Monolog

T o a Monolog Whani Darmawan

DARI KEJAUHAN TERDENGAR SUARA MUSIK DANGDUT SANGAT JELAS. SUARA ITU KIAN MENGERAS. BARANGKALI OBYEKNYA SEMAKIN MENDEKAT. BENAR JUGA. SESEORANG MENDORONG GEROBAK YANG BERISI  — SEPERTI SAMPAH ELEKTRONIK –. PAK TOA – SEBUT SAJA BEGITU TOKOH KITA INI — TAMPAKNYA ORANG YANG PERIANG. IA MELAMBAI-LAMBAI KEPADA PENONTON DAN TERSEYUM LEBAR. SAMPAI DI TITIK TERTENTU GEROBAK DORONG DIHENTIKAN. SUARA MUSIK DANGDUT DARI TOANYA ITU SANGAT KERAS. SEHINGGA KETIKA IA MEMULAI BICARA PADA PENONTON TIDAK TERDENGAR.SUARANYA KECUALI MULUTNYA YANG CUMA MANGAP-MANGAP DOANG. SADAR, IA PUN KEMUDIAN MEMATIKAN AMPIFLIERNYA.

Hahahaha….. kena kaliaaann! Pasti kalian mengira saya tadi penjual klepon kan? Penjual gethuk keliling kan? Salaaaahh……hahaha! Biasaa, dari jauh saya biasa dikira mendring, bakul klepon, dangdut keliling. Apalagilah. Maklum. Lha pekerjaan saya kan Tukang Toa. Kalau saya masih menawarkan kemampuan saya dengan suara, ‘serviiss dan sewa toaaa, servisss dan sewa toaaa!’ kan mubazir barang saya. lebih baik langsung saya bunyikan, biar mereka sekalian tahu kualitas  Toa saya.

Apa kabaar saudara-saudara sekaliaaann? Sehat? (SILAKAN BERINTERAKSI DENGAN PENONTON DI BAGIAN INI) masih mau kan berjoged dengan saya? dengan musik yang keluar dari toa saya? mau kan? Hahaha….terimakasih, terimakasiiihh…. jangan meragukan kemamuan servis toa saya. Segala lapisan masyarakat membutuhkan saya. kecuali tukang gethuk keliling, mendring, dangdut keliling yang saya sebut tadi, klien — istilah ini saya dapat dari para pelanggan saya — klien saya orang-orang ternama di segala lapisan masyarakat. Seperti ; remaja masjid, panitia pengajian, para demonstran, partai-partai, anggota dewan, panitia-panitia pemilihan kepala desa, panitia agustusan, ulangtahunan, nikahan, supitan dan event-event tak terduga lainnya. Mereka senang menyewa toa saya karena katanya toa saya bening dan keras! Hahaha…tahu kan saudara-saudara, gimana enggak bening dan keras. Ini kan soal komunikasi. Bening dan keras itu menjadi sangat utama!

Nah, kalau Anda bertanya apa suka duka menjadi tukang servis dan sewa toa, hehehe…bayak saudara-saudara. Begini ;

Klien-klien saya ini — nah, istilah ini juga saya pulung dari para klien saya. Klien saya ini sangat lucu-lucu. Mereka suka bicara muluk, ngowos seperti kompor gas mie ayam. Pokoknya, menurut pikirannya semua orang salah, semua orang goblog dan hanya dirinya yang benar. Ada juga klien saya, saya nggak tahu, tetapi pekerjaannya membaca koran, membaca buku dan pidato. Hehehe, saya gak tahu pekerjaan jenis apa itu. Lha kok enak men, moco koran moco buku terus pidato dan dapat uang. Ooaalaaahh orang begitu kok ya hidup!

Mereka rata-rata orang-orang yang sombong dan sok pintar. Mereka orang-orang yang Cuma ngerti pakai, dan bahkan tidak ngerti fungsi serta merawatnya. Mereka tidak tahu cara kerja toa! …ya saya tahu, memang tidak harus. Di situlah letak kemenangan saya. setiap kali mereka menserviskan toanya kepada saya saya jamin mereka akan menjadi klien tetap. Saya bengkelnya, saya yang berkuasa! Hahaha…dikiranya Cuma orang-orang itu yang bisa berkuasa menentukan nasib seseorang! Dikiranya Cuma mereka yang bisa jadi tukang koar-koar! Sayalah tukang toa sejati, yang bisa menyuruh mereka membeli toa dan seluruh komponennya semua dari saya. Cuma saya katakan bahwa barang mereka jelek, mereka sudah panik. Dan karena mereka merasa bisa membeli, mereka tidak mau repot. Mereka menyerahkan semuanya kepada ahlinyaaaaaa….(MENEPUK DADANYA SENDIRI) hahaha………..

Saudara-saudara, kalau benar mereka itu orang-orang pinter, orang intelek, tidak mungkin mereka bisa dikadali mahluk rendah jebolan STM seperti saya. Bagaimana tidak, komponen toa itu hanya…maaf, memang tidak mudah menerangkannya. Ada istilah low impedance dan high impedance — yaa memang ada hal-hal kecil di dalamnya. Tapi ini yang paling mudah beginilah kira-kira ; sering orang melakukan kesalahan dengan memasang ampli low impedance ke toa yang high impedance. Jelas kekuatan ini tidak seimbang dan mengakibatkan ampli tidak mau ngangkat suara untuk bisa terdengar di toa.  Banyak hal sederhana lainnya bagi orang elektronik seperti saya, tapi yaa…memang bukan wawasan umum jadi saya maklum kalau mereka tidak tahu.

Kalau saya pas mengerjakan toa mereka yang ngadat, sengaja sering saya kerjakan dengan lama. Saya suka mendengar ocehan mereka yang sok pintar,

“Tahu nggak bung!” hehe, sok jadi orang lawasan pakai bung segala. Setahu saya di negeri ini yang bung itu Cuma bung Tomo dan bung Karno. Yang lain ya Cuma bung pring. “Tahu nggak bung, menurut perda bla bla bla bla….itu tidak benar kalau seorang gubernur sampai tidak tahu kalau hotel itu dibangun harus ada amdalnya dulu. itu naif. Tidak bisa begitu bung!”

Lalu yang lain menimpali. Tidak nyambung tidak apa-apa, yang penting kritis,

“Gini bung, pemerkosaan terjadi karena ada korban. Naaa pelaku itu tidak akan terprovokasi kalau korban berpakaian dengan benar. Lha kalau korbannya jalan-jalan siang bolong di tengah mall dengan bikini, bagaimana para lelaki nggak akan ereksi, ya tooo???” Tul nggak bung??”

“Gini ajaaalaaah! Agama itu kan rahmatan lil alamin! Tapi yang mereka lakukan, rombongan baju boros itu — kain putih tiga meteran dipakai sendiri itu, apa yang mereka lakukan? Yang mereka lakukan itu bukan rahmatan lil alamin, tapi rahmatan lil syaitonin!”

“Masyarakat kita ini belum melek medsos bung. Di negara yang sudah maju,….” — iiyaaak, negara mana. Mereka nyebut negara maju tanpa menyebut negaranya. Huu sok intelek. —- “Di negara maju, medsos itu dipergunakan utuk komunikasi. Tapi di sini, kebanyakan medsos dipakai untuk bercanda. Yang paling parah dipergunakan sebagai alat ‘lempar batu sembunyi tangan.’ Di medsos orang komentar tidak perlu bertanggungjawab. Mau ngumpat, mau nggoblog-nggoblogin orang, mau apa saja bebas!”

“Gimana kalau kita ganyang saja bung. Orangnya yang mana to?”
“Sikat saja habis perkara!”
“Daaaah bayar orang maratus ribu bisa mengantar orang langsung ke neraka!”
“Jangan bung! Itu kafir! Ahok itu kafir!”
“Turun PKI! Jahiliyah!”
“Enyaahkaaaann!!!”
“Hidup Ahmadiyah!”
“Ah ahmadiyah masih kalah sama Ahmad Dhani!”
“Masih kalah sama Ahmad Albar!!”
“Huuu jaduuulll!!”
“Eh, ini cawet siapa?”
“Kondom ini!?”
“Ya aaampuuunn!”
“Eh tahu nggak, ketua DPR ngentot sama penyanyi dangdut!”
“Haaaaaa Saiful Jamil ngemut punya oonntaaaaa?????”

MENGAMBIL SEBUAH MEGAPHONE DARI GEROBAKNYA DAN SERTA MERTA BERSUARA LEWAT ALAT ITU

Yoo ayooo, ayooo! Servis dan sewa toaaa! Toa palling keras se-asia tenggara. Buktikan, buktikan! Anda bisa membuat dunia ini meledak berkeping-keping sesuka hati Anda, bisa meneror telinga orang yang tak suka kepada Anda, Anda bisa membuat lomba ngaji atau adzan seriuh-riuhnya, tanpa perlu konsisten dengan perilaku agamis yang anda tempuh. Yoooo ayooooo!! Servis dan sewa toaaa, aaaaaaaauuuuoooooooo!!!!

Hahahaha……riuh sekali bukan? Yungalaaah betapa menggelikan mereka itu! Jadi siapa sebenarnya yang membuat riuh suasana? Siapa yang membakar emosi masa? Tidak mungkin to tukang toa jebolan STM seperti saya ikut andil kan?

Silahkan saling melempar batu di kehidupan nyata. Membakari emosi satu sama lain dan membuat riuh suasana dan tak perlu merasa terlibat dalam tanggungjawab. Mereka tidak tahu harga sebuah mulut. Kata kakek saya ‘mulutmu adalah apimu.’ Salah menyembur mulutmu bisa membakar seisi kota atau bahkan menghanguskan dirimu sendiri. Ah, tapi apa gunanya tukang toa seperti saya to. Sudahlah! Yang penting mereka masih sewa toa saya, habis perkara!

(MENYETEL KEMBALI MUSIK DANGDUT. SUARANYA MENGAUM DARI TOANYA. MENDORONG GEROBAGNYA KEMBALI KE SUATU ARAH)

Yoo ayooo, ayooo! Servis dan sewa toaaa! Toa palling keras se-asia tenggara. Buktikan, buktikan! Anda bisa membuat dunia ini meledak berkeping-keping sesuka hati Anda, bisa meneror telinga orang yang tak suka kepada Anda, Anda bisa membuat lomba ngaji atau adazn seriuh-riuhnya, tanpa perlu konsisten dengan perilaku agamis yang anda tempuh. Yoooo ayooooo!! Servis dan sewa toaaa, aaaaaaaauuuuoooooooo!!!!

BERHENTI, MENOLEH KE ARAH PENONTON, MENGECILKAN VOLUME MUSIK DANGDUTNYA

Sekarang ini, saudara, rakyat dan pejabat tidak ada yang lebih berkuasa. Semua sama. Sebab kata mereka-mereka ; hukum tidak ada. Saya siih Cuma tukang toa. Tahu juga karena para pelanggan saya. Tetapi jangan salah, saya juga punya kuasa. Kuasa untuk menentukan seberapa besar volume suara yang harus kelur dari toa, bisa menentukan seberapa keeras suara yang dibutuhkan. Hehehehe……meski saya tukang toa, tapi saya punya kuasa.

MENGERASKAN KEMBALI VOLUME SUARA MUSIK DANGDUT, MENDORONG GEROBAGNYA BERLALU. LAMPU PADAM

Omahkebon, 12 Juni 2016

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.