Teater Antara Istilah Dan Pengalaman (15)

Oleh: Eko Santosa

14. Karisma

Sesaat setelah pertunjukan teater usai, beberapa calon aktor muda berkumpul di depan gedung pertunjukan. Mereka membicarakan segala hal mengenai pertunjukan teater yang baru saja disaksikan. Sebagian besar melihat pertunjukan dari kacamata pemeran. Ada yang berpendapat bahwa beberapa pemeran tampil baik dan beberapa sekedar memainkan peran. Obrolan khas para calon aktor selalu membincangkan soal akting. Sampai saat di mana mereka berbicara tentang seorang pemeran yang menjadi idola, gairah langsung membuncah. Mereka saling menimpali satu sama lain tentang betapa hebatnya akting sang idola dalam setiap adegan lakon yang dimainkan. Bagi mereka, aktor ini memiliki karisma tiada banding. Bahkan, ketika ia sekedar muncul di panggung dalam kondisi silent act pun tetap memukau. Ya, karisma adalah simpulan mereka terhadap penampilan sang aktor idola.

baca juga : Teater Antara Istilah Dan Pengalaman (14)

Karisma, sudah lama dikenal di jagad pertunjukan sebagai satu pesona yang dimiliki seorang aktor panggung. Semua aktor hebat selalu dianggap memiliki karisma. Oleh karena itulah setiap calon aktor merasa perlu memiliki karisma ini. Namun, apakah sejatinya karisma itu dan bagaimana cara memerolehnya? Jawaban atas pertanyaan ini seringkali melahirkan laku tertentu dalam proses pemeranan. Laku atau proses ini biasanya berkaitan dengan penguatan sisi psikologi pemeran. Proses semacam ini, terkadang justru mengabaikan proses lainnya seperti latihan suara, tubuh, dan penguatan literasi. Sisi psikologi atau seringkali disebut sebagai aspek batiniah pemeran di mana karisma bermuasal itu menjadi lebih penting dari seluruh proses yang mesti dilalui pemeran. Dipandang dari sisi teater akademik, proses ini terkesan short cut atau mencari jalan pintas agar dapat dianggap bisa bermain peran dengan baik. Meski begitu, banyak tokoh teater modern, generasi pendahulu, yang menyatakan bahwa proses latihan penguatan batin inilah yang membuat mereka menjadi aktor berkarisma.

Secara harfiah karisma dapat diartikan sebagai; 1) keadaan atau bakat yang dihubungkan dengan kemampuan yang luar biasa dalam hal kepemimpinan seseorang untuk membangkitkan pemujaan pada rasa kagum dari masyarakat terhadap dirinya, dan 2) atribut kepemimpinan yang didasarkan atas kualitas kepribadian individu (KBBI V). Agaknya, karisma yang diperbincangkan para calon aktor selepas menyaksikan pertunjukan teater adalah sesuatu perbuatan yang melahirkan rasa kagum. Mereka kagum pada penampilan aktor idola karena kualitas kepribadiannya. Frasa “kualitas kepribadian” seringkali bersandar pada penampilan luar seseorang (gaya) yang menandakan sifat tertentu. Artinya ia tidak menukik pada sifat hakiki seseorang tersebut.

Di dalam teater, terutama gaya klasik, kualitas kepribadian ini menempel erat pada tokoh yang dimainkan. Artinya, ciri-ciri fisik tokoh yang diperankan mengambil porsi lumayan besar karena memang ukuran-ukuran fisik itu telah tertentukan. Misalnya, seorang aktor yang memerankan Werkudara, disyaratkan harus seorang yang bertubuh tinggi besar dengan warna suara yang berat. Tanpa terpenuhinya syarat fisik tersebut, maka tokoh Werkudara dengan sendirinya gagal dipresentasikan karena kualitas kepribadian Werkudara tidak bisa dimunculkan. Karena itu pula di dalam teater klasik, peran selalu bersifat stereotype. Atas kondisi ini, seorang yang telah berpengalaman puluhan tahun sebagai seorang Raja dianggap memiliki karisma seorang Raja. Sehingga ketika ia berperan dalam diam pun, anggapan Raja ini tetap melekat. Aktor karismatik semacam ini memang menjadi pujaan penonton dalam panggung-panggung teater klasik. Penampilannya selalu ditunggu.

Teater klasik atau presentasional selalu akan melahirkan ekspresi penuh pesona karena memang aktingnya digayakan. Kekaguman penonton memang menjadi tujuan utama atas keindahan penampilan aktor di atas panggung. Pesona ekspresi yang dilakukan dalam kurun waktu lama inilah yang melahirkan karisma. Lalu, apakah hal ini bisa diusung ke dalam berbagai gaya teater? Tentu saja bisa namun pemaknaan frasa “kualitas kepribadian” sebagai syarat utama karisma ini mesti digeser ke dalam kualitas pribadi aktor dan bukan kualitas kepribadian yang melekat pada tokoh yang diperankan. Di dalam teater klasik, ukuran-ukuran kualitas tokoh telah tertentukan sementara di dalam gaya teater lainnya, aktorlah yang menciptakan kualitas tokoh tersebut. Di sinilah letak perbedaannya.

Ketika aktor yang mesti menciptakan atau menghidupkan tokoh melalui ukuran-ukuran yang dibuatnya sendiri (interpretasi), maka beban kualitas juga ada padanya. Artinya, aktor tidak bisa meminta bantuan siapapun selain dirinya sendiri untuk menghadirkan kualitas kepribadian tokoh. Masyarakat penonton tidak memiliki ukuran karismatik atas tokoh yang diperankan aktor karena tokoh tersebut memang tidak hidup di dalam kultur masyarakat. Berbeda tentunya dengan tokoh-tokoh dalam epos Mahabarata, Ramayana atau kisah sejarah Kerajaan yang ada. Dari sisi ini, kualitas pribadi aktor memang benar-benar dipertaruhkan. Untuk menghidupkan tokoh khayalan menjadi seolah nyata memerlukan proses latihan yang tidak sebentar. Proses latihan yang dijalani mesti menyeluruh mulai dari aspek tubuh, suara, mental hingga pikiran (intelektualitas). Ketika pada akhirnya aktor tersebut dapat memerankan tokoh dengan baik dan mendapat sambutan baik dan hal itu dilakukan dalam setiap tampilannya, maka karisma kemungkinan besar akan didapatkan. Karisma bukan karena tokoh yang diperankan, melainkan karisma dirinya sendiri sebagai aktor berdedikasi.

==== bersambung ====

#WhaniDProject adalah lembaga pelatihan pengembangan diri dan korporasi yg mengambil titik pijak pada psikologi dan keilmuan seni peran dalam teater (psycho theatre). Dua bidang yg ditangani adalah Theatre for Profesional (menangani pelatihan untuk para profesional di bidang masing-masing : komunikasi, public speaking, dll) dan Theatre for Art ( pelatihan calon aktor dan pendalaman materi estetika teater untuk kepentingan sosial kemasyarakatan ). Berdiri 2013, di Yogyakarta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top
%d bloggers like this: