Eduteater

Teater Antara Istilah dan Pengalaman (2)

Oleh: Eko Santosa

2. style dan bisnis akting

Grand style dipahami sebagai gaya akting yang besar (agung) karenanya anggun dan menawan. Keagungan gaya ini sudah telah lama membudaya utamanya dalam teater presentasional. Cerita yang berpusat pada kerajaan atau istana dengan sendirinya mensyaratkan gaya-gaya tertentu dalam berbicara dan bertindak berkait dengan tata krama kehidupan lingkungan istana. Seseorang tidak bisa berbicara, menyela pembicaraan atau berdebat dengan gestur tubuh bebas sekenanya. Semua sudah diatur, apalagi ketika adegannya berada di dalam dinding kerajaan. Bahkan tokoh-tokoh lakon bergelar bangasawan atau pejabat selain rakyat tidak bisa bebas bergaya ketika berada di hadapan publik. Keteraturan gaya yang mewujud dalam langkah, gerak tangan, posisi tubuh, dan wicara inilah yang disebut sebagai grand stye, gaya yang agung.

baca juga : Teater Antara Istilah Dan Pengalaman (1)

Kemenarikan gaya ini memang tidak diragukan lagi seiring dengan eksistensi teater presentasional. Bahkan di beberapa daerah, grand style telah membudaya sehingga hanya gaya ini lah yang digunakan meskipun gaya dan konsep teater yang ditampilkan tidak tergolong ke dalam presentasional. Kondisi ini mengakibatkan terbentuknya pose, gestur, dan gestikulasi pemeran ketika berbicara atau beraksi dalam pementasan. Karena itu pula, maka frasa “membentuk pemain” dalam proses berlatih peran menjadi satu hal yang wajar. Di dalam budaya kehidupan kerajaan, sikap atau tata krama memang harus dibentuk dan ini benar. Demikian pula halnya dalam teater presentasional yang menampilkan cerita kerajaan pasti sikap juga perlu dibentuk, dan ini juga benar. Akan tetapi di dalam teater realis misalnya, yang menampilkan penggal kehidupan nyata di atas pentas, pembentukan ekspresi menjadi kurang tepat. Setiap orang dalam kehidupan nyata memiliki gaya dan ekspresinya masing-masing sehingga jelas tidak bisa dibentuk atau diseragamkan.

Meskipun demikian, pemahaman perbedaan dan penerapan gaya akting grand dengan realis tidak mudah didapatkan. Lagi-lagi karena pesona gaya grand dan teater presentasional yang membudaya. Yang menjadi problem utama terkait hal ini tentu saja adalah ukuran estetik yang mesti dicapai. Karena tidak semua gaya teater dapat diperankan dengan akting grand style, maka penerapannya ke dalam gaya teater non-presentasional akan mengaburkan konsep estetik. Artinya, teater realis tidak akan terlihat realis, demikian juga dengan gaya teater lainnya. Bahkan, pemeran yang telah terbiasa dengan grand style pun akan mengalami kesulitan dalam menerapkan gaya akting realis. Pemeran tersebut perlu melakukan latihan dengan pendekatan baru dalam kurun waktu tertentu. Namun, pengalaman menyatakan, para penerap grand style akan menganggap bahwa grand style merupakan ukuran estetik. Kepelikan pemahaman ini selalu berkelit-kelindan dengan perkembangan teater kecuali di kota-kota besar di mana kreasi teater modern terus tumbuh.

Hal yang sama juga terjadi pada “bisnis akting”, sebuah aksi tubuh atau ekspresi wajah ketika seorang pemeran berbicara, bertindak atau merespon aksi lawan mainnya. Istilah “bisnis akting” sebenarnya berkait dengan karir dan segala urusan bisnis yang berhubungan dengan akting dan aktor. Akan tetapi istilah ini seringkali digunakan untuk mengarahkan pemeran dalam berperan. Salah kaprah ini berjalan cukup lama dan menjadi pengalaman tersendiri bagi calon aktor dalam masa tertentu. Di kota besar seperti Yogyakarta misalnya, penggunaan istilah ini cukup massif dalam tahun 90-an.

Prinsip pokok dalam “bisnis akting” adalah ekspresi anggota tubuh. Pada saat pemeran berbicara, utamanya, ia mesti menggunakan gerak anggota tubuhnya untuk akting. Bisnis akting yang baik, menurut ukuran ini, adalah gerak tubuh yang tepat dengan ekspresi dialog. Sampai di sini pandangan atau konsep ini bisa dibenarkan namun seringkali terdengar kalimat, “aktor tersebut sesungguhnya baik tapi bisnis aktingnya kurang”. Di dalam kalimat ini kata “kurang” seolah merujuk pada kuantitas, sementara “bisnis akting” dimaksudkan untuk mencapai kualitas. Memang benar bahwa di dalam praktiknya, bisnis akting seringkali mengacu pada kuantitas. Gerak-gerik tangan, kaki, kepala, dan badan mesti dilakukan ketika pemeran berbicara atau memberi tanggapan lawan bicara meskipun tanggapan tersebut tanpa dialog. Hasil akhir dari pemahaman ini adalah gerak-gerik yang tidak tepat atau dibuat-buat. Mungkin maksudnya ingin memperkuat atau mempertegas makna dialog namun jika dilakukan terlalu banyak justru akan mengurangi ketegasan. Seperti di dalam sebuah adegan di mana banyak orang berkumpul mendengarkan pidato di mana orang-orang tersebut mengangguk-anggukkan kepala dengan berbagai gaya untuk menegaskan bahwa mereka memahami isi pidato karena penting. Dalam satu saat tertentu, anggukan kepala orang-orang ini penting dan berarti, namun jika dilakukan terlalu sering maka justru akan membuat pidato tersebut lemah karena orang-orang menganggukkan kepala dengan dibuat-buat. Sementara itu, jika dilitik dalam kehidupan nyata banyak kita dapati orang-orang yang diam memaku memfokuskan matanya ketika mendengar pidato penting. Dengan pemaknaan semacam ini “bisnis akting” menjadi keliru.

Seperti halnya grand style, salah-kaprah “bisnis akting” dimulai sejak pelahiran istilah hingga penerapannya. Calon pemeran yang tumbuh dengan budaya ini sulit menghilangkan gerak-gerik tubuhnya ketika berdialog meskipun hal itu terlihat klise dan diulang-ulang. Karakter berkumis dan berjanggut selalu akan mengelus kumis dan janggutnya ketika berbicara, perempuan kaya selalu akan menggerakkan kipasnya, satu tangan masuk ke saku dan tangan lain menari-nari di udara, memainkan jari jemari ketika berbicara, dan masih banyak gerak-gerik lain yang dijumpai di atas panggung. Semua itu dilakukan untuk mempertegas karakter, memperkaya ekspresi, dan menguatkan makna dialog. Namun tidak jarang juga yang terjadi adalah kebalikannya. Jadi, seorang pemeran mesti bijaksana dalam menerapkan gaya ketika bermain.

==== bersambung ====

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.