Teater Antara Istilah dan Pengalaman (17)

Oleh: Eko Santosa

16. Termakan Set

Sebuah pertunjukan teater dimulai, lampu penonton dipadamkan, dan layar mulai dibuka pelan-pelan. Lampu panggung juga menyala pelan berbarengan terbukanya layar. Penonton terkesima melihat tata panggung yang megah karena sinaran cahaya yang seolah seirama dengan musik pembuka. Set pertunjukan teater itu benar-benar menakjubkan karena mirip dengan kenyataan. Penonton merasa mereka dihadapkan bukan pada pertunjukan melainkan pada ruang dan waktu dalam kehidupan sesungguhnya.

baca juga : Teater Antara Istilah dan Pengalaman (16)

Selepas pertunjukan, banyak dan bahkan hampir semua penonton menyatakan kekagumannya pada tata panggung pementasan. Komentar miring justru mereka alamatkan pada pemeran yang menurut mereka aktingnya “termakan set”. Penggunaan istilah ini menandakan bahwa penonton tersebut merupakan pelaku teater juga atau orang yang dalam kesehariannya berada dalam lingkungan teater. Istilah “termakan set” merupakan terjemahan dari bahasa Jawa “kepangan seting” darimana istilah tersebut berasal. “Termakan set” umum dijumpai di teater kampus Yogyakarta era 80-an dan 90-an. Penggunaan istilah ini tidak memiliki historis akademis melainkan untuk memudahkan pemahaman bahwa pemeran tidak tampil maksimal dibandingkan kerja tim tata panggung (artistik).

Menjadi persoalan dalam istilah ini adalah bukan maknanya melainkan penggunaannya. Artinya, apakah benar bahwa pemeran “termakan set”, atau memang penonton yang justru kurang mencermati permainan? Untuk menemukan jawaban ini kiranya perlu diamati baik dari sisi penonton maupun dari sisi permainan atau akting pemeran. Pertama perlu ditelisik dari sisi penonton, apakah penonton tersebut memang benar-benar mengetahui maksud dari istilah tersebut atau hanya sekedar ikut-ikutan? Kedua, dari sisi akting pemeran, apakah memang aktingnya kurang optimal atau sebenarnya sudah optimal namun tidak teramati oleh penonton karena keberadaan setnya?

Ditilik dari sisi penonton, meskipun mereka berasal dari kalangan teater akademis atau yang pernah terlibat di dalam produksi teater kampus belum sepenuhnya memahami makna “termakan set”. Penonton yang benar-benar paham akan meletakkan fokus utamanya pada akting pemeran. Fokus ini menjadi penting karena ukuran utamanya bukan pada set. Penonton akan tetap memperhatikan akting pemeran sehingga penilaian yang diberikan dengan memberikan komentar pemeran “termakan set” benar adanya. Ketidakterpengaruhan atas set atau elemen artistik lain pendukung pementasan menandakan bahwa memang penonton tersebut memahami apa itu seni peran. Sementara penonton yang kurang paham akan istilah itu, cenderung menggunakannya dalam konteks perbandingan antara akting pemeran dengan ukuran atau keindahan set yang ada. Padahal jelas sekali dua elemen artistik ini sangat berbeda jadi tidak bisa atau tak setara untuk diperbandingkan.

Dari sisi pemeran, oprtimalitas atau kualitas akting sangat mempengaruhi penilaian ini. Pemeran yang tidak dapat menunjukkan kualitasnya jelas akan “termakan set”. Pemeran tersebut akan terlihat sekedar mengucapkan dialog yang telah dihafal sehingga lakunya tidak terlihat hidup. Jika laku pemain mati, maka ia seolah sama saja dengan benda, dan ketika ia seolah benda maka ia akan dibandingkan dengan benda lain yaitu tata panggung atau set. Pada titik inilah pemeran tersebut sangat bisa “termakan set” atau aktingnya tenggelam oleh tata panggung yang ada. Penonton akan mengarahkan perhatiannya pada tata panggung ketimbang pemeran. Namun demikian ketika seorang pemeran telah menunjukkan kualitasnya akan tetapi penonton masih membandingkannya dengan tata panggung, maka kualitas penontonlah yang patut dipertanyakan. Fokus penonton pada kondisi ini adalah hal-hal lain di luar akting pemeran. Persis seperti penonton film bioskop yang selalu menyalakan hand phone-nya di saat adegan penuh dialog dan baru mematikan layar hand phone-nya ketika adegan action.

Penonton teater secara umum didefiniskan sebagai seseorang yang berniat datang ke gedung pertunjukan untuk menyaksikan pertunjukan teater. Jadi, ketika penonton tersebut datang hanya demi hiburan atau hal-hal lain di luar elemen pokok pertunjukan teater, maka ia dapat diklasifikasi sebagai bukan penonton. Oleh karena itu penentuan target penonton dalam pertunjukan teater sangatlah penting. Bukan kemudian berarti bahwa teater digelar untuk penonton tertentu (khusus), melainkan bahwa penonton teater semestinya adalah orang-orang yang memang ingin menyaksikan pertunjukan teater.

Berdasar pada alasan tersebut, penggunaan istilah “termakan set” yang diperuntukkan bagi pemeran ternyata juga harus diklarifikasi dari sisi penonton juga. Tidak sepenuhnya pemeran tidak bisa melakonkan peran dengan baik tetapi juga latar belakang penonton ketika menggunakan istilah tersebut perlu ditinjau. Tidak semua istilah baik yang ada dalam kamus teater formal maupun lahir secara kultural dipahami sepenuhnya oleh orang-orang yang bergerak dan dekat dengan lingkungan di mana istilah tersebut tumbuh. Seringkali pemaknaan hanya sampai pada kulit sehingga membuat makna asali kabur. Meski begitu, istilah yang dilahirkan hanya bisa bertahan jika seringkali digunakan, bahkan ketika penggunaanya tidak sepenuhnya benar. Jadi, apakah pemeran yang berperan secara kurang baik di dalam pertunjukan teater yang memiliki tata panggung megah akan selalu disebut “termakan set”? Mungkin Anda memiliki jawaban sendiri untuk ini.

==== bersambung====

#WhaniDProject adalah lembaga pelatihan pengembangan diri dan korporasi yg mengambil titik pijak pada psikologi dan keilmuan seni peran dalam teater (psycho theatre). Dua bidang yg ditangani adalah Theatre for Profesional (menangani pelatihan untuk para profesional di bidang masing-masing : komunikasi, public speaking, dll) dan Theatre for Art ( pelatihan calon aktor dan pendalaman materi estetika teater untuk kepentingan sosial kemasyarakatan ). Berdiri 2013, di Yogyakarta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top
%d bloggers like this: