Eduteater

Teater Antara Istilah dan Pengalaman (12)

Oleh: Eko Santosa

12. Spektakel dan spektakuler

Beberapa pemeran berkumpul di pinggir panggung ketika latihan selesai. Mereka membicarakan latihan terusan lengkap dengan tata artistik yang telah dilakukan. Hampir semua merasa bahwa mereka telah melakukan sesuai dengan apa yang dikehendaki sutradara. Namun rupanya sutradara masih merasa ada yang kurang.

Pemain saling memandang ketika sutradara mendatangi mereka dengan menunjukkan ekspresi kurang menyenangkan. Di hadapan para pemain sutradara langsung membuka suara. “Apa yang saya lihat memang sudah baik, namun kalian kurang bisa menjaga adegan-adegan yang mestinya bisa menjadi spektakel!”, katanya. Semua pemain kembali saling berpandangan. “Pertunjukan ini mestinya berjalan baik ketika kita mampu memunculkan sesuatu yang spektakel, dan ini belum terlihat”, lanjutnya. “Jadi, tidak bisa tidak, spektakel itu harus dihadirkan dalam pertunjukan ini jika mau berhasil!”, lanjutnya lagi dengan penekanan. Semua pemain kembali saling berpandangan. Para pemain terlihat bingung memahami apa yang dimaksudkan sutradara dengan kata, “spektakel” yang diucapkan sutradara. Secara garis besar mereka mengerti substansi pembicaraan sutradar bahwasanya pertujukan kurang menarik sehingga terasa hambar. Namun sekali lagi, kata “spektakel” itulah yang membuat para pemain bingung.

Baca juga : Teater Antara Istilah dan Pengalaman (11)

“Spektakel” di dalam bahasan drama masuk ke dalam katagori tekstur bersama dengan dialog dan mood. Spektakel dalam artian tekstur ini merujuk pada aspek-aspek visual sebuah lakon, terutama aksi fisik tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Lebih lanjut, spektakel juga mengacu kepada pembabakan, kostum, tata rias, perlampuan, dan perlengkapan. Artinya, segala hal yang terlihat secara fisik di atas pentas dapat dikatakan sebagai spektakel. Oleh karena itu menjadi hal yang wajib bagi sutradara agar spektakel ini terwujud secara menarik.

Di dalam artinya yang lain, “spektakel” merupakan tontonan atau pertunjukan besar. Ditilik dari pemaknaan spektel dari sisi tekstur lakon maupun arti dasarnya, maka kebingungan pemain atas ucapan sutradara dapat dipahami. Satu sisi ia menandakan pertunjukan itu sendiri dan di sisi lain ia juga merupakan tata artistik. Jadi, kalimat, “…spektakel itu harus dihadirkan dalam pertunjukan ini jika mau berhasil”, memang benar-benar membingungkan jadinya. Spektakel sendiri adalah pertunjukan, yang tentu saja tidak perlu dihadirkan dalam pertunjukan. Aneh. Pun demikian ketika spektakel diartikan sebagai rias busana, tata cahaya, dan tata panggung yang secara otomatis sudah hadir di dalam pertunjukan.

Jika dimaknai sebagai pertunjukan, spektakel adalah pertunjukan itu sendiri. Agar berhasil, maka spektakel harus menarik minat, perhatian atau mesti mencolok. Jika dimaknai sebagai elemen artistik, maka spektakel dalam pertunjukan harus tampil indah dalam konteks sesuai lakon yang dimainkan agar menarik perhatian penonton. Nah, pertunjukan yang sangat menarik perhatian baik dari segi tekstur maupun laku ceritanya dapat dikatakan sebagai pertunjukan spektakuler. Kemungkinan besar maksud dari sutradara di atas adalah spektakuler atau hal-hal yang menghasilkan kemenarikan dalam pertunjukan. Jika ini (spektakuler) yang digunakan, tentu pemeran tidak akan merasakan kebingungan. Dengan mudah mereka bisa memahami bahwa apa yang telah mereka kerjakan dalam latihan kurang menyedot perhatian.

Soal penggunaan istilah semacam ini, terkesan tidak menimbulkan masalah dan semuanya dianggap saling tahu. Namun kenyataannya tidak semua orang tahu apa yang dimaksudkan. Sementara kesalingtidaktahuan antara sutradara dan pemain akan menimbulkan salah persepsi yang akibatnya adalah tidak dipahaminya dengan baik arahan sutradara kepada pemain. Kata “spektakel”, dalam arahan sutradar di atas mungkin tidak dimaksudkan untuk keliru karena memang niatnya adalah mengatakan, “spektakuler”. Namun karena sesuatu dan lain hal, sutradara mengarahkan pemain dengan menggunakan istilah, “spektakel” alih-alih “spektakuler”. Untuk menghindari hal-hal semacam ini memang lebih baik digunakan istilah yang mana antara sutradara, pemain, dan tim atistik saling memahami. Dengan saling paham, maka komunikasi artistik akan berjalan dialogis bahkan dialektis. Kesalingpahaman ini merupakan salah satu faktor yang bisa mengantarkan spektakel menjadi spektakuler.

==== bersambung ====

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.