Teater Antara Istilah Dan Pengalaman (16)

Oleh: Eko Santosa

15. Elementer

Istilah elementer di dalam pertunjukan teater umumnya digunakan untuk mengevaluasi pemeran. Istilah ini digunakan dalam lingkungan teater akademik atau teater kampus dan terkesan lebih elegan didengar dari pada sinonimnya yaitu unsur-unsur dasar. Memang padanan dari elemen adalah unsur namun mengaitkan sesuatu dengan hal-hal dasar lebih cocok menggunakan istilah elementer. Evaluasi pemeran terkait dengan istilah elementer ini menyangkut pada kebutuhan dasar pemeran yang belum bisa dipenuhi ketika berperan. Ucapan seperti, “Ia yang bermain sebagai Adipati itu bagus sebenarnya, sayang hal-hal elementer masih terkesan belum selesai”, seringkali terdengar setelah pertunjukan teater usai. Bisa juga pada saat latihan sutradara mengatakan, “Untuk menjadi pemeran yang baik hal-hal elementer itu harus kamu kuasai! Jadi kamu mesti banyak berlatih”. Di dalam teater akademik, para pemeran atau orang yang mendengar istilah ini langsung paham bahwa hal-hal elementer adalah keteknikan dasar atau penguasan dasar-dasar pemeranan.

baca juga : Teater Antara Istilah Dan Pengalaman (15)

Elemen pemeranan yang disebut sebagai dasar tersebut adalah tubuh, suara, pikiran, dan perasaan pemeran. Ketika memainkan peran, pemeran menggunakan seluruh elemen ini. Baik tidaknya ekspresi yang ia lakukan bergantung dari bagaimana ia mengelola elemen ini. Oleh karena itulah ketika dikatakan bahwa pemeran tersebut dikatakan masih berkutat dengan hal-hal elementer atau kualitas aktingnya sendiri disebut sebagai elementer, maka dapat diartikan bahwa pemeran tersebut belum bisa mengelola tubuh, suara, pikiran, dan perasaannya ketika berperan. Terlalu terpaku atau menaruh perhatian pada tubuh, suara, pikiran, dan perasaan ketika bermain peran dapat pula dikatakan sebagai akting elementer. Sungguh istilah yang mudah untuk diucapkan namun cukup sulit untuk dijabarkan.

Persoalan modal dasar pemeran berupa tubuh, suara, pikiran dan perasaan memang tidak mudah untuk disikapi dalam berperan. Bahkan aktor profesional pun terkadang memiliki kendala salah satu dari elemen tersebut ketika memainkan peran. Oleh karena itu banyak pelatih diperlukan dalam teater terutama pelatih khusus misalnya pelatih gerak, aksen, atau pelatih konsentrasi. Latihan-latihan khusus untuk memperbaiki kekurangan yang dimiliki terkait elemen pemeranan dan kebutuhan peran mesti harus dilakukan untuk mencapai kualitas akting prima. Namun berbeda dengan pemeran amatir yang mana kesempatan atau biaya untuk pelatih khusus tersebut tidak dipunyai. Alhasil ia harus berdamai dengan dirinya sendiri untuk mau berlatih secara mandiri.

Kurangnya porsi latihan, metode penyutradaraan, dan konsep pemeranan banyak mempegaruhi kualitas pemeran terkait dengan pengelolaan hal-hal elementer ini. Secara umum, pemeran dikatakan berakting elementer karena hanya sekedar menghafal dialog dan tidak mengucapkannya dengan ekspresi yang tepat atau ia berperan seolah-olah hanya sebagai robot saja. Sementara pemeran yan dikatakan masih memiliki kendala elementer umumnya memiliki kualitas bagus dalam elemen tertentu namun jelek pada elemen lain. Misalnya, seorang pemeran menyampaikan kalimat dialog dengan tepat namun gerak-gerik tubuhnya kaku atau sebaliknya.

Di sisi lain, metode penyutradaraan mengambil peran yang penting dalam persoalan akting elementer ini. Di dalam konsep teater sutradara, wewenang sutradara atas pemeran sangat besar. Ia bisa menentukan apa yang harus dan tidak boleh dilakukan oleh pemeran. Ia bisa menentukan bentuk ekspresi yang dikehendaki dari setiap karakter yang ada. Ia bisa menentukan langkah-demi langkah yang harus dilakukan oleh pemeran ketika bermain. Intinya, sutradara adalah dewa. Dalam konsep semacam ini, secara alamiah pun pemeran hanya sebagai robot. Jadi kualitas peran yang dihasilkan pun bukan semata-mata menjadi tanggung jawabnya. Misalnya, di dalam sebuah sinetron tersaji voice over (wicrara batin) dari seorang tokoh yang mana pada saat itu ekspresi mata dan bibirnya terkesan berlebihan. Ketika penonon menyatakan bahwa kualitas pemeran tersebut elementer, maka belum tentu sepenuhnya merupakan kesalahan pemeran. Bisa jadi sutradara memang menghendaki demikian dan pemeran harus melakoninya.

Kualitas akting seseorang dapat dikatakan baik jika ia mampu menghadirkan tokoh dengan segenap dimensinya secara natural. Untuk menuju kondisi ideal ini banyak yang mesti ditempuh. Naturalitas atau kewajaran mesti menjadi ukuran utama dalam interpretasi yang sama baik bagi sutradara maupun pemeran. Sebab jika pemeran merasa ekspresi yang sudah dilakukan adalah wajar sementara sutradara menyatakan belum dan mengarahkan pemeran untuk melakukan ekpresi seperti yang ia kehendaki maka kesamaan ukuran dan interpretasi tak terpenuhi. Lebih fatal lagi ketika ukuran ekspresi sutradara sama dengan apa yang tersaji dalam sinetron dan hal itu ia sebut sebagai kewajaran. Tentu saja, ukuran kewajaran menjadi personal sutradara yang belum tentu bisa disebut sebagai kewajaran bagi penonton.

Sementara dari sisi pemeran sendiri, ukuran kewajaran juga tidak sepenuhnya benar. Bisa saja ia mendasari ukurannya pada peran-peran yang pernah ia mainkan atau dari aktor-aktor panggung profesional yang telah ia saksikan. Pengukuran ini dengan sendirinya tidak wajar karena naturalitas itu mesti mewujud dalam peran yang dimainkan saat itu bukan pada masa lalu atau pada apa yang pernah dilihat. Kewajaran yang mesti ditampilkan adalah kewajaran peran bukan kewajaran pemeran. Untuk mencapi hal ini memang sulit namun pemeran mesti melatih tubuh, suara, pikiran dan perasannya dengan tujuan kewajaran peran tersebut agar tidak dikatakan akting elementer.

=== bersambung ===

#WhaniDProject adalah lembaga pelatihan pengembangan diri dan korporasi yg mengambil titik pijak pada psikologi dan keilmuan seni peran dalam teater (psycho theatre). Dua bidang yg ditangani adalah Theatre for Profesional (menangani pelatihan untuk para profesional di bidang masing-masing : komunikasi, public speaking, dll) dan Theatre for Art ( pelatihan calon aktor dan pendalaman materi estetika teater untuk kepentingan sosial kemasyarakatan ). Berdiri 2013, di Yogyakarta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top
%d bloggers like this: