Eduteater

Teater Antara Istilah dan Pengalaman (1)

Oleh: Eko Santosa

Proses belajar berteater antara orang satu dengan yang lainnya bisa dipastikan berbeda. Ada yang belajar sendiri dengan menyaksikan latihan dan pementasan teater yang ada di sekitar tempat di mana orang tersebut tinggal. Ada pula yang belajar secara akademik (sekolah khusus teater). Ada juga yang belajar di sanggar dengan menjadi cantrik salah satu seniman atau grup teater. Keberbagaian proses belajar ini mengguratkan pengalaman yang berbeda-beda. Termasuk di dalamnya istilah yang berkembang dalam lingkup pembelajaran. Istilah-istilah ini ada atau sengaja dimunculkan untuk memberi kemudahan dalam proses belajar mengajar. Ada istilah yang memang diacu secara referensial, ada yang dimaknai secara salah-kaprah namun memudahkan, dan ada pula yang memang dilahirkan dan berlaku khusus di lingkungan tertentu. Berikut beberapa istilah dan pengalaman-pengalaman yang dapat ditemui dalam proses pembelajaran teater.

  1. Melodius dan suara bulat

Satu adegan dalam sebuah latihan berjalan dengan lancar. Para pemeran telah berupaya untuk mengekspresikan dialog-dialog tersebut dengan baik tanpa ada yang terlewatkan. Blocking yang telah ditetapkan pun juga dilakoni seperti apa desainnya. Namun begitu latihan adegan selesai, sutradara mengatakan, “Adegan tadi kurang hidup, karena dialog meluncur begitu saja”, begitu katanya. “Apa yang membuat kurang hidup karena dialog yang diucapkan sama sekali tidak melodius, semua terkesan datar”, begitu tambahnya. Para pemeran yang oleh sutradara disebut aktor ini saling toleh. Ada yang menyadari kesalahan (kurang melodius), namun ada yang tidak begitu paham yang dimaksud dengan melodius itu.

Melodius secara harfiah dapat diartikan sebagai sesuatu yang enak didengar karena berirama (KBBI V 0.2.1). Konsepsi dialog berirama ini diadopsi dari puisi. Irama merupakan alunan yang terjadi karena pengulangan dan pergantian kesatuan bunyi dalam arus panjang pendek bunyi, keras lembut tekanan, dan tinggi rendah nada (KBBI V 0.2.1). Dari penjelasan singkat ini maka dimungkinkan bahwa maksud sutradara adalah agar para pemeran berdialog dengan memperhatikan kaidah pembacaan puisi.

Penggunaan melodius seringkali menyiratkan adanya lagu. Dalam proses latihan tesebut jika arahan sutradara tidak dipahami dengan baik, pemeran akan mengangap bahwa dialog yang ia lakukan kurang puitis. Tentu saja bukan seperti itu karena dialog keseharian manusia juga tidak harus puitis. Bahkan jika kita berbicara puitis dalam keseharian malah akan ditertawakan.  Apalagi misalnya, dalam dialog tersebut memang tidak menggunakan kalimat puitis dan peristiwa yang disajikan pun berdasar pada kenyataan. Oleh sebab itu, pokok persoalan yang mesti diperhatikan terkait dengan istilah “melodius” adalah dinamika pengucapan kalimat yang memperhatikan penekanan, bunyi dan nada. Namun dalam pengalaman, “melodius” memang dimaksudkan seperti halnya pembacaan puisi di dalam lakon-lakon presentasional. Hal ini wajar adanya karena lakon presentasional yang cenderung istana sentris banyak menggunakan kalimat bersajak dalam dialog-dialognya. Jadi perlu pencermatan dari pemeran dan mungkin sutradara juga bahwa, “melodius” bisa saja dikaitkan langsung dengan gaya wicara seperti membaca puisi (sajak) atau hanya kaidah tekanan, bunyi, dan nada saja yang diserap ke dalam pengucapan. Semua sangat bergantung pada gaya lakon atau konsep pementasan yang akan disajikan.

Masih terkait dengan pengucapan dialog, sering pula dijumpai seorang sutradara yang memberikan pengarahan pada pemeran untuk bersuara bulat. Maksud dari suara bulat ini adalah suara yang tidak pecah, lirih, dan sember atau cempreng. Hal ini sebenarnya masih terkait dengan “melodius” dalam konteks keterhubungannya dengan puisi atau pengucapan dialog puitis. Suara bulat atau suara yang utuh dan cenderung berat memang merupakan satu keharusan dalam dialog puitis pada teater presentasional karena untuk mencapai kejelasan pengucapan rangkaian kalimat bersajak. Sajak sangat memperhatikan keselarasan bunyi bahasa baik berupa kesepadanan, kekontrasan, maupun kesamaan. Dengan demikian, “suara bulat” mesti dimiliki pemeran karena sensitifitas bunyi dalam kalimat dialog mempengaruhi makna atau bahkan mungkin estetika. Tentu saja penggunaan “suara bulat” dengan maksud seperti tersebut tidak serta merta dapat diterapkan dalam semua gaya teater.

Secara mendasar syarat utama sebuah dialog di dalam pementasan teater adalah terdengar dengan jelas atau tertangkap maksudnya. Dalam konteks kejelasan dialog ini, pemeran tidak perlu mengubah tonasi dasar suaranya karena yang terpenting adalah jelas. Apalagi ketika yang dipentaskan adalah drama realis di mana acuannya adalah kenyataan, bersuara bulat justru akan terkesan dibuat-buat sehingga tidak natural. Pun di dalam gaya teater lain yang memerlukan efek suara pemeran scara khusus untuk menyampaikan maksud tertentu, suara bulat jelas bukan merupakan prasyarat.

Kesalahan pemahaman penggunaan istilah, “melodius” dan “suara bulat”, dalam pelatihan bisa saja terjadi baik dari sisi sutradara maupun pemeran. Sutradara yang berasal dari kultur teater presentasional terbiasa dengan istilah ini sehingga ketika digunakan dalam teater non-presentasional tentu maksudnya tidak harus “puitis”. Pemeran yang juga berasal dari kultur presentasional akan langsung mengartikan maksud “melodius” dan “suara bulat” dalam konteks “puitis”. Sementara itu pemeran berkultur non-presentasional yang kurang terbiasa dengan kedua istilah tersebut pasti akan mempertanyakan maknanya. Oleh karena itu, kesepahaman perlu dicapai antara sutradara dan pemeran sehingga tidak menimbulkan kekeliruan, kelucuan atau bahkan olok-olok.

==== bersambung ====

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.