Monolog

T o h Monolog Whani Darmawan

TERDENGAR ILLUSTRASI LAGU-LAGU ROMANTIK LAMA DI MASA TAHUN 1965. TOKOH KITA SUDAH DI STAGE CENTRE KETIKA PERTUNJUKAN INI DIMULAI.

Toh. Tahukah Anda, apa itu toh? Toh itu tanda lahir. Seperti ini — IA MEMBUKA BAJUNYA, TETAPI BELUM UTUH IA  MEMPERLIHATKAN TOHNYA SEGEERA MENUTUP KEMBALI — Oh, sudah hilang, maaf. Ya, tanda lahir itu sudah hilang dari tubuh saya. Entah, apa yang mereka inginkan dari saya — maksud saya – orang-orang seperti saya. Mereka mencari tanda lahir. Terus kenapa? Kata mereka, mereka mencari manusia sejati dari toh, atau tanda lahir itu. Bagaimana mereka merumuskan manusia sejati hanya dari toh? Dan lagi, jika toh itu adalah pemberian alam semesta, alamiah, kenapa orang harus risau dengan itu?

Menurut seorang generaslis ; bukan dukun tapi pintar, orang pintar tapi tak mau disebut dukun, toh memang tanda lahir yang luar biasa. Menurut para mistikus toh juga bisa berarti jenis genealogi tertentu dalam rumpun manusia. Karenanya, watak dan muasal pemilik toh itu berbeda-beda ketika warnanya juga berbeda. Misalnya toh dengan warna putih, merah muda, anggur, ungu, coklat muda, coklat tua, abu-abu, kebiruan, nila, hitam. Misalnya, toh putih – yang nyaris panu itu – adalah genealogi Raden Pandu Dewanata, tokoh dalam seral Mahabarata, wuah, keren bener kalian yang punya toh putih, ya. Kalau coklat muda adalah keturunannya para Sunan — entah Sunan mana yang dimaksudkan jangan tanya saya. nah, yang paling menghebohkan dalam diri saya, toh saya berwarna merah terang, merah menyala. Apa maknanya? Jangan tertawa kalau saya katakan saya ini keturunannya Tsar dari Rusia…..(JEDA, MEMANDANG PENONTON, DAN KEMUDIAN TERTAWA TERPINGKAL-PINGKAL) ………..haduuh saya merasa terhormat menjadi keturunannya Tsar Nicolaus. Jangan-jangan saya masih keponakannya Lenin atau Stalin ya?……KEMBALI TERTAWA MENGIKIK, GELI……………. lha anehnya, primbon Nusantara ini bisa meramal saya sebagai keturunannya Tsar, bagaiman dengan toh warna biru? Kok tidak ada penjelasannya kalau toh warna biru itu keturunan Superman atau kapten America, gitu?……KEMBALI NGIKIK TERKIKIK KIKIK SENGIKIK-NGIKIKNYA………………

Sejarah ini memang lucu. Saya akhirnya bisa mengatakan ini sesuatu yang lucu daripada meresahkannya ini sebagai tragedi memilukan yang memangsa jutaan korban. Lucu? Ada orang yang tidak bisa menerima pendapat saya. Tentu saja boleh. Tapi buat saya, kelucuan itu semacam bahasa yang menunjukkan bahwa ujung dari segala tragedi adalah komedi di mana rasa pahit sudah tak lagi berasa. Kebangeten kan? Bisa jadi. Tapi ini pilihan saya. Bagaimana tidak …………………..(JEDA) ………………………. kalau penjelasan yang saya terima dari moyang saya, saya ini keturunan non pri. Ah, pri non pri, asli, tak asli, memusingkan saya! Tapi biarlah, saya pinjam istilahnya karena saya ingin menjelaskan sesuatu. — ya, saya keturunan non pri – di masa itu – sebut saja China. Ah, mana saya mau percaya begitu sebenarnya, dan bagaimana cara melacaknya mulai dari buyut, canggah, udek-udek, gantung siwur hingga ke sperma pertama yang menurunkan saya, mana bisa saya melacaknya! Yaaaa….ambil saja mentahnya, mungkin saya ini sperma prajurit Tar-Tar yang sebelum digorok oleh Raden Wijaya sempat muncrat ke rahim orang lokal. Kalau gitu apa saya saudaraan sama Gengis Khan, Khan yang Agung itu ya? Atau, jangan-jangan spermanya Mao Tze Tung ya? …………….(TIBA-TIBA TERTAWA NGAKAK, SARKAS DAN AGAK PANJANG, EH, TIBA-TIBA LANTAS MENJADI RINTIH DAN TANGIS) ……………………..

Saya tidak pernah minta dalam hidup ini diberi toh. Jangankan memilih, diberi toh warna putih, coklat muda, coklat tua, anggur, abu-abu, nila, kebiruan, merah menyala, hitam, saya tidak pernah menginginkan! Kenapa saya tiba-tiba menjadi perkara. Bukan memperoleh, Menjadi! Tiba-tiba, sayalah masalahnya! Ini sudah berapa generasi? Sejak tahun di mana mungkin saya masih menjadi cairan dan bahkan saya pun tak mengenal siapa kakek saya lansung, bagaimana mungkin generasi Z – generasi gadget — seperti saya diadili hanya gara-gara sebuah toh! (LEBIH MARAH) Tahukah Anda sekalian, hanya karen toh itu saya tak bisa mendapatkan pekerjaan yang layak di instansi pemerintah manapun. Semua orang memblokir toh saya! Dan tiba-tiba saja saya percaya bahwa mithos toh itu memang ada. Bayangkan, tiba-tiba saja saya mengutuk leluhur saya — saya gak ada urusan apakah itu Tsar dari Rusia atau kaisar sipit dari China, atau Suromenggolo, saya nggak ada urusan —- saya mengutuk mereka yang memberikan toh di tubuh saya!

BERGEGAS IA MEMBUKA KAOSNYA, DAN TERLIHATLAH KELOID BESAR TEPAT DI TENGAH DADANYA. KELOID YANG MENJIJIKKAN

Mata Anda melihat!? Keloid ini dulu berwarna merah menyala. Jangan tanya saya dari mana asalnya, sudah berulangkali saya katakan! Sampai-sampai saya mempercayai bahwa hidup memang tidak adil memberikan toh kepada saya. Maka di atas toh itu kemudian saya tumpuki tato sebuah bintang. Jadilah bintang merah dengan latar belakang emas menyala! Gila! Mereka menuduh saya sebagai antek! Antek apa!? Saya tak mengerti! Bahkan dalam kenyamanan saya sebagai ‘Z generation’ yang hanya ngerti persoalan gadget, saya diburu, dituntut untuk menghilangkan toh, bahkan toh yang ditumpuki tato pun dianggap masih eks. (JEDA) Anda tahu, dengan gila-gilaan — entah dari mana datangnya keberanian itu — saya mengambil setrika panas dan saya gesekkan di dada ini! (MERINTIH, MENANGIS. JEDA) sekarang Anda bisa melihatnya. Apakah mata Anda melihatnya? Lihaatt! Lihatlaaahh! Bahkan dengan kulit yang buruk rupa ini, mereka tetap memburu, dengan tututan penghapusan jejak-jejak toh. Artinya, bahkan keloid ini pun harus hilang dari muka bumi. Gila! Bukankah mahluk-mahluk dalam sinetron Korea yang bisa melakukannya dengan mudah!

JEDA. MENGAMBIL LAPTOP, MEMBUKA DAN MENYALAKANNYA. MENGAMBIL SEBOTOL JACK D HONEY DAN SLOKI KECIL. MENUANG DAN MEMINUMNYA. SEMAKIN PANAS, SEMAKIN LEPAS.

Preeek! Tai anjing! Saya tak ada urusan dengan politik. Saya lahir dan hidup karena saya dikaruniai oleh kehidupan! Lagi pula, politik kalian kan cuma topeng! Bilang saja kalau sebenarnya kalian ini orang-orang minder yang pengin dapat uang dengan mudah! Gila! Apa hubungan toh ini, usaha cafe saya dan politik? Ya hubungannya kalau saya tak memberi uang keamanan bulanan kepada mereka, maka mereka akan mengungkit toh dalam tubuh saya, sampai suatu saat saya modar dimangsa politik!

KEMBALI MENUANG MINUMAN KERAS DALAM SLOKI DAN MEMINUMNYA.

Mari mabuk! Sebab di abad kini mabuk itu sehat, waras itu hipokrit! Saya ingin bersantai, tak ingin mengurusi apapun! Preekk!

MENUANG JACK D HONEY KE DALAM SLOKI, MENENGGAKNYA. MENYULUT SEBATANG ROKOK MENYEDOT DAN MENGEPULKAN ASAPNYA KE UDARA. DARI SPEAKER KECIL YANG TERHUBUNG DENGAN LAPTOP ITU TERDENGAR LAGU GENJER-GENJER MENGALUN. LAMPU PADAM.

Omahkebon, Jumat 1 Juli 2016.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.