Eduteater

Teater Antara Istilah Dan Pengalaman (3)

Oleh: Eko Santosa

3. Prep dan konsentrasi

Para pemain duduk bersila melingkar. Dengan dipimpin oleh sutradara atau pelatih mereka melakukan tarik-hembus nafas berbarengan dengan instruksi-instruksi tertentu. Fokus dalam pikiran dibangun untuk memasuki dunia karakter yang akan dimainkan atau kerja yang akan dilakukan. Kondisi ini berlangsung sebelum pementasan atau latihan dimulai. Secara umum pelaku teater menyebutnya sebagai “prep” atau persiapan yang kemungkinan besar diambil dari kata dalam bahasa Inggris preparation. Model duduk melingkar dalam konsep “prep” ini mungkin sampai hari ini masih bisa ditemui. Bisa jadi istilah yang digunakan pun telah berubah, bisa jadi masih pula tetap.

baca juga : Teater Antara Istilah Dan Pengalaman (2)

“Prep” merupakan hal penting yang mesti dilakukan oleh pemeran dan menjadi semacam ritual khusus. Formulasinya pun hampir sama antara kelompok satu dengan yang lain di mana pernafasan dan pemusatan pikiran menjadi kata kunci. Hal yang lebih memesona lagi selain ritual adalah bahwasanya “prep” menjadi penanda modern atau tidaknya kelompok tersebut. Mungkin terkesan lucu dan aneh namun memang demikian adanya mengingat kelompok teater tradisional tidak menggunakan “prep” semacam ini.

Apakah jika tidak melakukan “prep” seperti halnya teater modern kemudian para pemain teater tradisional tidal memiliki teknik persiapan diri? Tentu saja mereka punya, namun persiapan yang dilakukan lebih mempribadi. Antara pemain satu dengan yang lain berbeda dan biasanya bersifat fungsional. Pemeran prajurit yang akan melakukan adegan laga pasti mempersiapkan dirinya dengan latihan-latihan komposisi laga sebelum pementasan atau adegan dilakukan. Ada pemeran yang mempersiapkan dirinya ketika mulai berias dan berbusana. Ada pemeran yang justru merileksasi diri dengan aktivitas ringan yang tak terhubung langsung dengan peran yang akan dilakukan. Ada pula pemeran yang bermain secara ansambel mencoba kembali membincangkan kemungkinkan adegan yang akan mereka lakukan. Para pemeran tersebut merencanakan menyepakati rencana tindakan dalam adegan. Intinya berbagai macam cara atau aktivitas dilakukan oleh pemeran teater tradisional dalam mempersiapkan diri tanpa melalui ritual “prep” seperti halnya kelompok teater modern. Ritual terpenting dalam teater tradisional, ketoprak misalnya, adalah “penuangan” di mana pengarah memetakan peran dan menjabarkan cerita adegan demi adegan yang akan dimainkan. Pada tahap inilah segala hal yang penting untuk dipahami ditanyakan oleh pemeran kepada pengarah. Sesi “penuangan” ini merupakan sesi persiapan umum bagi seluruh pemeran dan selanjutnya adalah tanggung jawab personal pemeran dalam menyiapkan dirinya.

Persiapan pemeran sebelum pementasan pada dasarnya adalah membangun konsentrasi pemeran menuju pemeranan. Artinya, persiapan tersebut lebih bersifat pribadi karena memang pemeran tersebutlah yang akan memainkan peran tertentu, dan bukan pemeran yang lain. Model “prep” atau pun persiapan seperti yang dilakukan oleh teater tradisional sama sekali tidak bisa dijadikan ukuran yang mana lebih baik atau lebih tepat. Konsentrasi pemeran hanya bisa dibangun oleh dirinya sendiri dengan cara senyaman mungkin yang bisa dilakukannya. Ada pemeran yang melakukan yoga, ada yang melakukan olah tubuh ringan, ada yang berjalan mondar-mandir sambil mengucapkan baris-baris kalimat dialog, ada yang mengatur pernafasan atau bahkan ada yang tiduran, mengistirahatkan tubuhnya. Intinya, konsentrasi tidak bisa dipaksakan. Konsentrasi dalam konteks persiapan pementasan bagi pemeran adalah menghilangkan segala hambatan dan ketegangan. Pemeran yang tegang jelas tidak akan bisa memainkan peran dengan baik sejak langkah pertama masuk ke panggung. Ia memerlukan beberapa saat untuk beradaptasi sekaligus mengatasi ketegangannya. Sementara karakter yang ia mainkan semestinya telah terbangun bahkan sebelum layar dibuka.

Meski demikian, pengalaman-pengalaman dalam teater seringkali memperlihatkan bahwa “prep” menjadi keharusan. Seorang pemeran seolah-olah harus bisa membangun konsentrasi dalam aktivitas tersebut. Beberapa pemeran memang bisa membangun konsentrasi dengan cara semacam ini, namun beberapa justru merasa terpaksa hingga malah melahirkan ketegangan. Konsentrasi bersama model “prep” memerlukan kecendekiaan pengarah dalam memberikan instruksi selama aktivitas berlangsung. Artinya, tidak semua pengarah mampu memberikan instruksi dengan baik dan sesuai dalam kegiatan “prep”. Memberikan satu instruksi untuk banyak orang yang berbeda watak dan peran yang akan dimainkan tidaklah mudah. Pilihan kata atau kalimat yang diucapkan pun mesti dipertimbangkan. Silap lidah atau kesalahan kata justru akan membuyarkan konsentrasi yang semestinya dibangun. Oleh karena itu, persiapan pemeran dalam menghadapi pementasan mesti disikapi dengan bijak. Tanpa kebijaksanaan, persiapan yang mengarah pada konsentrasi justru sulit dicapai karena kesadaran hanya bisa dicapai melalui kebijaksanaan dan konsentrasi pada intinya adalah membangun kesadaran, bukan melupakannya.

==== bersambung ====

One thought on “Teater Antara Istilah Dan Pengalaman (3)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.