Eduteater

Teater Antara Istilah Dan Pengalaman (13)

Oleh: Eko Santosa

13. Suspen

Sebuah kelas teater dimulai. Semua siswa duduk dengan rapi mendengarkan pembicara tamu yang memang dihadirkan khusus untuk bagi pengalaman. Sang tamu rupanya adalah penonton pertunjukan teater yang sudah cukup senior. Banyak produksi yang telah ia tonton. Dengan tenang ia memberikan komentar atas pertunjukan yang telah dilaksanakan malam sebelumnya yang menjadi kajian kelas hari itu. Ia mengatakan bahwa teater yang dipentaskan semalam kurang mampu membina suspen sehingga penonton kurang tertarik. Cerita berjalan dengan baik sesuai naskahnya tetapi suspen tidak bisa dihadirkan. Semua siswa saling berpandangan dan mengira-ira apa yang dimaksudkan dengan suspen. Bagi mereka, teater yang menyajikan cerita dengan baik itu sudah cukup menarik.

baca juga : Teater Antara Istilah Dan Pengalaman (12)

Suspen, secara sederhana dapat dijelaskan sebagai satu kondisi atau peristiwa di mana tokoh berada dalam ketidakpastian akan apa yang terjadi berikutnya. Ketidakpastian ini berkaitan dengan mentalitas tokoh yang seolah-olah sedang menunggu sebuah keputusan penting disertai ketakutan atau kecemasan. Kondisi ini jika diperankan dengan baik akan membuat penonon merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh tersebut. Oleh karenanya, penonton akan tak sabar menunggu kejadian lanjutannya. Nah, menurut pembicara tamu di kelas teater itulah keadaan ini yang kurang bisa dihadirkan dalam pertunjukan. Cerita tampil begitu saja sehingga penonton tidak memiliki perasaan untuk menduga atau menunggu-nunggu peristiwa lanjutan apa yang akan terjadi.

Para siswa mulai paham apa yang dimaksud suspen tapi masih tersisa pertanyaan di kepala mereka. Sesungguhnya suspen itu dihadirkan di dalam lakon (naskah) atau melalui aksi pemeran? Sebab jika tidak ada suspen di dalam lakon, bagaimana pemeran bisa menghadirkan itu? Pertanyaan semacam ini memang perlu dipertanyakan karena elemen-elemen drama seperti suspen belum tentu ada dalam semua naskah teater. Di dalam novel misalnya, narasi sangat dapat diandalkan untuk menggambarkan kondisi ketidakpastian yang berkaitan dengan mental ini. Karena di dalam naskah teater tidak ada narasi, maka situasi  dan kondisi peristiwa hanya dihadirkan melalui dialog tokoh didukung oleh elemen tata artstik semacam ilustrasi musik dan tata cahaya.

Kehadiran suspen memang menimbulkan efek dramatis. Jika memang lakon teater tidak mengusung dramatika dalam sajiannya, maka suspen pun bisa jadi tidak ada. Pertanyaan lanjutan untuk hal ini kemudian adalah, adalah lakon teater yang tidak menghadirkan suspen di dalamnya? Jawabannya tentu saja ada karena tidak semua lakon memiliki kualitas drama yang baik. Efek dramatik dalam suspen bisa berupa keadaan yang tidak terduga namun melegakan ataupun surprise, sebuah keadaan yang mengejutkan dan menambah ketegangan. Nah lakon teater seringkali hadir mengandalkan keterkejutan atau sisi menarik lain selain suspen. Kondisi demikian memang menghasilkan kepelikan pikiran antara suspen, surprise dan tensi (ketegangan) yang semuanya diperlukan untuk menarik minat penonton.

Drama sendiri sebagai tipe lakon memang mensyaratkan adanya suspen karena secara definisi memang kata kunci drama ada pada suspen. Sebuah cerita yang melahirkan lika-liku atau dinamika yang tidak diakhiri dengan kemalangan atau kematian tokoh utama sebagai definisi drama telah memuat suspen di dalamnya. Lika-liku atau dinamika inilah yang dapat disebuat sebagai wadah lahirnya suspen. Namun demikian, pengertian drama tak lagi berkutat pada definisi klasik seperti tersebut. Pengertian drama sampai hari ini juga berkembang atau malah terkadang disederhanakan untuk kepentingan tertentu. Di dalam kelas teater awal misalnya, semua cerita yang disajikan tanpa diakhiri kemalangan tokoh utama disebut drama, meskipun tanpa lika-liku atau dinamika. Juga di dalam lakon-lakon pendek untuk kepentingan pembelajaran bermediakan drama, seringkali dinamika lakon tidak begitu diperhatikan karena fokus utamanya ada pada tema yang sesuai dengan topik pembelajaran. Oleh karena itulah, pembahasan mengenai suspen dalam sebuah pertunjukan (kelas atau produksi) sangat tergantung dari naskah yang dimainkan. Di samping itu perlu juga dilihat kepentingan atau tujuan dari pementasan tersebut. Jadi, suspen dalam pementasan teater tak lagi niscaya.

==== bersambung ====

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.