Teater Antara Istilah Dan Pengalaman (18)

thumbnail

Oleh: Eko Santosa

17. Roh dan Energi

Proses pementasan teater selalu melalui tahapan penuh liku. Mulai dari naskah diterima, dianalisis, dihafalkan, dilatihkan hingga dipentaskan. Bahkan dalam setiap tahapan ada problematikanya tersendiri. Ketika pada akhirnya dipentaskan, tidak serta-merta apa yang telah dilatihkan dengan sangat baik misalnya, akan menghasilkan pementasan yang baik pula. Masih terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi berhasil tidaknya pertunjukan tersebut di luar yang dilatihkan. Proses pementasan teater karenanya selalu memiliki kisah tersendiri yang mungkin mengharu-biru dan membuat terkenang atau bahkan mungkin sengaja ingin dilupakan.

baca juga : Teater Antara Istilah Dan Pengalaman (17)

Keberhasilan sebuah pementasan teater pun terkadang masih melahirkan kekurangan atau kegelisahan. Hal ini biasanya muncul bukan dari tampilan pertunjukan secara umum, melainkan dari elemen-elemen artistik yang terlibat di dalamnya. Seorang pemeran yang berperan dengan baik misalnya, masih harus menghadapi problem atas kualitas tampilannya. Seringkali terdengar komentar yang mengatakan bahwa para pemeran telah berperan dengan baik namun roh lakon tidak tertangkap. Ada pula komentar yang mengatakan bahwa seorang pemeran telah berperan baik namun energinya kurang. Komentar-komentar semacam ini membuat pekerjaan dan beban aktor teater terlihat lebih berat. Banyak hal yang mesti dipertimbangkan, banyak hal yang mesti dilakoni, internal dan eksternal.

Kata “roh” seringkali masuk ke jantung-jantung teater, utamanya pada generasi pendahulu di mana mementaskan teater setara dengan perjuangan ideologi. Karena begitu berartinya sebuah pementasan teater, maka segala aspek yang terlibat di dalamnya mesti diperhitungkan dengan matang. “Roh” adalah penanda kesungguhan dalam mempertahankan ideologi. “Roh” juga bisa menjadi penanda bahwa teater sesungguhnya adalah kehidupan yang dayanya bersumber dari lakon yang dituliskan. Tokoh-tokoh yang ada di dalam lakon harus diwujudkan ke dalam kehidupan dan panggung adalah dunianya. Dari konsep semacam inilah lahir prosesi atau tahapan-tahapan latihan khusus yang mesti dilakukan aktor untuk menangkap “roh” tokoh yang akan diperankan. Dari konsep ini pulalah, laku khusus sutradara perlu dilakukan untuk menangkap “roh” lakon yang akan dipentaskan.

Di dalam kacamata teater akademis, “roh” dapat dipahami sebagai pesan lakon yang disampaikan melalui laku aksi para tokoh dan didukung tata artistik pementasan. Memahami pesan lakon dengan demikian menjadi tujuan utama ketika kerja analisis dilakukan. Pesan yang juga disebut sebagai “objective” dalam kacamata Stanislavski adalah pendorong keseluruhan laku aksi pemeran di atas pentas. Segala tata dan gerak yang ada di atas panggung didorong oleh “objective”. Para pelaku teater akademis seringkali mengatakan bahwa setiap aksi pemeran sekecil apapun itu harus memiliki motif dan motif ini secara mendasar bersumber dari “objective” atau pesan.

Perbedaan pemaknaan dasar antara “roh” dan pesan lakon atau “objective”  sebenarnya tidak terlalu menjadi masalah karena keduanya mengarah pada kualitas yang sama yaitu mementaskan teater dengan sungguh-sungguh. Karena hanya dengan kesungguhanlah teater yang disajikan di atas pangung nampak seperti kehidupan sebenarnya yang mana peristiwanya mengharu-biru perasaan penonton. Teater dikatakan kehilangan atau tidak bisa menangkap “roh” lakon, termasuk pemeran tidak bisa menangkap roh “tokoh” adalah ungkapan dalam kapasitas untuk menilai intensitas. Karena durasinya yang cukup panjang, terkadang teater atau pemeran dalam adegan atau bagian tertentu terlihat kurang intens. Meski hanya pada adegan atau bagaian tertentu namun tetap saja dianggap sebagai kekurangan. Hal inilah yang tidak terlihat oleh penonton awam namun teramati oleh penikmat teater.

Membicarakan mengenai “roh” di dalam percaturan teater juga tidak lepas dari “energi”, keduanya seolah saling berhubungan meskipun berbeda secara prinsip. Aktor yang dikatakan kurang memiliki energi tidak berkaitan dengan interpretasi atau gaya akting yang ia tampilkan melainkan pada tenaga yang ia gunakan saat berekspresi. Di dalam teater, ekspresi selalu mengait antara emosi, situasi, dan kondisi. Ketiga hal ini mesti menyatu dalam sebuah ekspresi. Ketika elemen emosi dirasakan kurang sementara situasi dan kondisinya pas, maka aktor tersebut dapat dikatakan kurang berenergi. Namun ketika emosinya tepat sementara situasi dan kondisi kurang mendukung, maka aktor tersebut dapat dikatakan mengeluarkan energi berlebih.

Poin penting lainnya yang mempengaruhi penilaian akan “energi” ini adalah pemeran lain yang menjadi bagian dari situasi dan kondisi. Akting selalu berhubungan denga aksi-reaksi. Kualitas aksi dipengaruhi oleh kesesuaian reaksi. Aktor yang dikatakan kelebihan takaran energi bisa jadi bukan karena dia memang memberikan energi berlebih melainkan reaksi yang dilakukan lawan main kurang memadai. Demikian juga sebaliknya ketika energinya dikatakan kurang. Konsepsi aksi-reaksi ini harus dipahami pemeran karena  bagaimanapun juga ia tidak tampil sendirian di atas panggung. Di sisi lain, penonton pun harus memahami hal ini sehingga melihat akting seorang aktor secara menyeluruh dalam konteks aksi dan reaksi.

(**)

#WhaniDProject adalah lembaga pelatihan pengembangan diri dan korporasi yg mengambil titik pijak pada psikologi dan keilmuan seni peran dalam teater (psycho theatre). Dua bidang yg ditangani adalah Theatre for Profesional (menangani pelatihan untuk para profesional di bidang masing-masing : komunikasi, public speaking, dll) dan Theatre for Art ( pelatihan calon aktor dan pendalaman materi estetika teater untuk kepentingan sosial kemasyarakatan ). Berdiri 2013, di Yogyakarta.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back To Top
%d bloggers like this: