Eduteater

Teater Antara Istilah dan Pengalaman (11)

Oleh: Eko Santosa

11. Drama atau klasik

Drama seringkali dipersamakan dengan teater, meskipun asal kata dan sejarah perkembangan lanjutannya masing-masing memiliki arah tersendiri. Hal ini sangat wajar menilik asal kata drama yang sejatinya memaknakan aksi atau laku. Artinya, sebagai karya sastra, drama belum bisa disebut drama sebelum dilakukan. Oleh karena itu pula naskah drama sering disebut naskah lakon (lakonan) atau naskah yang untuk dilakukan. Ekspresi teater yang ada di panggung-panggung pertunjukan umumnya berbasis teks yang disebut sebagai karya drama. Bahkan teks drama yang dipentaskan pun seringkali masih disebut sebagai drama. Kita tidak asing dengan kalimat ajakan, “Yo, nanti malam kita nonton drama!”.

baca juga : Teater Antara Istilah dan Pengalaman (10)

Kata “drama” memang sangat membekas dalam memori orang kebanyakan. Keberadaannya tidak seasing “teater”. Selain dikenal karena pertunjukan, drama juga juga dikenali di sekolah-sekolah dalam pelajaran Bahasa Indonesia di dalam bahasan karya sastra. Arti kata “drama” sebagai cerita atau kisah, terutama yang melibatkan konflik atau emosi, yang khusus disusun untuk pertunjukan teater tertuang di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia online (kbbi.web.id). Selain itu, sebagai karya sastra, drama memang sangat khas terutama mengait format penulisannya yang sangat berbeda dengan novel atau puisi. Kekhasan drama ini, di sekolah, juga didukung dengan praktik atau pengekspresiannya di depan kelas atau dalam panggung sekolah. Selain sebagai karya sastra, drama juga dikenal sebagai salah satu tipe lakon (lakon sendiri seringkali terlanjur disebut drama). Tipe lakon yang lain adalah tragedi, komedi, satir, dan melodrama. Sebagai tipe lakon, drama merupakan cerita penuh liku yang melibatkan emosi dan umumnya diakhiri dengan kemenangan, kebahagiaan atau ketercapaian tujuan tokoh utama. Cerita penuh liku yang diakhiri dengan kemenangan tokoh utama inilah yang menjadikan sajian drama menarik perhatian penonton.

Penggunaan kata “drama” untuk menyebut pertunjukan, naskah, atau cara penyajian lakon di atas pentas sudah sangat umum. Sebangun dengan hal tersebut, kata “klasik” juga banyak digunakan secara umum. “Klasik” umumnya dihubungkan dengan sesuatu (gaya, benda, karya) yang antik (kuno) dan bernilai. Umumnya kata “klasik” selalu mengait dengan kata “kelas” sehingga hal-hal yang berkelas (memiliki nilai tersendiri) disebut klasik. Oleh karena itulah dalam seni, karya yang disebut klasik adalah karya berkelas atau memang karya yang diperuntukkan bagi kelas tertentu seperti kaum bangsawan. Klasik dengan demikian menyangkut juga kelas di dalam masyarakat. Karya pertunjukan yang digolongkan ke dalam klasik memang dibuat untuk, oleh, dan bagi kelas tertentu atau karya yang sumber ceritanya dari zaman kerajaan (masyarakat berkelas). Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia online (kbbi.web.id) diterangkan bahwa arti kata “klasik” adalah; 1) mempunyai nilai atau mutu yang diakui dan menjadi tolok ukur kesempurnaan yang abadi; tertinggi; 2) karya sastra yang bernilai tinggi serta langgeng dan sering dijadikan tolok ukur atau karya susastra zaman kuno yang bernilai kekal; 3) bersifat seperti seni klasik, yaitu sederhana, serasi, dan tidak berlebihan; 4) termasyhur karena bersejarah: 5) tradisional dan indah (tentang potongan pakaian, kesenian, dan sebagainya).

Pemahaman mengenai “drama” dan “klasik” rupanya tidak bisa diseragamkan. Ada faktor atau hal tertentu yang menjadi fokus dalam penggunaan kata “drama” atau “klasik”. Di Jawa Timur, dalam khasanah seni Ludruk, penggunaan “drama” dan “klasik” kerap dilakukan pada saat latihan atau bahkan di tengah-tengah pertunjukan. Kedua istilah ini lebih memang difokuskan pada seni peran atau pengadeganan dalam penyutradaraan. Ada satu situasi dan kondisi di dalam peristiwa yang berkaitan langsung dengan istilah “drama” dan “klasik”. Situasi kondisi tersebut adalah ketika pemeran diminta oleh sutradara untuk mengekspresikan kesedihan atau tangisan. Ketika sutradara menyatakan, “Nanti setelah ini kamu langsung drama”, maka pemeran sudah sangat paham bahwa ia harus mengekspresikan kesedihan atau bahkan menangis. Atau seorang sutradara dari mengarahkan secara langsung dengan mengatakan, “Klasik”, maka pemeran langsung melakonkan ekspresi sedih.

Satu hal yang unik dan sangat menarik mengingat penggunaan kata “drama” dan “klasik” ini disangkutkan langsung dengan emosi atau ekspresi peran. Mungkin di jagad teater akademik hal ini terkesan lucu namun keberfungsian penggunaan “drama” dan “klasik” sebagai arahan ekpresi di dalam seni Ludruk tidak bisa diragukan lagi. Istilah dalam bidang apapun mesti mengalami perkembangan dan bahkan “teater” yang semua diartikan sebagai gedung pertunjukan berkembang artinya menjadi pertunjukan itu sendiri. Arahan sutradara Ludruk dengan kata “drama” atau “klasik” ini tentunya sudah melalui pertimbangan banyak hal terutama efektivitas dan kesederhanaan pemahaman pemeran. Bahkan, kemujaraban penggunaan dua istilah ini telah diakui sedemikian rupa oleh para pelaku seni Ludruk. Jadi tidak akan mengherankan ketika pemeran tertawa-tawa lalu tiba-tiba langsung  berubah (kontras) sedih dan menangis ketika terdengar teriakan, “Drama!” atau “Klasik!”.

=== bersambung ===

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.