Eduteater

Teater Antara Istilah dan Pengalaman (4)

Oleh: Eko Santosa

4. Intens dan total

Beberapa orang penonton terlibat diskusi selepas pementasan teater. Salah satu orang mengatakan, “Wah, pemeran raja tadi mainnya benar-benar bagus, intens”. Orang yang lain menimpali, “Kalau aku lebih senang pada panglima, ia tampil sangat total”. Dua kata “intens” dan “total” seringkali terdengar baik dalam proses maupun pementasan. Istilah “intens” digunakan untuk menjelaskan bahwa pemeranan yang dilakukan kuat, bersemangat, dan emosional. Sementara “total” digunakan untuk menjelaskan bahwa pemeran benar-benar meluruhkan dirinya dalam karakter yang diperankan. Ia menumpahkan seluruh kemampuan pikiran, rasa, termasuk tubuhnya dalam memerankan karakter. Kedua istilah tersebut dialamatkan kepada pemeran yang berperan dengan sungguh-sungguh.

baca juga : Teater Antara Istilah dan Pengalaman (3)

Kesungguhan umumnya merupakan keseriusan yang lebih dikaitkan dengan “intens”. Tentu saja hal ini berkait dengan fokus peran yang dilakukan oleh pemeran. Seorang pemeran dikatakan intens ketika ia dianggap benar-benar menghayati karakter yang diperankan. Kualitas ini akan menghantarkan si pemeran ke dalam dunia seni akting dan mendapat julukan pemeran watak. Kondisi yang hampir sama dengan ”total” di mana salah satu perbedaan dasarnya terletak pada sisi dalam dan luar pemeran. “Intens” digunakan untuk menyebut kualitas penjiwaan sedangkan “total” lebih berkait dengan laku fisik. Kedua kata ini di dalam pengalaman-pengalaman teater juga sering mengalami pendangkalan. Artinya, penyebutan “intens” dan atau “total” seringkali tidak menggambarkan kualitas yang sesungguhnya.

Banyak orang yang, termasuk pemula teater, mudah melabeli seorang pemeran dengan kata “intens” hanya karena pemeran tersebut suntuk dengan karakter yang diperankan. Dalam konteks keseriusan boleh disebut demikian, namun dalam konteks pemeranan teater, “intens” tidak hanya menyangkut diri pemeran dan karakter yang diperankannya saja. Di dalam pementasan teater, seorang pemeran kuranglah bijak jika hanya memperhatikan diri sendiri atau mengutamakan penampilan dirinya saja. Pemeranan di dalam teater adalah kerja ansambel. Satu karakter di dalam sebuah pementasan itu berdiri sendiri sekaligus berada, bergantung, berpengaruh, dan terhubung dengan karakter lainnya. Pemeranan yang kuat, bersemangat, dan emosional atau penuh penghayatan itu juga dinilai berdasarkan kualitas hubungan dengan karakter lain dan elemen artistik yang melingkupi. Tidak pas kiranya menyebut seorang pemeran berperan secara “intens” sementara ia memberikan respon yang sama persis dengan yang dilatihkan meski tampilan aksi lawan main berbeda dari yang dilatihkan. Tidak elok, “intens” disandangkan ketika pemeran tidak tahu mesti bagaimana mengatasai kendala teknis yang terjadi pada lawan mainnya. “Intens” yang menggambarkan usaha keras pemeran memasuki karakter dalam sebuah lakon kemudian dimaknai sebagai keseriusan seorang pemeran memainkan karakter tersebut dalam persendirian.

“Total” dalam perkembangan penerapannya pun berhenti pada penggunaan instrumen fisik pemeran. Ketika seorang pemeran mau berlatih dan mendalami silat, belajar akrobat, kemana-mana menggunakan kursi roda demi melakoni karakter yang akan diperankan disebut sebagai pemeran yang total. Keadaan ini juga merujuk pada durasi dan kuantitas proses latihan yang dilakoni. Di dalam pengalaman berteater, banyak ditemui pemeran pemula yang karena begitu semangatnya, mungkin juga karena dorongan pelatih, melakukan latihan tanpa kenal waktu. Pemeran tersebut bukannya sadar bahwa apa yang ia lakukan kurang benar melainkan justru bangga karena dilabeli sebagai pemeran yang “total”. Sementara jelas dipahami bahwa latihan tak kenal waktu justru menganggu fisik dan psikologi pemeran jauh sebelum memainkan peran. Fisik dan psikologi seseorang memiliki keterbatasan oleh karena itu pola latihan fisik mesti terukur. Klub sepakbola profesional misalnya, sangat memperhatikan hal ini sehingga format latihan fisik benar-benar dirancang dengan baik bahkan alat-alat yang digunakan sudah didigitalisasi sehingga kondisi kebugaran tubuh terdeteksi dengan baik. Kebugaran tentu saja mempengaruhi psikologi seseorang. Dengan demikian, “total” meskipun mengait soal fisik namun sebenarnya juga bersangukan dengan kejiwaan.

Konsep “total” ini pernah teliti dan diterapkan oleh Growtosky melalui teater miskin. Dalam konsep ini, kondisi total bisa dicapai dengan model latihan via negativa dan conjunctio oppositorum (koneksi antara hal-hal yang berlawanan). Model latihan tersebut meski terlihat fisik namun sesungguhnya membongkar hambatan-hambatan dalam diri pemeran dalam berperan. Akhirnya aksi fisik yang dilakukan oleh pemeran ketika berperan benar-benar natural karena bebas dari segala hambatan dalam berekspresi. Secara garis besar, apa yang disebut “total” oleh Growtosky secara otomatis juga memuat makna “intens” di dalamnya. Tujuan akhir dari latihan-latihan ini jelas tidak dalam rangka persendirian (untuk kepentingan pemeran dengan karakter yang diperankan semata) melainkan untuk pementasan lakon secara menyeluruh. “Total” dan “intens” yang seringkali juga disebut dengan “totalitas” dan “intensitas” dalam berperan dengan demikian tidak hanya mengukur kualitas seorang pemeran secara mandiri melainkan karakter yang diperankannya secara ansambel. Tidak ada gunanya berperan dengan “total” dan “intens” ketika kerja ansambel yang dilakukan tidak harmonis.

===bersambung===

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.