Teater Antara Istilah dan Pengalaman (14)

Oleh: Eko Santosa

14. Karakter

Seorang sutradara memberikan pengarahan kepada pemainnya ketika latihan usai. “Peran yang kamu bawakan kelihatan kurang berkarakter sehingga aksinya selalu terkesan datr”, demikian katanya. Kepada pemain yang lain ia berujar, “Kamu dalam lakon ini membawakan karakter seorang pedagang, tetapi hal itu belum terlihat dengan jelas dalam aksi tanpa dialog”. Dalam hal ini sutradara mengucapkan kata “karakter” dengan maksud yang berbeda. Pertama jelas sekali berkaitan dengan watak, sementara yang kedua berkaitan dengan peran. Jika seorang pemain tidak cermat dalam mendengarkan pasti akan mengalami kebingungan. Istilah “karakter” memang bisa bermakna sebagai peran namun dalam saat yang lain bermakna sebagai watak atau sifat dari peran tersebut.

baca juga : Teater Antara Istilah dan Pengalaman (13)

Karakter yang berasal dari bahasa Yunani “kharakter” memilki arti “alat untuk membuat cap”. Pada masa itu cap sangat penting artinya bagi sebuah kerajaan atau bangsawan. Setiap raja dan bangsawan memiliki cap atau karakternya sendiri sebaga tanda personal. Di dalam sejarah perkembangannya, karakter yang memaknakan sebagai simbol atau cap atau huruf (letter) menduduki peringkat ketiga dalam urutan makna. Pertama, karakter dimaknai sebabai kualitas atau kondisi mental dan moral seseorang yang membedakan dengan orang lain. Kedua, karakter dimaknai sebagi tokoh dalam novel, film atau lakon. Pada makna pertama, karakter sama dengan watak atau perwatakan. Pada makna kedua, karakter sebgai peran atau tokoh dalam cerita. Teater dalam praktinya menggunakan makna pertama dan kedua tersebut.

Dalam hal ini pemain harus bisa membedakan karakter sebagai peran atau tokoh dan karakter sebagai watak dari peran atau tokoh. Pemaknaan ini umumnnya berkaitan dengan fungsi atau penggunaan. Ketika sutradara membicarakan karakter dalam konteks naskah lakon, maka ia memaknai karakter sebagai peran atau tokoh. Ketika sutradara membicarakan karakter dalam konteks laku aksi tokoh di atas pentas atau dalam latihan, maka ia memaknai karakter sebagai watak. Untuk memudahkan pemaknaan sebenarnya lebih mudah dengan menggunakan “tokoh” atau “peran” dengan “watak” atau “sifat”.

Namun demikian dalam konteks kajian tokoh lakon, penggunaan “karakter” tidak bisa dilewatkan. Secara umum, telaah tokoh dibagi ke dalam dua aspek kajian yaitu motivasi dan dimensi. Peristilahan yang digunakan untuk kajian ini adalah motivasi karakter dan dimensi karakter. Motivasi karakter menyangkut niat atau pikiran tokoh dalam posisinya dengan moral lakon. Jika ia mendukung moral lakon, maka disebut sebagai protagonis. Sebaliknya, jika ia menolak moral lakon disebut sebagai antagonis. Pemilahan protagonis dan antagonis ini sama sekali tidak mengait watak atau sifat tokoh tersebut. Namun, banyak orang langsung memberikan alamat bahwa protagonis dan antagonis juga merupakan karakter atau watak tokoh. Hal ini terjadi karena kultur drama yang hitam-putih di mana tokoh berwatak baik disebut sebagai protagonis dan tokoh berwatak jaha disebut sebaga antagonis. Meskipun banyak lakon modern yang tak lagi bergantung dari pemaknaan baik-jahat, namun pemberian alamat protagonis dan antagonis tak bisa dihindarkan.

Sementara itu dalam kajian dimensi karakter yang umumnya terdiri dari dimensi fisik, sosial, dan kejiwaan, watak atau “karakter” tokoh merupakan salah satu dimensi saja. Artinya, watak tokoh apakah itu jahat, emosional, suka mencibir, pengadu, dan lain sebagainya hanya dikaji dalam dimensi kejiwaan. Pada dua dimensi lain, tokoh tidak dikaji wataknya melainkan ciri-ciri fisik (penampilan wadag) dan ciri sosial kemasyarakatannya. Dengan demikian, dalam kajian dimensi karakter, watak merupakan bagian dari karakter, dan karakter di sini dimaknai sebagai tokoh. Berbeda dengan motivasi yang menempatkan tokoh dalam kaitannya dengan moral cerita. Mengikuti pola pikir kajian karakter ini, maka tokoh sejajar dengan karakter dan tidak dengan watak.

Karakter dalam konteks lakon memang menyiratkan makna sebagai tokoh. Karena itulah kajiannya bisa mendalam hingga sampai ke perwatakannya. Namun dalam konteks pemeranan, ketika tokoh tersebut ditampilkan di atas pentas, karakter dapat dimaknai sebagai dimensi kejiwaan tokoh. Dimensi ini begitu penting karena dalam dimensi inilah tokoh seolah tampil benar-benar hidup, seolah-olah nyata. Jadi dari sinilah pandangan umum itu berakar, di dalam dimensi kejiwaan inilah pemaknaan “karakter” disandarkan dan menutupi dimensi lainnya.

=== bersambung ===

#WhaniDProject adalah lembaga pelatihan pengembangan diri dan korporasi yg mengambil titik pijak pada psikologi dan keilmuan seni peran dalam teater (psycho theatre). Dua bidang yg ditangani adalah Theatre for Profesional (menangani pelatihan untuk para profesional di bidang masing-masing : komunikasi, public speaking, dll) dan Theatre for Art ( pelatihan calon aktor dan pendalaman materi estetika teater untuk kepentingan sosial kemasyarakatan ). Berdiri 2013, di Yogyakarta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top
%d bloggers like this: