalam realitas panggung. Kebebasan menciptakan kenyataan fiksional ini melahirkan banyak cobaan yang menarik. Memang ada yang bisa bertahan dan banyak pula yang langsung tenggelam hanya dalam beberapa kali cobaan. Realitas panggung dihadirkan tidak saja melalui keunikan cerita namun juga dalam wujud artistik pementasan. Gagasan-gagasan baru banyak bermunculan sejalan dengan berkembangnya filsafat, ilmu pengetahuan, dan peristiwa dunia. Setiap pekerja teater diperkenankan menciptakan dunia fiksionalnya sendiri dan penonton pun bebas dalam mengapresiasi sesuai penerimaan atas logika yang ditawarkan. Bisa jadi penonton senang, terhibur, dan membenarkan atas sajian pertunjukan tersebut. Namun bisa saja penonton menolak karena memang tidak masuk ke dalam logikanya. Kondisi inilah yang kemudian dijabarkan oleh tim produksi sebuah pementasan melalui segmentasi penonton dengan maksud agar pementasan dapat dinikmati oleh orang yang datang khusus untuk menonton.

Kesebandingan kebenaran (logika) antara isyu yang ditampilkan di atas pentas dengan logika kenyataan (fisik dan pikiran) yang dialami penonton dalam perjalanan hidup menjadi alat ukur yang paling sederhana. Semua pekerja teater pasti memahami hal ini. Menampilkan gagasan baru dalam bentuk pementasan baru yang seolah berada di luar logika pementasan pada umumnya membutuhkan perjuangan tersendiri. Menampilkan pertunjukan dengan pola dialog rumit dan perlu pemikiran di tengah masyarakat yang miskin literasi pasti banyak mengalami hambatan. Intinya, logika di atas panggung mesti bertemu dengan logika para penontonnya. Usaha untuk mempertemukan kedua logika ini memerlukan seni tersendiri dan usaha yang tidak sekali jadi. Misalnya saja, gaya Surealisme muncul – salah satunya – karena pengaruh teori Freud. Upaya menyajikan teori Freud dalam sebuah pementasan memerlukan usaha dan seni tersendiri semisal membangun kesetaran pemahaman awal dengan penonton melalui narasi yang dituliskan dalam iklan, pamflet atau booklet pementasan atau cara-cara lainnya. Atau gaya Epik Brecht yang membolehkan pemain untuk berkontak fisik dengan penonton demi mengingatkan penonton bahwa mereka sedang menyaksikan sebuah pertunjukan dan tidak sedang terlena oleh haru-biru cerita yang disajikan. Intinya, semua usaha yang dilakukan oleh seniman teater pada akhirnya mesti bertemu dengan realistas pengalaman penonton dalam hubungan yang saling mempengaruhi.

==== (bersambung)

One thought on “SEPUTAR PEMPENTASAN TEATER Part-2”

Leave a Reply